Jumat, 18 Oktober 2019

Tentang Kriteria Pasangan Part Akhir- Lalu Aku Menjaga Jarak dan Mundur Teratur

Aku sudah lama tidak meyakini bahwa April adalah bulan kebohongan. Nyatanya, April 2009 silam tetap menjadi sebuah bulan kejutan. Sebuah akun media sosial yang melampirkan foto profil dirimu yang mengenakan baju SMA, memohon pertemanan dengan diriku. Tentu saja jariku menekan pilihan 'terima'.

Dalam peralihan April menuju Mei, sering ku dengar cerita tentang kekasih hatimu. Kau begitu merindukan ia yang berbadan tambun dan berambut jabrik itu, yang terpisah jarak antar pulau. Betapa sering pula kau puji dirinya meskipun sedang bertengkar dengannya. 

Pertengahan Mei, kau bersedih. Kekasihmu beralih jadi masa lalu: ia menutup ruang untuk dirimu. Lalu kau minta nomor teleponku. Tentu saja kuberikan. Namun tak ada rasa bergemuruh dalam hatiku, sekalipun kau mengirimkan dering teleponmu terlebih dahulu. Malam itu, engkau ungkapkan beberapa kekesalan dan kerinduan akan dirinya yang mengambil keputusan tergesa-gesa. 

Di suatu sore bulan Juni, hujan turun. Kau menelpon diriku kembali, meminta agar menjemputmu di sebuah hotel. Aku tak percaya bahwa begitu cepat kau mempercayaiku saat terdampar di Bandung. Ya, kau bingung mencari arah di dalam kota yang belum pernah dijamah. Teman kenalanmu menelantarkan dan tak bisa lagi dihubungi, membuatmu kesal tak karuan. 

Kuhubungi satu persatu teman wanitaku, adakah kost-an mereka yang masih  untuk disinggahi seorang wanita yang bingung mencari arah? Akhirnya Florence, temanku menyetujui, kuantar dia untuk singgah di sana. Saat itu, aku sedang menjalani persiapan ujian akhir semester kalkulus. Kau berjanji untuk tidak merecoki Florence. 

Sesudah ujian dilaksanakan, aku menjemputmu di siang hari. Kau bersiap kembali ke ibukota, tempatmu berasal. Sebelum moda angkutan siap membawamu, aku mengambil potret berdua denganmu. Sungguh suatu kesempatan yang tercipta dalam sempitnya waktu. 

Hari-hari sepanjang bulan Juni, sesering mungkin kita saling bertelepon. Hingga tiba waktunya, aku mengungkapkan perasaan padamu. Kau terkejut, tapi tak menjawab apapun, lebih memilih untuk membahas topik lain. Lalu kau memintaku menjemput dirimu yang hendak melaksanakan ujian di universitas padjajaran. Psikologi adalah bidang studi impianmu. 

Setelah aku menjemputmu, sepanjang jalan menuju Jatinangor kita saling bertukar cerita. Tapi kau tak kunjung mengangkat tema tentang kalimat pamungkas yang terucap beberapa malam silam. Kau sedang ujian, aku coba menahan diri. Malam tiba, aku mengantarmu untuk menginap di sebuah hotel melati yang bertarif murah. 

Esok harinya, aku mulai dihinggapi keraguan atas perasaanku terhadapnya. Apakah memang rasa ini nyata adanya atau hanya sepintas karena kurasakan ruang kosong yang ada antara kita? Kau meminta untuk kembali ke Jakarta. Entah mengapa, memang tak hendak dirimu mengangkat tanggapan tentang ungkapan perasaan beberapa malam silam. Sampai-sampai, ketika moda siap mengangkutmu, kau lebih asyik menelpon orang lain. 

Naas, kartu tanda pendudukmu tertinggal di hotel melati, sementara badanmu sudah di Jakarta. Kaupun memintaku mengembalikannya. Tentu saja karena aku kesal, ku minta kurir kiriman kilat untuk menagih pembayaran pada penerima paket. Aku sudah mengubur dalam-dalam rasa terhadapmu, setelah kau memilih larut dalam percakapanmu dengan orang lain. 

