Jumat, 01 Oktober 2021

Menakar Kembali Kadar Pemberi Obat Hati

Sebuah Catatan 2016 Kalau badan kita sakit, tentu datang ke dokter dan minta resep obat: entah generik atau antibiotik, atau hanya sekedar berobat alternatif dan minum jamu langsung diglek, dipijit, wes ewes ewes bablas sakitnee. Lalu bagaimana bila hati kita yang sakit? Bermacam pula solusinya ; dari mulai ibadah intensif, rajin mengaji, kebaktian, itu kalau secara pilihan idealnya. Sebagian orang mengambil pendekatan yang sekarang sudah cukup umum, dan bahkan diriku pun kadang berobat hati dengan cara demikian: Datangi motivator dan dengarkan seminarnya. Yes, obat hati itu bernama motivasi dibawakan praktisi yang bertajuk motivator: lalu terhibur oleh petuah petuah sakti mandraguna bikin hati ces pleng. Tapi sama seperti halnya obat antibiotik, jamu, dan lainnya, motivasi punya aturan pakai. TIDAK semua petuah sejuk harus dilahap mentah mentah: karena bisa berefek samping Racun Pikiran dan Racun Sosial; seperti halnya efek overdosis obat yang bikin komplikasi a b c d sakatonik abc. Boleh jadi para pembaca status saya ini mengira saya mengada ada; tapi ketahuilah banyak saya dan teman saya akhirny sempat luntang luntung bingung ga tahu tujuan hidup, karena telan mentah2 motivasi. Maka, seperti apakah motivasi yang beracun itu? Kalau menurut senior saya, Surya K, ada 3 ciri, dan saya tambahin 2 ciri2nya, menurut kajian beberapa buku pembanding: 1. ["Ngapain hari ini kerja jadi karyawan, kerja pada orang mending jadi pemimpin di bisnis sendiri"] : ya, ini paling beracun karena secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi orang BAHWA JADI KARYAWAN, BURUH adalah kerjaan rendah. Damn, memangnya seorang pemimpn bisnis bisa melakukan semuanya SENDIRI tanpa satu orangpun karyawan? Hahaha, motivator kaya gini musti dicemaskan, takutnya besok dia melongo karena kantornya kosong lantaran karywannya resign jadi pebisnis semua: berharap langsung jadi bos. 2. ["Ikutilah Passion kalian: untuk apa buang waktu di hal yang ga disukai?] : ini masih mending dari yang pertama, meski tetep tidak lucu; karena bisa jadi para penikmat motivasi seperti ini mendadak malas kuliah, resign dadakan, ga mau kerjain pekerjaan rumah tangga dengan alasan :"Ini BUKAN PASSION SAYA!!" Saya pun juga dulu berpikiran untuk melakukan HANYA APA YANG SAYA SUKAI DAN SENANGI,...yang kemudian pemikiran seperti ini menjadi polusi, adalah membuat orang lupa :"Ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan dan saya capai: MESKIPUN BUKAN KEINGINAN SAYA". Itulah yang namanya OBLIGATION, (kewajiban)...memang membuka bisnis yang penuh trial dan error demi dapat sukses masa depan itu bagus, tap jangan disaat orang tua, saudara, anak2 dan istri sedang butuh keseriusan kita mengelola hidup , terutama saat masa terhimpit! Jangan juga begitu ketemu pelajaran ga disukai pas kuliah, langsung minta pindah kuliah, emak bapak yng bayar,....duh mau dikemanakan porsi kewajiban berbuat baik dan berkomitmen pada ortu, lantaran keegoisan karena suatu hal yang ga disukai? Orang sukses Yang jadi tokoh dunia abadi; mereka belajar menahan diri terhadap hal2 yang ga disukai dan tetap menikmati berbagai macam pelajaran yang kadang PAHIT.... 3. ["Ga usah pedulilkan kata orang lain, percaya dan ikuti kata hatimu"] : terdengar logis dan indah, tapi tetep masih GA LUCU; why? Mari simak lirik lagu gigi "Tuhan" : "....hati adalah cerminan....tempat PAHALA DAN DOSA BERPADUUU,...Huwooo". Jadi kata hati tak selalu berbuah kebaikan, kadang2 juga dorongan berbuat jahat. Percaya diri dan jadi diri sendiri itu hak setiap individu, dengan catatan bahwa sampah masyarakat pun percaya diri dan jadi diri mereka yang buruk bukan suatu yang mendatangkan manfaat. Jadi garing kan, apalagi kalau lihat tayangan tahanan KPK yang baru divonis, mereka cuma lempar senyum tanpa minta maaf, saking merasa :'inilah Diriku apa adanyaaa, akubangga jadi diriku sendiri". Pret, benarkah jadi diri sendiri adalah Kebal feedback dan input dari orang lain?? Huhahahaha, kalaumemang demikian, dokter mana laku soalnya tiap pasien yakin sakit adalah keadaan dirinya yang ideal. Awalnya, memang saya senang mengikutiapa kata hati, sampai ga dengerin orang lain: lalu otomatis orang lain kadang malas ngomong jujur sama saya. Memang suatu hal yang wajar, kalau ga bisa bahagiakan semua orang, tapi bukan berarti semua orang ga berhak didengarkan. Paling nggak, meskipun kita ga mengikuti kemauan semua orang, paling ga hadirkan sikap mendengr yang penuh simpati, jadi orang enak bicara apa adanya sama kita. Oke, 2 ciri yang lain, yang perlu diperhatikan dari seorang motivator: 4. [Motivator bertahun2, sumber pemasukan yang lain apa ya?]: memang tidak segaring 3 yng diatas, tapi meski udah puluhan tahun memotivasi, tetep kalau mendengar suatu wejangan dari motivator, perlu dilihat kapabilitas nya yang lain;terutama yang mendukung dia untuk mwmberi petuah macam2 . Hati hati, motivator yang hanya jago bicara pun ga sedikit,..dan ini yang kadang disindir sebagai "pengems gaya baru". Kok gue lancang merefer sebagai demikian? Karena kalau cuma omong doang dapat duit, pengemis juga bisa....dan yang menyebalkannya bila sudah pasang tarif ga masuk akal dan minta banyak tunjangan. Hueee, ngareeppp. .... 5. ["Munafik, kalau lu ga butuh duit"!] : terlepas dari konteks manapun, memang duit dibutuhkan pada banyak hal. Tapi banyak2 hal2 non duit yang menunjang performa seorang manusia, jadi cukup sempit impian bila HANYA memimpikan duit banyak karena masuk jurusan a, masuk pwrusahaan a, pilih hobi a. Jangan lupa bahwa kasus asusila ga langsung bikin tidur tenang meski gaji dan tunjangan melimpah, dan ga sedikit orang susah cari kerja karena gatahu mesti ngapain lagi selain nyari uang. John c. Maxwell:" berilah buruhmu cukup upah dan pujian: pujian tanpa upah tak membayar rekening listriknya, upah tanpa pujian tak segera menghilangkan kegalauan dan kebosanannya" Oke, sebelum mengikuti seminar motivasi apapun, jangan lupa baca aturan pakai. Buat saya, aturan pakai terbaik buatkehidupan mutlak dari Al quran dan Hadits: yang mencerahkan mana yang harus diikuti dan hanya SEKEDAR DIDENGAR.... Tentunya, penakaran ini kembali bisa dijalankan sesuai kemauan dan kekritisan masing-masing. Maklum, zaman sekarang banyak predator berkedok motivator juga. Memang masih jauh panggang dari api, agar bisa menemukan sosok-sosok yang bisa membangun jiwa secara utuh di nusantara ini. Namun, setidaknya kita punya bekal untuk meilah lebih jauh. [SOURCE: 1. Surya kresnanda, Motivasi menyesatkan 2. JOHN C. MAXWELL, Maxwell Daily reader 3. Toxic leadership, Martin ]