Tiga bulan berselang, kau menjadi mahasiswa Atma Jaya sementara aku beralih jadi tingkat dua. Kau terus membanjiri ruang dialog yahoochat untuk mengobrol denganku. Sesekali kau penasaran tentang apa yang terjadi sehingga aku menulis status yahoochat "demikian, demikian."

Suatu malam, kau mengkritik pembawaan diriku. Kau berpesan bahwa bahasaku kaku seperti bapak-bapak, tak sesuai dengan usiaku. Kau cemas akan diriku yang dianggap aneh oleh teman sekitarku. Sampai-sampai, kau mengakui: "Penampilanmu menarik dan kamu cukup rupawan, Brian. Semestinya kamu layak atas seorang wanita yang mungkin melebihi diriku." 

Wow. Gumamku dalam hati. Mengapa kau demikian peduli setelah lama kau tak lantas tanggap dengan perhatian yang ku berikan. 

Tapi aku tak menggubrisnya dengan serius. Tak kusangka semudah ini mengendalikan hati untuk tenggelam dalam perasaan yang serius. Ku jawab saja pesan panjang itu seadanya, tentang kepuasan menjadi diri sendiri. Barangkali, ketika masa itu kebutuhan untuk beraktualisasi diri lebih penting dari sekedar kebutuhan asmara. 

Tak lama, kau pun resmi bersanding dengan pria lain. Teman seangkatan lain kampus. Aku cuma mengucap selamat, tanpa secuil kerikil pun yang mengusik dinding-dinding hati. Kadang, memang cara memaknai kesibukan membuat perubahan dalam cara memandang dunia. 

Barangkali, memang pubertas punya masa kadaluarsanya. Tepat setelah dengan mudah aku menemukan jawaban saat menguji perasaan yang muncul dari diri sendiri. 

Kau menikah terlebih dahulu, aku hanya mengangguk "oke". Kau punya anak lebih cepat dua tahun dariku, aku tak mengapa. Aku doakan engkau jadi ibu yang baik dan bisa membimbing putrimu. 

Tayangan cinta monyet ada masa kadaluarsanya. Beberapa kesibukan dan pelaksanaan cita-cita bisa jadi berperan besar dalam merubah arah otak. Semula mungkin hanya terpikir cinta monyet, tiba-tiba merasa bahwa wisata menuju rumah KingKong lebih istimewa. KingKong kini pergi ke Hong Kong untuk bermain pingpong dalam tong, sambil menonton tayangan PinkFong "baby shark du du du du". 

Menjelajahi Tanah Karamah Sang Nabi-Sebuah Feature Arab Saudi

Berhubung artikel akan dipublish di ngodop.com, akan segera ganti dengan feature Arab Saudi
#One Day One Post
#Tantangan ke-6
#Featureumrah
#ArabSaudi
#Mekkah
#Madinah
#BukitJabalRahmah
#Sarangnaga







Kamis, 17 Oktober 2019

Tentang Kriteria Pasangan (Part-2) : Maafkan Dering Teleponku yang Jahil

Di masa  putih abu, kuingat sesekali tetangga dekat rumah  memanggil namaku. Mereka adalah para mahasiswi dari beragam jurusan yang sudah memesan ruang kos di rumah Pak R, salah satu sesepuh di komplek perumahan. Setiap kali hendak ke masjid, sesekali mereka menyapaku langsung.

Halo Brian!

Halo Brian!

Halo Brian!

Awalnya aku mencoba untuk tidak peduli. Tetapi, hasrat pubertas memaksa diri untuk kenalan dengan mereka. Maklum, teman-teman sekolahku sudah memiliki pasangan, meskipun usia masih di angka belasan. Aku tidak berpikir panjang, berharap salah satu dari para mahasiswi itu bisa menjadi pacarku.

Lalu sosokmu, yang ada diantara mereka, menumbuhkan benih dalam diriku. Alismu yang tebal, matamu yang besar, hidungmu yang mungil, dan tubuh langsing yang lincah. Aku tak tahu mengapa lobus complex dalam susunan otakku paling menggambar ulang sosok dirimu. Diam-diam, aku mulai berharap bisa mendapat lebih dari sekedar sapaan hangat.