Senin, 20 September 2021

DIA DEL LOS MUERTOS

Seni Merayakan Kematian Dengan Bahagia ala Meksiko *Briantono Raharjo Mari kita mulai bicara soal merayakan kematian dengan merawat ingatan tentang tahun 2005. Barangkali, sebagian dari kita para pecinta musik akan terkenang dengan lagu "Welcome to the Black Parade", yang dipopulerkan oleh para punggawa musik cadas emosional My Chemical Romance. Lagu yang menceritakan tentang seorang pria sekarat yang terkenang akan pesan ayahnya ini merupakan tembang tentang kematian yang sepatutnya dirayakan. Jika anda sempatkan mencari dan menikmati kembali klip video asli lagu ini di Youtube, adegan parade para mayat ini merupakan gambaran megahnya sambutan setelah seseorang dicabut nyawanya. Meskipun konsep video dari lagu cadas yang turut menjadi judul album tersukses My Chemical Romance ini terbilang jauh dari budaya ketimuran, nyatanya tembang ini bertahan di posisi puncak berminggu-minggu. Barangkali, sebagian dari kita terkesima sambil bertanya-tanya; "Apa sepatutnya kematian seseorang yang menimbulkan duka dan luka, harus dirayakan dengan suka cita?" Kematian memang tak dipungkiri adalah kepastian takdir Illahi bagi setiap makhluk yang bernyawa. Rasa kehilangan pun adalah suatu hal yang rasional dalam siklus emosi setiap makhluk hidup. Bagi para penduduk Nusantara seperti kita , setelah keluarga dan kerabat yang dikasihi meninggalkan dunia untuk selamanya, biasanya momentum mengenang perjalanan hidup mereka terwakili oleh takziah, tahlilan,ngaben, saur matua, hingga rambu solo. Dalam ritual-ritual yang telah menjadi warna kehidupan masyarakat kita berabad-abad tersebut, prosesi mengenang kematian adalah siklus emosi Namun, lagu 'welcome to the black parade' yang sangat populer ini bukan mewakili prosesi-prosesi kultural di Nusantara. Jika sempat berselancar ke internet dengan kata kunci 'perayaan kematian bangsa-bangsa pribumi Amerika', maka akan ditemukan salah satu budaya di Amerika Latin yang paling tepat digambarkan lewat tembang tersukses My Chemical Romance itu. Adalah Dia De Los Muertos, atau disebut juga dengan hari orang mati. Hari istimewa di Meksiko yang jatuh di tanggal 1 dan 2 November sebagai hari libur adalah merupakan ajang merayakan siklus tutup usia. Biasanya, kita bahagia bila bertambah usia. Namun, Dia De Los Muertos adalah keunikan bangsa Meksiko yang mewakili persepsi berbeda dan autentik mengenai hidup setelah wafat. Tutup usia juga sepatutnya disemarakkan, karena merupakan perjalanan jauh menuju akhirat. Sekilas, Dia De Los Muertos nyaris serupa dengan perayaan Helloween yang sudah mendunia. Tapi, perayaan ini lebih erat terkait dengan masyarakat Amerika Latin. Dia De Los Muertos adalah murni festival seni pesta kostum, yang mengajak seluruh lapisan masyarakat, baik tua maupun muda, untuk berkumpul, mengenangm dan mendoakan mereka yang telah tiada. Maka, jangan bayangkan bahwa pagelaran ini berisi horor dan hal-hal menegangkan. Keceriaan menyambut ajal selalu menjadi tema utama dari ajang ini. Bagi bangsa Meksiko, meratapi kematian adalah hal yang mendekati tabu, meskipun wajar. Jika menelisik lebih jauh, budaya ini diwarisi turun temurun dari pemikiran bangsa Aztek kuno sejak 2,500 sampai 3000 tahun silam, bahwa kematian adalah sebuah cara menghargai hidup. Prosesi ini merupakan adapatasi dari upacara adat Aztec untuk memuliakan Dewi Kematian Mictecacihuatl serta menyajikan sesajen untuk para arwah. Adat turun-termurn ini kemudian terpapar beberapa pengaruh dari bangsa Eropa, salah satunya Spanyol -penjajah utama dataran Meksiko-, sehingga tiradisi menyembah patung dewa-dewi dilebur dengan ritual agama Kristen untuk mengagungkan turut mengagungkan Maka, di saat Penduduk Indonesia sendiri menjalankan tahlilan 7, 40, 100,atau bahkan 1000 hari, Dia Del Los Muertes tak terpaku pada durasi yang lama ataupun orang tertentu. Hanya 2 hari, 1-2 November setiap tahun, sebagaimana ditetapkan sebagai libur oleh pemerintah setempat. Adapun penetapan Die Del Los Muertos ini diinisiasi sejak tahun 1960. Inti acara dari pergelaran mengenang maut ini terbagi 2 sesi dalam 2 hari. Hari pertama yang bertajuk Dia De Los Inocentes atau Dia De Los Angelitos, dikhususkan bagi setiap penduduk Meksiko yang meninggal di usia belia hingga dewasa muda. Jika mengikuti langsung di lapangan, kita akan takjub dengan ornamen mainan, susu, dan permen kesukaan di pemakaman anak-anak. Perayaan hari kedua, Dia De Los Difuntos mungkin tak terlalu sesuai atau bahkan berbeda dengan adat ketimuran. Pasalnya, hari kedua yang dikhususkan untuk mengenang para orang dewasa dan manula yang wafat, akan tersaji botol-botol minuman keras dan aneka kudapan. Persamaan dari penyelenggaran kedua hari ini, ialah: 1. Semua peserta festival akan memakan kue-kue yang dipersiapkan khusus untuk upacara berupa Pan De Muertos, roti manis yang dibubuhi gula dan disusun dengan corak tengkorak, serta minuman es teh ala Jamaika. tengkorak. Perjamuan kudapan manis ini dimaksudkan untuk mengenang kepribadian dan sikap para almarhum semasa hidup. 2. Pergelaran sastra tengkorak, dimana sejumlah peserta yang piawai dalam dunia literasi unjuk bakat seni puisi, drama, dan mendongeng. Semua peserta yang tampil akan mengenakan kostum seperti hantu, zombie, atau tengkorak dengan ornamen unik. Sesi yang cukup penting ini dimaksudkan sebagai ekspresi perasaan akan doa dan harapan terhadap mereka yang telah tiada, Adapun festival kebudayaan ini turut mendapatkan penambahan ritual dan aktivitas lainnya, tergantung dari tempat perayaannya. Sebagai contoh, di kota Patzcuaro, sajian makan bersama untuk hari peringatan pertama diiringi dengan lilin dan pohon rosario untuk pengangungan Bunda Maria, serta pesta dansa di tempat-tempat publik. Tujuannya adalah untuk mensyukuri kehidupan yang telah dilalui anak yang telah meninggal, serta menguatkan dan memberi harapan pada orang tua ynag ditinggalkan. Pada hari keduanya, segenap penduduk Patzcuaro akan menyalakan lilin di atas perahu berlayar sayap yang disebut Mariposa untuk pergi ke Janitzio, sebuah pulau di tengah danau demi menghidupkan kembali kenangan tentang para arwah. Perayaan kebudayaan ini kemudian mendapatkan puncak perhatian mancanegara di luar Amerika latin, setelah diperkenalkan melalui pembukaan film serial James Bond berjudul Specter pada tahun 2015. Momentum ini kemduian dimanfaatkan oleh pemerintah Meksiko setahun kemudian, lewat perayaan massal di lokasi Paseo De La Reforma dan Centro Historico, hingga diikuti oleh 250,000 peserta. Perayaan kebudayaan ini pun turut menjadi tema utama dari film Disney yang rilis tahun 2017, yang berjudul Coco. Dengan meninjau kemeriahan perayaan kematian ini, saya jadi berpikir: "Mungkinkah ritual semacam Saur Matua, Rambu Solok, hingga Ngaben bisa menjadi inspirasi kita untuk mengupas kembali cara menguatkan harapan setelah mengalami dukacita kehilangan?" (Jakarta, 11 Juni 2020) Referensi: 1. Society, National Geographic (Oktober 17, 2012). "Dia de los Muertos". National Geographic Society. Diunduh 9 Juni 2020 https://www.nationalgeographic.org/media/dia-de-los-muertos/ 2. 'Festival Lokal untuk Para Mendiang". UNESCO. Diarsipkan tanggal 31 Oktober 2014, https://en.wikipedia.org/wiki/Day_of_the_Dead diunduh tanggal 10 Juni 2020, 3. "Dia de los Muertos". El Museo del Barrio. Diarsipkan UNESCO 31 Oktober 2015, https://web.archive.org/…/20151…/http://www.elmuseo.org/dod/, diunduh tanggal 11 Juni 2020 4. Tirto.Id, 2019. Upacara Pemakaman Unik di Indonesia. https://tirto.id/upacara-pemakaman-unik-di-indonesia-ngaben…, diakses 11 Juni 2020