Ketika kau mengajakku lari pagi bersama, jantungku berdetak lebih kencang dari klakson taksi. Tentu saja mataku langsung terbuka sebelum matahari benar-benar berdiri gagah di ufuk timur. Mengencangkan sepatu, merapikan penampilan, hingga menggosok gigi adalah serangkaian usaha yang dikerahkan untuk memberi kesan pertama terbaik pagi itu. Lalu, kita berlari sepanjang Antapani menuju Gedung Sate. Kita lapar, aku pun membelikan nasi goreng untuk kita berdua.

Beberapa bulan berselang, kau ingin meminjam uang. Tentu saja ku berikan tanpa pikir panjang.

Apa sih yang nggak buat kamu

Kau pun berjanji akan mengembalikkannya dua minggu kemudian.  Aku sudah menandai tanggal-tanggal tersebut dalam buku catatanku. Ku sempatkan pula untuk membeli mawar putih, untuk persiapan melancarkan kalimat pamungkas itu. Lalu kita berjanji untuk tatap muka di kedai kopi dekat masjid. Saat itu, kita sedang memakai baju santai seadanya. Aku sedang libur sekolah saat itu.

Sore itu, kunyatakan saja kalimat pamungkas itu. Kau tak sendirian, ditemani sepupumu. Sepupumu berceloteh, bahwa momentum itu sepatutnya diabadikan dalam kamera. Aku langsung memberikan pilihan tentang apa yang harus dilakukan saat menolak dan yang bisa dipilih untuk menyatakan terima. Lalu kau menjawab, minta waktu untuk berpikir.

Selama tiga minggu, aku sempatkan untuk menelponmu. Kau selalu bilang, belum punya jawaban. Lantaran aku merasa bahwa memberikan banyak ruang untuk berpikir adalah sebuah kebaikan, tak ada pertanyaan heran ataupun permintaan lebih saat dirimu mengajukan demikian. Suatu sore, engkau berpesan cukup panjang:

"Mohon maaf aku sudah bertanya pada orang tuaku. Orang tuaku ingin pria yang serius. Aku berharap kalau memang kita jodoh, takkan ada yang memisahkan kita. Tapi untuk saat ini, mohon maaf aku belum bisa."

Aku anggap saat itu engkau hanya menunda. Menunggu aku siap. Menunggu aku matang sebagai manusia. Tetapi, saat tahun 2007 beralih menjadi 2008, bibi penunggu lapangan badminton mengabarkan kabar yang cukup pahit mengenai dirimu.  Dia bilang, engkau sudah dipinang seorang pengusaha yang usianya lebih tua.

Aku kecewa, tapi tak hendak luapkan semua itu dengan amarah atau kegalauan. Aku sudah punya fokus untuk selesaikan ujian akhir nasional. Tak ada waktu untuk tenggelam dalam sakit hati.
Dengan menguras keringat ataupun memeras pikiran demi segudang rumus lebih dari cukup untuk mengubur kenangan tentang dirimu. Aku takkan mengganggumu, begitu bunyi sumpah dalam diam.

Setahun berselang, aku masih memandangi nomormu yang tersimpan di telepon genggam biru putih. Karena ruang penyimpanan terbatas, ku coba menghubungi setiap nomor yang ada dalam telepon. Kau pun menjawab, saat nomormu kutekan.  "

"Halo"

Aku berpura-pura mencari yang lain dalam telepon itu, menyebut nama orang yang sebenarnya tak betul-betul dituju. Ternyata masih suaramu yang berada di balik nomor itu. Aku terhenyak, berharap tak melakukan panggilan telepon itu.

Di suatu sore yang berhujan, aku mengurung diri. Kembali ku tekan nomormu. Kau menjawab, lalu ku mulai pembicaraan dengan mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Bahwa aku merindukan kabarmu, serta perjalanan hidup setelah kita menjalani pilihan masing-masing. Aku tak melupakan tanggapanmu hari itu.

"Terima kasih sudah menelpon. Aku baik-baik saja. Sekarang aku bahagia, dan bayi di perutku sudah delapan bulan. Tak ada halangan atau rasa sakit berarti ketika menyetir, sungguh kehamilan yang melegakan. Aku doakan semoga kamu sukses. Assalamu alaikum. "

Kuakhiri pembicaraan telepon itu dengan ucapan terima kasih dan maaf. Lalu ku simpan telepon genggam itu rapat-rapat di dalam tasku.

Ketika telepon genggam biru itu hilang dicuri, bercampur aduk rasa dalam diriku. Antara geram pada sang pencuri, sekaligus lega. Karena si pencuri kurang ajar itu membuatku sukses melupakan sebagian kenangan pahit yang tak hendak diungkap kembali.

(Mengenang cinta monyet itu memang jauh dari rasa manis. Tapi cara melupakan cinta monyet adalah mencintai hewan  lain. Cinta kucing, cinta burung, cinta belalang, dan cinta iguana. Semuanya punya sensasi nano-nano)





Selasa, 15 Oktober 2019

Tentang Kriteria Pasangan (Part-1): Setelah Lima Minggu

Aku mengenalmu di sebuah bilik tempat kita belajar bersama. Tepatnya, di sebuah lembaga bimbingan belajar favorit yang terletak tidak jauh dari sekolah kita. Kau terlihat begitu rajin mengulang beberapa soal latihan yang diminta guru pembimbing.

Setelah sekian lama aku mengenalmu, ada rasa bergejolak. Tepat di sini, dibalik katup koroner yang menjadi gerbang keluar masuk aliran darah sekujur tubuh. Hidungmu yang mancung, alismu yang tipis panjang, hingga matamu yang terang, semuanya menjadi bunga yang mulai berkembang dalam pikiranku. Sialnya, terkadang bayangan tentangmu masih terus bertahta hingga rembulan menampakkan diri.

Pada suatu siang, aku menunggumu di depan gerbang bimbingan belajar. Tepatnya di lapangan parkir. Meskipun panas dan aku diminta pulang oleh petugas parkir, tetap aku setia menunggu. Apa boleh buat, mungkin kelabilan sifat remaja adalah justifikasi yang mendorongku untuk memberanikan diri.

Akhirnya kau keluar di siang yang teduh itu, dengan menenteng tas kesayangan. Aku langsung mendekati, dengan menggenggam sekuntum bunga. Setelah berbicara sepatah dua patah kata, langsung saja kulancarkan kalimat pamungkas itu. Tentu saja, lantaran kau belum mengenalku, menggeleng dengan senyuman adalah pilihanmu. Tapi tak mengapa, usiaku yang masih jauh dari kepala dua memang selayaknya harus berdamai dengan sekian kegagalan.

Satu tahun berputar cepat, kita kembali bertemu di sesi promosi bimbingan belajar yang lain. Melihat wajahmu kembali, aku tidak jadi fokus sepenuhnya pada apa yang diterangkan oleh para guru. Di sisi lain, para guru bimbingan belajar itu, hampir semuanya 'meluangkan' waktu untuk promosi bimbingan belajar. Dengan jurus diskon, rumus cepat, dan kumpulan buku-buku latihan soal. Lagi-lagi, kepalaku meminta untuk berpikir tentang dirimu. Kali itu, kau pun menghampiriku, lalu meminta maaf soal penolakanmu setahun silam.  Aku memilih tak banyak bicara, kecuali memaafkan dan menganggapnya hal biasa. Selama masa putih abu, aku mencoba memalingkan muka darimu.
Kuakui, aku malu setelah penolakan itu.

Setelah aku diterima di jurusan kuliah yang dituju, aku mencatat nomor teleponmu dari buku kenangan  sekolahmu. Kau angkat dering telepon yang kukirimkan sore itu, lalu obrolan kita buka dengan tema jurusan kuliah tujuan. Kau sedih, karena namamu tidak terdaftar di kampusku. Lalu sore itu kucoba menghiburmu dengan cerita inspirasi yang kudapat dari internet. Kau berucap bahwa dirimu terharu dengan kisah itu. Aku merasa  gerbang yang telah tertutup rapat itu terbuka kembali.