Rabu, 14 April 2021

ADA KALANYA

ADA KALANYA
                                                              OLEH : Briantono Raharjo
Ada kalanya kita harus tahu rasanya tersakiti
Dan juga bagaimana pedihnya terkhianati
Tuk bisa menghargai arti kepercayaan sejati

Ada waktunya kita harus terjerembab penuh lebam
Karena terbakar oleh amarah penuh dendam
Agar kelak kita tahu betapa membinasakannya rasa dendam

Akan datang pula saat kita tertimpa himpitan
Dan caci maki dan hina datang menjadi tekanan
Tuk paham betapa penting nilai hidup penuh kebersamaan

Kan datang pula masa , dimana kita harus diuji dan dicoba
Dengan betapa sulitnya untuk mendengar melihat dan meraba
Untuk tahu betapa tak berdaya kita dimataNya sebagai sang hamba

Karenanya, apapun episode yang akan menerpa dan datang
Bukanlah rasa sakit dan pedihnya yang pantas untuk dikenang
Melainkan pelajarannya yang harus diresapi dan dipegang.

Seringkali kita mengira, kehidupan adalah ladang nestapa
Karena kita sering melihat dunia dari 1 sisi, hingga terlupa
Bahwa ia tak akan membiarkan hambaNya hidup penuh hampa

Bila mereka selalu mengingatNya, dan menjadikanNya tumpuan
Untuk tetap teguh menghadapi marahabahaya dan cobaan
Agar kelak masa depan nan bercahaya kan selalu penuh harapan...

(TRIBUTE TO WISUDAWAN APRIL 2014 )

Rabu, 16 September 2020

Dipta Sang Jari Mahir Tanpa Gitar

 #NAD Belajar

#NAD_BeasiswaRBJ

Selayang Pandang tentang Dypta Rizky Rahadian:

Ahli Akrobat Senar Berbekal Pinjaman Teman

Pertama kali saya berjumpa dengan pria yang lahir di bulan September 30 tahun silam ini adalah ketika sedang memasuki tahap kaderisasi awal komunitas apresiasi musik kampus. Dia adalah teman dari teman bimbel saya saat SMA, yang bernama Reza. Sore di kala Jumat saat berpapasan pertama kali dengannya 12 tahun lalu, sama sekali tak terlihat bahwa dia adalah gitaris dengan kemampuan mencengangkan. Karena kebutuhan ospek komunitas saat itu cukup banyak , saya pun dititipkan Reza dan Dypta untuk membeli barang dan alat kebutuhan kaderisasi di hari Sabtu lantaran membawa mobil pribadi. Sayangnya, kesan saya sebagai orang yang tepat waktu di mata mereka cukup hancur di hari pertama ospek komunitas musik, lantaran telat membawa barang-barang keperluan tersebab oleh macet di sepanjang Jalan Haji Juanda Bandung. Untungnya, Dypta cukup pemaaf, meski Reza sedikit kesal karena mereka mendapat konsekuensi dari para panita atas keterlambatan properti tersebut.

Setelah ospek komunitas musik berjalan 5 minggu, saya mulai terpikir mengajak Dypta bergabung dalam band demi 'tugas akhir' dari masa penjajakan: menyelenggarakan panggung dimana semua peserta kaderisasi harus unjuk gigi dan unjuk tenaga (baca: bantu-bantu bikin acara, tenda, dekorasi dan sound system). Band yang kami susun untuk acara tugas akhir ospek komunitas musik itu terdiri atas lima orang: saya selaku penggebuk drum, Rizky sebagai juru vokal, Luqman memegang peran sebagai pembetot senar tebal, serta Kurnia dan Dypta sebagai duo gitaris. Kemudian kami menamai band ini dengan nama Mathemusic. Tak hanya sekedar manggung, setiap unit penampil ditugaskan membuat lagu sendiri untuk dibawakan. Kebetulan, saat itu Luqman sudah mempersiapkan cetak biru lagu hasil gubahan senar tebalnya. Ketika Dypta dan Kurnia diminta mengisi bagian gitar, Dypta pun melancarkan jurus-jurus sulap di atas senar yang memukau kami semua saat itu. Jari-jari pria dengan tinggi sekitar 162 cm itu begitu gesit berdansa sepanjang fret gitar mengikuti irama dan nada gubahan cetak mentah lagu yang kemudian kami beri judul "Must Goes On".