Suatu ketika, kau minta tolong diriku untuk mengantarmu memesan kursi mahasiswa di salah satu STIKES. Tawaran yang takkan sama sekali kutolak. Sepanjang perjalanamu menuju kampus di perbukitan itu, kita kelepasan berbicara mengenai kriteria wanita dan pria idaman masing-masing. Kucatat dalam hati bahwa kau tidak menyukai pria kekanakkan. Selagi menunggumu melaksanakan ujian, aku sempatkan berziarah ke makam kakekku. Selesai melaksanakan ujian saringan masuk, kau sempatkan membelikanku es buah. Tentu saja langsung ku lahap habis tanpa bersisa di rumah.

Sepanjang tahun 2008, sesekali kusempatkan main ke rumahmu, hingga kita menyempatkan nonton Harry Potter di bioskop. Sepertinya, saat itu muncul rasa sedikit tidak nyaman, apalagi melihatmu sesekali mengetik sesuatu di telepon genggammu. Aku memilih diam, karena sadar mungkin saja untuk memiliki hatimu, persaingan masih cukup ketat. Aku tak menampik kemungkinan bahwa kau sedang naksir dengan pria lainnya.

Setelah beberapa kali bertemu,  kembali kuutarakan perasaan untuk memilikimu. Lima bulan mengenalmu lebih dekat rasanya terlalu lama untuk dibuat terombang-ambing. Tapi nyatanya, aku memilih untuk sabar menunggu jawabanmu saat itu. Kau bilang butuh waktu untuk berpikir. Lima minggu kemudian, kau menyiapkan jawabannya. Ternyata, kau memilih seorang ketua koperasi kampus, yang juga menjadi seniorku menjadi pasanganmu. Selama seminggu hati terasa remuk,  sehingga saat dirimu mengirimkan pesan ucapan Idul Qurban, pesan itu kubalas dengan ketus. Aku bertekad untuk pergi jauh darimu.

Suatu ketika, setelah mendapat jatah liburan sekolah magister, kau kembali muncul di kampusku. Saat itu aku dibelakangmu mengikuti antrian hidangan lumpia basah. Kau mendapat kudapan lebih dulu, lalu bertatap muka denganku saat membalik badan. Ku sempatkan bertanya beberapa hal, yang mungkin menjurus ke persoalan pribadi. Kau memilih bicara seadanya, "Rahasia..." Lalu, kita saling berpisah jalan, sambil ku tatap perutmu yang menjelma menjadi dunia baru untuk 'seseorang'. Ya, aku ingat bagaimana pernikahanmu dengan dia yang terselenggara secara bersahaja satu tahun silam.

Dimanapun kau dan keluargamu berada, pikiranku masih menyimpan ruang tentang tahun 2008 dan 2006 silam. Maka, kudoakan semoga engkau hidup dalam penuh kasih sayang dan kehangatan, karena engkau hadir sebagai salah satu pelajaran tentang ketegasan yang seharusnya dimiliki seorang pria.

Ya, karena saat mengutarakan perasaanku,  semestinya aku sadar bahwa tak ada ruang bagi diriku dalam pikiranmu, Karena ku abaikan pesanmu di awal pertemuan kita yang kedua kali, "Aku butuh pria yang bisa mencintai ayah dan ibuku, sebagaimana ia memberikan cintanya untukku." Dia yang kemudian kau pilih menjadi pasangan seumur hidupmu, telah lulus ujian dari pesan tersiratmu hari itu.

Maka, sejak hari itu, aku berniat untuk memberikan ketegasan dalam sebuah hubungan yang akan ku jalani. Bila memang seseorang yang kutaksir kelak memiliki pria idaman berbeda, takkan kutunggu untuk berpaling padaku.




Senin, 14 Oktober 2019

Pesona Tersembunyi Deadline

Ketika kita mulai menapaki masa sekolah, guru-guru kerap membiasakan untuk mengumpulkan tugas tepat pada waktu yang mereka jadwalkan. Tentu ada anak yang bisa secepat kilat membereskan pekerjaannya, sementara memang ada yang perlu banyak mikir atau melamun sebelum mengumpulkan tugas. Sampai akhir SD, saya termasuk orang yang kurang mentaati jadwal pengumpulan tugas.