Selain mulai terlihat jelas kemampuan jarinya berlari kencang di sekujur leher gitar, Dypta dengan sukarela masuk menjadi anggota unit logistik persiapan acara konser tersebut, yang dipimpin oleh saya. . Tak tanggung-tanggung, 2 minggu sebelum acara, ia telah mempersiapkan seperangkat efek gitar yang cukup lengkap untuk menunjang persiapan logistik acara. Usut punya usut, Dypta ternyata tidak punya gitar di rumahnya, meski jarinya selihai Steve Vai, musisi kaliber dunia, dikala kami mengikuti sesi simulasi konser di sebuah studio. Langsung saja ia didapuk oleh unit acara konser sebagai gitaris kedua dalam sesi kolaborasi bersama puluhan musisi lainnya dalam sesi penutup.

Tak sampai setahun, saya memutuskan keluar dari band tersebab oleh perubahan selera pribadi. Kendati demikian, nafsu bermain musik saya tetap masih kental, sehingga kembali mengajak Dypta untuk bermain membawakan lagu-lagu system of a down bersama dua personil baru. Hanya saja, diam-diam Dypta sudah dipinang band senior kampus untuk membawakan burgerkill untuk suatu acara konser akhir pekan. Maka, saya dan dua orang personil lain meminta ketegasan Dypta untuk memilih. Nyatanya dia memilih untuk latihan bersama keduanya. Karena dia pun komitmen membuktikan dirinya datang latihan, kami pun sepakat meredam konflik sepele tersebut. Satu hal yang masih sulit terjangkau nalar saya: Dypta yang saat itu hanya memiliki gitar kopong dengan jumlah 12 fret di rumahnya ternyata sanggup mengulik lagu 'Darah Hitam Kebencian' yang akan dibawakan band senior dalam kurun waktu seminggu tanpa cela! Begitu halnya pula saat staminanya tak kunjung tergerus di kala kami merapal ulang tembang 'Toxicity' dalam kurun waktu dua hari. Hebatnya pula, dia pun masih menyempatkan mencetak nilai cukup bagus di ujian fisika yang jatuh bertepatan di hari penampilan kami itu.

Dypta menilai ada satu perbedaan mencolok antara pengalaman-pengalaman manggung sebelumnya dan pada kesempatan akhir pekan kali itu, bahwa kemampuan menggebuk drum saya lebih bertenaga dan stabil. Kendati ia cukup tegas membagi peran dan teknik di kala sesi latihan, Dypta yang merupakan alumni teknik fisika ini kerap menularkan semangat optimis pada rekan-rekan bermain musiknya. Di lain hari Dypta mempercayakan saya untuk masuk dalam grup demi memenuhi ambisinya membawakan nomor-nomor progresif dari Dream Theater (DT).

"Coba kamu lihat DVD konsernya DT 'Chaos In Motion' deh, Bri. Aing takjub pisan mereka bawain lagu 'Forsaken', soundnya gak main-main!" cetus Dypta suatu waktu mengulas ambisinya tentang DT. Tentu saja, tembang 'Forsaken' yang membuat dia terpukau setengah mati itu pun masuk dalam daftar andalan kami untuk meramaikan acara pentas penerimaan mahasiswa baru. Tanpa disangka, beberapa bulan selepas sukses manggung di pentas itu, Dypta bersama dengan Lukman kembali mengajak saya gabung kembali dengan Mathemusic. Tapi saya tak langsung memenuhi ajakan mereka untuk jadi drummer permanen. Pertama kali saya keluar dari band tersebut terdorong masalah kepercayaan pemakaian duit, dan kepribadian Dypta sendiri di luar hobi bermusik ternyata cukup mengkhawatirkan.

Apa pasal?

Terus terang, saya sempat punya konflik dengan Dypta pada tahun 2010. Pasalnya, ketika saya pernah hampir putus dengan mantan pertama, pesan-pesan singkat dari Dypta mampir di ponsel mantanku itu. Isinya cukup mencerminkan tingkah laku orang yang sedang menjalankan 'manuver' spesial. Satu hal yang membuat cukup was-was, Dypta juga baru putus belum ada sebulan dengan mantannya saat itu.

"Ya Tuhan, Dypta. Di luar sana, ternyata kamu bukan hanya pemain gitar ulung. Kamu juga pemain hati yang ulung."

Maka, setelah sesi manggung bersama Mathemusic berjalan dengan cukup sukses untuk mengisi acara seminar di tahun 2011, saya berkilah bahwa visi bermusik selama ini tak satu jalur dengan mereka. Hal ini yang saya pakai sebagai alasan kuat untuk tidak kembali bergabung bersama band yang dibentuk bersama di tahun 2008 itu, sambil memendam fakta kelam itu. Karena sifat Dypta selalu terlihat baik di depan mata saya, rasanya tak enak untuk terus terang tentang kekesalan hati sebagai alasan utama tak kembali bergabung. Mungkin, karena saat itu saya berprinsip berusaha menjaga image baik dari teman-teman yang diakrabi. Entah kalau sekarang kami kembali memiliki konflik seperti itu.

Tahun 2012, Dypta lulus lebih cepat dari saya. Dia memang jenius pula dalam studi, sehingga memperoleh gelar cum laude. Di suatu kesempatan manggung sebelum dia wisuda pada bulan Oktober 2012, saya sempatkan mengobrol panjang lebar dengannya tentang perjalanan studi dan hobi selama di kampus. Dypta pun mengakui banyak hal, termasuk soal kebangkitan Bapaknya setelah diputuskan hak kerja, serta mantan yang memutuskannya di tahun 2010 tersebab oleh masalah (maaf) keperawanan. Lalu saya pun turut berterus terang tentang 'kekesalan' yang dipendam saat 2010 itu. Ia pun meminta maaf juga. Lalu kami pun berpisah jalan setelah wisuda Oktober 2012 tiba.

Waktu pecah, Dypta menikah dua tahun setelah giliran saya naik pelaminan. Hal yang tak berubah darinya hingga menjadi seorang bapak dari seorang anak gadis, dia masih khusyuk merapal nada-nada dalam gitar. Bedanya, dia sekarang sudah memiliki sendiri gitar Les Paul di rumahnya. Melihat kemilau gitar yang ditampilkan dalam laman instagram miliknya, saya kembali teringat akan ajakan dia untuk pentas di awal tahun 2012 dengan membawakan lagu Dragonforce yang belum kejadian sampai sekarang.

Hingga saat liputan singkat tentang Dypta ini dirampungkan, saya masih menyempatkan melatih telinga supaya beradaptasi dengan tembang-tembang gahar milik band power metal Dragonforce yang berasal dari Finlandia itu. Mudah-mudahan, teknologi jarak jauh serta aplikasi video bisa merealisasikan mimpi ini, terutama di saat pandemi yang mengharuskan kita menyusun jarak demi keselamatan.

(Jakarta, 16 September 2020)

Senin, 10 Agustus 2020

Betulkah Populasi Membawa Bencana?

Pada tahun 2016, tatkala  presiden Erdogan mencegah KB berlaku di negaranya, sebagian besar orang melongo seperti melihat duren 5 ton jatuh dari Menara Eiffel jebol hingga ke dasar tanah. 

Mereka bertanya : "How Comeee? " "Bukannya banyak anak banyak masalah??? "

Eits tunggu dulu, coba pikir lagi sejenak, mari aku mulai dengan pertanyaan: 


"Benarkah populasi adalah sebuah bencana?? "


"Ya".begitulah kata sebagiann orang, terutama mereka orang yang ingin karirnya melejit, tanpa harus gangguan 'anak-anak' . Mereka pun berujar: "kalau kita masih muda mah puaskan karir dan sekolah , nanti baru ngurus anak". Pendapat ini tidak sepenuhnya salah ataupun benar. Tidak sepenuhnya salah karena memang masa muda adalah saatnya menuntaskan banyak agenda dan rencana, tanpa interupsi prioritas.  Tapi tidak sepenuhnya benar karena teman-teman semasa karir, kuliah, sekolah, selain keluargamu pada akhirnya hanya berduka sesaat- pada kebanyakan kasus-, sedangkan keluargamu kemungkinan besar berduka selamanya bila kita tiada  Begitulah pesan wakil direktur di perusahaan saya kemarin pada saat awal presentasi.

Tapi jika memang populasi adalah sebuah bencana layaknya tsunami yang menggerus lahan daratan dan pertanian, berarti bisa jadi (naudzubillah) orang otomatis terlahir membawa nafsu serakah...haahahhaa . Hanya saja, mungkin betul parenting itu sulit, lalu yang kemudian membuatnya tambah sulit adalah,.."ketika harus membesarkan anak sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang".


"Kok kau lancang bicara demikian, hai briantono sembrono!!"


Ini murni adalah pemikiran yang berawal dari sebuah celetukan paman saya: "Pada zaman dahulu, ketika orang punya anak anak , tidak semuanya masuk sekolahan, ada sebagian jadi petani". 


Kebetulan, saat itu paman saya lagi giat berkebun. Dari titik itulah naluri saya tergetar. Tersadarlah bahwa kebanyakan orang yang -terutama mampu-, mau tidak mau mengikuti standar kehidupan yang seperti sudah saklek kayak tiang listrik yang suka nyetrum mendadak : playgroup-tk-sd-smp-sma-s1-s2-s3-es teler.-kerja-nikah-karir-...Ups sengaja salah ketik,...maksud saya biar pembaca bisa ketawa garing dikit melihat paragraf saya yang cukup bikin mata jereng ini. Atau malah terlalu hambar untuk sebuah lelucon?

Di simak dari berbagai penelitian dan fakta di dunia, terutama Indonesia: sebagian motivator, sebagian pengusaha sukses, CEO bahkan mereka yang menjadi sumber rujukan kita dalam bahan kuliah, adalah orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan formal hingga tuntas, tidak merasakan S2, S1, bahkan SMP, SD. Tengoklah Thomas A. Edison, Ippho Santosa, Bill Gates, dsb  Bukan hanya itu, Pak Karno Bapak Bangsa kita saja pun malah berkarir di luar jurusan saat telah lulus dari Teknik Sipil.  

Maka, apakah hidup hanya perkara sekolah? Big No! 

Siklus gaya hidup kebanyakan orang, terutama di Indonesia, hari ini sangat dipengaruhi gengsi cap jahe meregehese, Mendorong tiap orang harus punya rumah mobil, resepsi luxury dengan adat segudang untuk acara nikahan , tujuh bulanan, hari anniversary untuk pernikahan. dan harus naik karir abret. Tapi kalau ditanya alasan kenapa diselenggarakan seperti itu, mungkin kebanyakan akan menjawab karena takut dicemooh tetangga sebagai alasan utama, ataupun soal menghargai teman sejawat dan saudara. Hahaha, padahal kalau mau sukses hari ini, cobalah kerja halal apa saja, dan siap gagal dalam berteman dan berbisnis dengan berbagai kalangan, tak perlu lagi nunggu dipanggil "kantor bergengsi" saja untuk dapat gaji 10 Ju ta rupiah. 