Di satu sisi, setelah mengumpulkan tugas, biasanya ada rasa lega yang muncul. Entah memang karena terdorong perasaan tuntas menyelesaikan pekerjaan atau sekedar menghilangkan beban sesaat. Kadang, memang ada perasaan lega berlebih, ketika menyelesaikan suatu misi sebelum 'bel berbunyi'. Namun tak berarti bahwa pekerjaan kita usai.

Masa berkuliah yang menuntut kemandirian cukup mengubah jalan pemikiran tentang 'waktu pengumpulan tugas'. Seringkali karena banyak tugas dibuat dalam format kelompok, maka tenggat waktu pengumpulan tugas tidak bisa sekedar menunggu titah dosen. Tentu perlu waktu untuk menyunting, menguji substansi tugas, dan memetakan koordinasi antar teman dalam tim. Kenyataannya, karena tidak jarang dijadikan ketua kelompok, acapkali saya mengambil dominasi tugas dan koordinasi lantaran 'segudang alasan teman-teman'. Tetapi, saya tetap puas karena tidak melanggar tenggat waktu.

Pada suatu masa di tingkat akhir perkuliahan, kelompok saya bertanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah dokumen 200 halaman. Lantaran yang belum serius mengerjakan tugas akhir hanya saya, lagi-lagi mendominasi pengerjaan tugas jadi sebuah pilihan tak terelakkan. Lebih-lebih, karena waktu itu klub pemain musik binaan kakak tingkat mengajak saya ikut bermain tepat sehari sebelum tenggat waktu pengumpulan tugas, entah darimana saya mendapatkan energi sehingga laporan besar itu kelar dalam waktu 2 minggu sebelum pengumpulan.

Deadline. Begitu biasa kita sapa tenggat waktu yang sering membuat risau dan depresi. Bukan hanya karena kata yang tersemat, namun juga tentang konsekuensi yang menanti setelahnya. Akan tetapi, saya melihat beberapa keindahan tersembunyi di balik kata pamungkas ini:

1. Percaya atau tidak, kejelasan tenggat waktu membuat kita realistis dalam mengelola prioritas. Bisa jadi kita sering terjebak dalam kesibukan, tapi belum tentu produktif. Sisi terang dari sebuah deadline, adalah menjadi kompas kemana harus mengarahkan energi dalam menyelesaikan kesibukan.

2. Deadline membuat kita tahu kapan harus bernafas lega, kapan kencang berlari. Maka, kemampuan menyusun deadline secara mandiri bisa membawa energi berkelanjutan untuk membangun fokus terhadap penuntasan tugas.

3. Selain memberi batasan waktu, deadline juga secara implisit adalah alarm, tentang sejauh dan secepat apa harus berpikir. Adakalanya, ketika deadline tidak jelas, kita terlalu banyak berkubang mencari narasi paling sempurna, data paling lengkap, hingga sumber referensi yang menyeluruh -sampai-sampai cuma tinggal salin tempel dirubah sedikit-. Namun, dengan adanya tenggat waktu, kita terdorong untuk tahu pekerjaan yang bisa dilewati sempurna atau cukup seadanya yang penting rapi.

4. Deadline adalah sebuah kepastian hidup. Kita mungkin tidak paham bahwa dalam hidup ada banyak deadline yang bermain petak umpet. Contoh yang paling wajar, kapan paru-paru akan bengek maksimal ketika sudah terlalu banyak nikotin dan tar dihirup. Contoh lain paling pahit, kita belum pernah tahu dengan gamblang kapan maut menjemput. Kalau kalian sempat membaca tulisan blog hari Jum'at atau Minggu, maut tidak menunggu keriput ataupun uban. Tetapi, karena menyadarinya, kita jadi menyiapkan lebih matang segala hal terkait hidup. Bukankah maut dan sakit seringkali menjadi guru terbaik tentang ketidakberdayaan dan nikmat yang kita sia-siakan?