Lalu patut kita ingat, menurut sabda Rene Suhardono, karir tak hanya di kantor, tapi juga soal parenting dan membina hubungan birrul wallidain. Ada mantan karyawan, ada mantan istri, ada mantan suami, dan ada mantan pacar-yang cukup lazim-,..tapi tidak akan ada, tidak akan ada,....mantan ayah, mantan ibu, mantan anak, dan mantan kelapa,..adanya santan kelapa....

Tapi lagi-lagi, ada saja orang yang mendobrak status quo seperti ini, tengoklah Alvin dan Larissa, dan juga teman-teman saya yang kelar SMA sudah nikah pasca lulus dari gedung sekolah mereka di jalan Belitung dan Sumatra, apakah ada masalah ?? Pastinya ada,..tapi ga berlanjut. Ini lah sebuah keniscayaaan bak cahaya di tengah kegelapan rumah karena pemadaman PLN, bahwa faktor mayoritas membawa masalah kependudukan hari ini adalah "GENGSI DAN TRADISI"..

.Duuuarrrr, langsung beberapa orang mukanya merah padam bak cabe berubeli dari pasar tradisional yang masih segar Mengapa saya tulis kesimpulan seperti ini?... Silakan kita tengok kembali beberapa kota terpadat di Indonesia. Sebut saja Jakarta, sebut pula Bandung, mungkin juga Medan. Percayalah bahwa tak jarang sosial media tentang kota-kota tersebut berisi drama mobil numpuk udah kayak jamaah ngantri sembako, Tepat beberapa waktu lalu, menteri koordinator sempat berujar bahwa kemiskinan terjadi karena yang kurang mampu pada besanan. Apakah ini adalah faktor pendorong kemiskinan?  TENTU TIDAKK...jika demikian bayipun harus disalahkan karena polusi udara dan sampah membludak. Hebat kali dia lahir oe-oe langsung bisa pesen mobil di dealer, terus ngerokok, dan buang sampah sembarang.....jajajajajajajajja....


Berapapun biaya yang diberi dalam pekerjaan dan kehidupan kita, akan cukup untuk bisa makan minum, membeli pakaian seadanya, ataupun menyelamatkan kendaraan dari BBM sekarat, berikut bayar listrik. Tapi TIDAK AKAN PERNAH CUKUP untuk memenuhi gaya hidup untuk tambah lemak di restoran, tambah kendaraan untuk 1 orang 1,..memperbanyak tempat usaha yang diluar kontrol, apalagi beli perhiasan diluar mas kawin HANYA DEMI MENYENANGKAN TETANGGA, DAN CITRA. Hari ini, yang paling banyak membawa masalah bukan lagi sekedar kemiskinan, tapi orang-orang berkecukupan bergelimpangan tapi menambah-nambah kekayaan dengan menggusur lahan hidup dan pekerjaan orang miskin. Sialnya, mereka pakai jurus Kill The Messenger supaya modus terlaksana. Kan kesal jadinya.