5. Untuk beberapa konteks, deadline membuat penantian terasa berharga. Salah satunya, tenggat waktu bayi harus keluar dari rahim ibu. Maka disiapkanlah bermacam-macam rencana supaya ketika keluar dari rahim, bayi sudah dalam keadaan sehat walafiat dengan membawa banyak keistimewaan (amiin). Contoh lainnya, dengan mengambil sudut pandang bahwa kita adalah orang tua yang sedang menghitung hari anak kita akan berangkat kerja atau berkuliah di luar pulau, membuat kita menyusun rencana quality time yang penuh kenangan. Masakan paling istimewa kita coba racik, dekorasi rumah paling nyaman kita usahakan, supaya kenangan paling indah tentang rumah itu tercipta.

Sebenarnya masih banyak keutamaan deadline yang bisa diutarakan. Untuk kali ini cukup sekian dulu. Barangkali, bisa jadi pengingat bahwa beberapa kali dalam hidup kita deadline punya peran besar untuk membuat hidup waras seperti adanya hingga mendorong terciptanya  kenangan terindah.

Minggu, 13 Oktober 2019

Terlatih Nomaden

Tujuh kali. Intensitas pindah yang dilakoni semasa menemani orang tua berkuliah di Inggris. Saat itu saya tidak mengerti apa-apa soal pindah. Acapkali orang tua meminta mainan untuk dibungkus dan dikemas, saatnya pindah telah tiba.

Selama kurun waktu 1993 hingga 1995, bermacam-macam rumah sudah pernah dicoba. Lengkap dengan dinamika yang terjadi semasa menempati tiap-tiap rumah. Dari mulai rumah dua tingkat, sharehouse, apartemen, rumah satu lantai, hingga paviliun sudah pernah dicicipi. Bersamaan dengannya, orang tua pun ingat bermacam-macan ulah anaknya yang masih belia itu.

Dari mulai jingkrak-jingkrak lantai yang mengganggu tetangga, menceburkan kamera, ketok-ketok pintu tengah malam, memakan karet panah mainan, ngemut baso dilepehin di selimut, hingga bersembunyi di lemari adalah beberapa ulah yang menggambarkan seorang Brian saat itu. Kadangkala, Bapak masih ingat  pula bagaimana realisasi berlainan dengan ekspektasi, saat melihat saya yang masih belum banyak paham itu hanya bereaksi dingin saat dibelikan mainan mobil mahal. Pada dasarnya, memang ketika menjalani pindahan lalu menempati suatu tempat, ada tiga hal yang dikenang dari seorang manusia: ulah, prestasi, dan tagihan.

Waktu berlalu begitu cepat, melebihi argo taksi mainan yang tidak nyala ketika baterenya habis. Tibalah saat pertengahan SMA, saya mulai belajar untuk menginap di luar rumah. Dengan membawa baju seadanya, membawa diri menjajal tantangan mabit adalah kenikmatan unik yang bercampur ketegangan. Masih ingat saya dimarahin pagi-pagi di Pindad karena beberapa kecerobohan saat presentasi. Begitulah bila menginap dipadukan dengan kaderisasi.

Masa menjelang akhir SMA, selepas menjalani dua hari berekspedisi di kawasan Tangkuban Perahu, saya  sangat menikmati arti perjalanan. Meskipun daerah gunung itu tersusun atas tebing curam berkabut dan batu-batu keras, lengkap dengan aroma belerang. Seusai perjalanan itu, saya sesumbar soal kesiapan untuk menjalani kuliah di daerah luar Bandung.

Ternyata saya masih memilih kuliah di Bandung, dengan mengikuti program kemitraan. Dalam program berdurasi tujuh minggu ini, setiap peserta diwajibkan untuk mendekam di asrama. Laki-laki dengan laki-laki, demikian halnya perempuan. Hanya saja, karena punya banyak urusan dengan teman-teman SMA, entah itu ambil ijazah atau bermain band, saya kerap curi-curi untuk bermalam di luar asrama.

Kenikmatan hidup di asrama antara lain adalah momentum belajar bersama, jajan berjamaah, hingga bergosip tentang para dosen. Masih terbayang enaknya sore jam lima seusai kuliah jajan supermi campur sosis, lalu berkelakar bersama teman-teman seasrama. Sesekali, saya juga turut menonton bioskop hingga melebihi jam malam. Setelah tujuh minggu berkesan itu usai, saya acapkali mendatangi asrama: entah untuk belajar atau curhat dengan teman-teman.

Lain halnya, ketika menetap lima minggu di Suralaya. Tak banyak teman yang dikenal, meskipun berbagi kantor yang sama. Tetapi momen keakraban mulai terjalin, saat bersama-sama menonton dangdut dan mengepulkan asap rokok. Saat ini saya sudah tujuh tahun berhenti merokok.

Mungkin, ada banyak saat-saat berpindah yang ingin saya utarakan. Tapi saat ini saya lebih ingin berbagi tentang awal masa mengenal pindah rumah dan akomodasi. Di titik saya mulai paham, bahwa kenangan berpindah tercipta tak hanya dari soal mengenali medan, namun juga mengikat emosi dengan orang-orang yang dijumpai dalam lingkaran waktu tersebut.

(bersambung ke Australia, benua yang belum pernah terjamah)

Sabtu, 12 Oktober 2019

Adi, Inilah Ingatan Tentang Dirinya, Semoga Kalian Dikuatkan


Selamat pagi Adi,

Sungguh kehilangan dirinya adalah duka yang mendalam. Mungkin engkau adalah orang yang paling terpukul, karena bertahun-tahun bersamanya menjadi sepasang manusia yang mengawal lahirnya generasi baru.

Semalam, aku sempat bermimpi tentang pagelaran setelah ujian akhir sekolah dasar. Dimana ia diumumkan menjadi salah satu siswi terbaik, dengan prestasi membanggakan. Masih kuingat bagaimana mikrofon di tangan guru menyebut namanya, dan aku melihatnya di aula sekolah dasar.

Aku sering sekelas dengannya di masa sekolah dasar, tapi jarang kusapa dia. Sesekali memang ibunya menyapaku. Yang kutahu tentangnya, ia tak pernah absen dari mengisi daftar juara kelas.

Aku baru bertemu dengannya saat SMA. Dia ditempatkan di kelas lain, sementara aku dengan kamu adalah teman sekelas. Sesekali dia memang mengajak bicara, beberapanya tentang kenaifan masa sekolah dasar yang mungkin luput dari ingatanku. Di lain waktu, aku dan dia pernah sama-sama ikut merancang reuni pasca sekolah dasar setelah lima tahun.

Rasanya, dia termasuk yang jarang absen setiap ada reuni. Kadang kudengar acapkali dia iseng memintaku karaoke di hadapan teman-teman sekolah dasar. Di lain sisi aku dan teman-teman sekolah dasar belum melihat ia berubah dari sifat gigihnya meraih prestasi.

Ketika akhirnya dia menempuh jalan jadi dokter, beberapa kali ia sempat melintas di jalan raya dekat salah satu masjid terbesar di Bandung. Kutanyakan padanya tentang seberapa sering melewati jalan itu, dia menjawab ibunya sedang sakit. Aku tak pernah menyangka, bahwa masjid besar itu akan menjadi saksi janji sakralmu dengan dirinya.

Belum ada dua tahun semenjak terakhir kali kita bertemu, Adi. Kau bercerita tentang perjuangan kalian bersama menanti anak kedua. Aku turut bahagia saat itu, karena kutahu bahwa perjuangan kalian menanti putra sulung yang kini beranjak balita, adalah kisah yang cukup menggugah.

Setelah anak kedua kalian lahir, Di, aku turut cemas dengan dia yang berjuang melawan penyusup-penyusup dalam sel darah putihnya.  Teman seangkatan SMA turut cemas , lalu berbondong-bondong memberikan donor. Sayang, darahku tak cocok untuknya. Mohon maaf aku tak bisa membantu, Di.

Tepat jam kosong kosong bergantinya hari, aku turut berduka atas kepulangannya menghadap Yang Maha Kuasa. Kukira, hari-hari esok akan cukup berat untuk kalian hadapi. Karena aku tak sanggup membayangkan betapa sunyinya sebuah rumah tanpa kehadiran sosok istri sekaligus ibu anak-anak. Semoga engkau dikuatkan, Adi.

Teman sekelas dan mentoring, Brian

(in memoriam with Syifa Karmani, rest in peace by 00:00 at 12 October 2019)

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...