Minggu, 19 April 2020

Telenovela bernama radikalisme

-Telenovela itu bernama Radikalisme-
Apa yang biasa jadi adegan, alur bila anda menonton telenovela atau melodrama? Ehm meskipun berbeda-beda alurnya, tipikalnya adalah 'ada tokoh jahat dan baik',..'tokoh jahat menang terus' - 'tokoh baik dicitrakan oleh tokoh jahat...",dengan citra buruk bin ad hominem'- 'tokoh baik akhirnya berjaya'. Yang jelas, kalau anda adalah penonton, sama kayak saya, seringkali gregetan lihat adegan ketika pemain 1 film kompak menzalimi si tokoh baik. Gatel dan pengen terus ikutin kan? Ga bisa dipungkiri, sebagian pasti penasaran, kok tega sih tokoh baik terus menerus dizalimi.
hari ini, mungkin hidup di sebagian negara, selalu ada narasi melodrama atau telenovela : "hancurkan radikalisme" hingga komedian berkicau "free radical" udah jadi komoditas. Menjelang politik, narasi-narasi telenovela yang 'kadang bikin gatel' ini pasti muncul. Sebagian menyahut antusias mengiyakan, sebagian mempertanyakan penuh kegemasan. Gue juga gemas: emang apa sih radikal itu?
Oke,...aku sertakan sumber nya dari KBBI, radikalisme adalah : 1 paham atau aliran yg radikal dl politik; 2 paham atau aliran yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dngan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dl aliran politik. Gimana udah cukup konkret penjelasannya? Aku sertakan dari wikipedia, ensiklopedi kita bersamaah:
Radikalisme (aspek sejarah), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.
Partai Radikal – sejumlah organisasi politik yang menyebut dirinya Partai Radikal, atau menggunakan kata Radikal sebagai bagian dari namanya.
Gimana, sudah cukup jelas? Buat saya sih masih ngawang , dengan catatan saya tidak mau bikin definisi berdasarkan media cetak, habis media suka semaunya menafsirkan-gimana yang nyuruh- 
Oke, let me show you what's radicalism mean:
the political orientation of those who favor revolutionary change in government and society (vocabulary.com)
Bila dilihat keatas, dari ketiga sumber bahasa tadi, radikalisme itu bisa diartikan adalah :
1. Paham yang menghendaki perubahan drastis dalam politik dan sosial
2. Pengaturan ulang (redistribusi) pers,
3. Lebih terhubung dengan 'pembebasan;
4. Manipulasi 'kebebasan' dan 'hak milik'
Yap, kembali ke ulasan beberapa hari kemarin saya mengcounter antitesis terhadap 2 artikel 'so brilliant', artikel yang sumbernya koran baskom itu cenderung menilai organisasi ###, GN##, f$$ , H$I adalah gembong radikal. Ternyata bila dikaji menurut definisi di atas, itu tafsiran yang kurang holistik. Kalau dibilang 4 organisasi di atas radikal, sudah dari dulu banyak pers 'yang dikocar-kacirkan'. Kenyataannya, pas 114, 212, 411; malah banyak media yang dikawal F@@, ataupun wartawan yang dilindungi dari intimidasi orang-orang yang sudah tidak tahan tipuan sebagian media partisan.
 http://www.rakyatjakarta.com/foto-foto-laskar-fpi-ternyata…/. Jadi betulkah orang-orang tersebut yang radikal? Pers malah berusaha dilindungi kok...Jadi coret ciri-ciri no.2.
Tapi mungkin H## memenuhi definisi no. 1,...tapi yang bisa memenuhi definisi no.1 juga adalah orang-orang yang kemarin berbicara: "coba pisahkan agama dari politik" http://khazanah.republika.co.id/…/oninlv361-kiai-didin-memi…". Ataupun juga orang-orang yang senang bikin klaim sendiri, eh bukti2 ga mendukung: http://www.rmol.co/…/Gorong-gorong-Gedung-DPR-Sempit-&-Suli…
Jadi, yang memenuhi definisi radikalisme terkait pembebasan dan redistribusi gelar, lagi2 mentok di 'bukti',...justru malah orang yang dituduh radikal mau makar, ga punya senjata dan bom apa-apa. Jadi siapa yang sebenarnya radikal? Ya mungkin kita semua radikal.
Kenapa aku bilang kita semua? Ya aku masih heran dengan orang-orang yang mendebat saya sampai belasan paragraf, saat saya dulu di barisan penentang Lady Gaga Konser di Indonesia. "Eh brian, lu konservatif banget, tengok luar negeri sana". Dan begitulah berkali kali kritik mengalamatkan bahwa :"Kok elu kayak takut iman ente kurang, lantaran artis datang ke Indonesia??" Ya begitulah tanggapan di medsos,...kalau gue sempat di barisan menentang konser, kontroversial ya alamat diteriakin "konservatif".
Hanya saja, yang bikin aku heran, eh giliran ustad Zakir Naik datang ke Indo, orang-orang yang mendebat saya itu, pada bikin status agak paranoid, persis kayak saya waktu dulu mengkritik "konser kontroversial",....kadang-kadang ada yang ngibrit kayak anak kecil hendak kabur di imunisasi.
Ngomong-ngomong soal imunisasi, mungkinkah diterapkan untuk pencegahan kanker? Awas jangan pakai terapi anti kankernya Pak Warsito, nanti beliau diincar sama para dokter di sini buat dicerca, tanpa beliau dikasih ruang diskusi
Bisakah kita saling berbagi dalam ruang diskusi tentang radikalisme? Ah sudahlah, ini era digital, tapi bertanya sudah mahal harganya. Ini era klaim dahulu, menyesal dan meminta maaf kemudian 

Rabu, 01 April 2020

Celah Atap


Celah Atap
M.Seftia Permana

Lampu-lampu rumah di kaki gunung, akan mati terbunuh pagi
Garis jingga di balik awan, seperti belati yang menikam
cahaya lampur-lampu rumah di kaki gunung. 

Jerit sepi kamar-kamar yang terkapr, terdengar hingga ke selasar. 
Sangat sepi. 
Lampu-lampu mati, ditinggal Pak Tani pergi ke Ladang. 

Hanya bunyi tonggeret dan sesekali angin menyusuri dengan
hati-hati sebagian dinding dan tiang yang mulai melapuk
Sepi sang Pembunuh bisa menjadi Sunyi yang hangat..

Atap rumah menengadahkan wajah pada Langit Plontos pukul 7
Ia yang mengisi setiap celah-celah atap. 
Mengusir ruang hitam, memberi warna dan bentuk. 
Terus bergerak hingga langit kembali jingga. 
Pak Tani kembali pulang dari ladang saat senja, 
kemudian menyalakan lampu-lampu.
di esetiap ruang, kamar, hingga selasar. 

Sunyi sepi bukanlah ruang ketakuan, 
ia hadir unutk mengisi lukisan-lukisan
di setiap celah-celah atap, yang tampak meratap. 

Gubuk beratap daun rumbia
Berdiri di ujung talut menghadap laut. 
Ia, yang menjadi peraduan.
Saut peluh resap membasahi tubuh. 

(M. Seftia Permana, 2016)

Menakar Kembali Kadar Pemberi Obat Hati

Sebuah Catatan 2016 Kalau badan kita sakit, tentu datang ke dokter dan minta resep obat: entah generik atau antibiotik, atau hanya sekedar ...