Kamis, 14 November 2019

Refleksi FIlm Finding Mr. Right: Bagaimana Kesetiaan Menjadi Obat Manjur Penakluk Materialistis


"Bri, aku heran deh. Kemarin temanku putus  dan aku miris banget. Selama pacaran dia padahal ga pernah absen kasih duit dan perhatian yang ga sedikit buat ceweknya itu. Ceweknya kerja dan dompetnya selalu kosong di akhir bulan. Bahkan ngutang. Aku jadi ngeri sendiri, Bri. Gimana ya kalau besok tunangan sama cewek matre?" keluh temanku panjang lebar pada suatu ketika.

Awalnya aku merinding dengan penuturannya: jangan-jangan besok aku yang kejadian. Tapi mendadak aku ingat sebuah kisah romantis yang pernah kutonton saat naik pesawat pulang ke Indonesia. Lantas, aku kembali mengajukan tanya pada temanku itu.

"Kira-kira temanmu itu sering ketemuan dan saling ngobrolin cita-cita bareng sama yang sekarang jadi mantannya itu?"

"Wah jarang sih. Kan dia pramugari jadi jarang menetap dan ketemuan lama."

"Ya kalau kuakui, sebenarnya teman kamu  beruntung, Med. Sebelum naik pelaminan sudah tahu sifat asli calon istrinya."

"Ya sih, cuman sayang. Pengorbanan dia buat ceweknya itu udah banyak."

"Sekarang sih kita ga usah khawatir. Bisa jadi, ada yang sedang berdoa supaya dijodohkan dengan teman kita itu, lantaran kagum dengan dedikasi cintanya."

"Pede amat kamu, Bri. Apa jangan-jangan kamu udah lihat siapa yang naksir teman kita itu?"

"Belum yakin sih. Tapi aku sih percaya orang setia akan berjodoh dengan orang yang setia juga."

Mungkin memang penuturan asumsi saya tidak cukup untuk menbuat teman saya itu lega. Yang saya yakini, sifat mata duitan ada saatnya akan punah ataupun terkendali.

Kepala saya terngiang-ngiang akan isi film Finding The Mr. Right. Apakah ini semacam film drama picisan? Di menit pertama memutarnya, memang demikian prasangka saya menghasut. Namun sekian menit berlalu, saya mulai tenggelam dalam perwatakan dan perawakan para pemain yang ada dalam film terbitan tahun 2013 tersebut.

"Bri, apa kamu jangan-jangan dapat wangsit? Kok yakin banget dia bakal ketemu jodohnya bentar lagi?"

Temanku kembali bertanya memecah lamunanku. Kujawab saja dengan mengangukkan kepala. "Ya, soalnya baru dapat bisikan rahasia."

"Dari mana?"

"Produser film Asia."

Kami pun berkelakar ringan, lalu berpisah jalan.

Oke, mungkin saatnya mendalami apa yang menjadi lamunan saya soal film.Finding Mr.Right, demikian tajuk film yang menggugah tersebut. Padahal kalau sub-title judul Tiongkoknya dieja pelan-pelan, judul asli film ini adalah :"Dari Shanghai menuju Seattle"

Hanya saja, kalau saya menjadi produser cerita filmnya, judul tersebut takkan dipastikan takkan tercantum di trailer, iklan, maupun pamflet. Maaf pak produser, memang lebih memikat menggunakan judul "Finding Mr. Right"

Image result for finding mr. right
Finding Mr Right: Kesetiaan Menaklukkan Materialistis
                                              

Yang akan kita jumpai dalam film drama 123 menit ini, adalah kisah mengadu nasib di negeri orang tanpa sertifikasi, yang bermuara pada kisah asmara yang langgeng. Kendati latarnya mengambil penampakan kota Seattle, sutradaranya menempatkan film ini selaku wahana perubahan dan pendalaman konflik asmara antara kedua tokoh utamanya.

Dalam film besutan Xue Xiaolu ini, diceritakan bahwa ada seorang diva asal Tiongkok hendak mengadu nasib di Amerika dan menemukan ayah dari bayi yang dikandungnya. Dia yang bernama Jiajia ini kemudian bermukim di asrama khusus yang menampung ibu hamil.

Lantaran hanya berbekal pede dan modal dengkul, Jiajia tidak siap dengan segala perubahan dan aturan di Seattle. Mau tidak mau, wanita muda ini akhirnya banyak bergantung pada supirnya yang  sudah beruban, Frank.

Kepada Frank, Jiajia sering membanggakan calon ayah bayinya yang konglomerat, yang menjanjikannya hidup bergelimang harta. Frank sendiri sebenarnya adalah seorang dokter beranak 1, yang sedang diambang perceraian dengan istrinya. Frank terpaksa menjadi supir, lantaran lisensi praktek di Amerika terganjal birokrasi dan prosedur yang rumit.

Awalnya Frank harus sering menahan jengkel dan kesal dengan berbagai tingkah Jiajia yang sembrono dan seenaknya sendiri. Namun, setelah Jiajia memahami konflik rumah tangga Frank lebih mendalam, tumbuhlah simpati di dalam hati Jiajia.

Setelah ikut akrab dengan putri Frank yang masih berusia 6 tahun, lambat laun Jiajia semakin lengket dengan Frank lalu lupa tujuan utamanya mencari ayah dari bayi yang dikandungnya. Ikatan emosi itu kian kuat terutama setelah Frank begitu rajin dan telaten mendampingi Jiajia memeriksakan kandungannya. 

Pada suatu ketika, Jiajia mengalami pingsan yang membuatnya harus segera bersalin. Setelah 3 hari tak sadarkan diri, Jiajia semakin tersentuh mendapati hanya Frank yang menemaninya hingga siuman.
Hingga pulih, Frank menerima Jiajia untuk tinggal sementara di rumahnya, sampai Jiajia kembali pada misi utamanya. Tidak lain tidak bukan, adalah menemukan ayah dari bayinya.

Sekian tahun hidup berdua bersama putrinya, Frank kembali bertemua Jiajia bersama putra kecilnya di sebuah menara.  Jiajia mengakui bahwa dirinya sudah tak ingin berhubungan dengan ayah dari putranya, lantaran kasih sayang hangat dari Frank menggugah hatinya.

Demikianlah film tersebut menjadi inspirasi saya. Setelah film itu saya cerna, rasanya sifat buruk setiap orang akan menemukan penawarnya pada waktu yang tepat. Karena manusia tak hanya kaya dari materi, namun juga dari arti kedekatan yang tulus dan membangun. Berangkat dari ketidaksengajaan mencerna film 2 jam tersebut, saya mencoba belajar untuk sabar dan setia, manakala menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan dari pasangan maupun orang sekitar kita.

Sebagaimana luka yang menyergap kita bisa pulih oleh waktu, demikian pula sifat buruk kita yang kadang mendarah daging.

SEKIAN

Rabu, 06 November 2019

Keajaiban Tokyo dan Fantasi yang Tak Pernah Padam-Epilog One Day One Post

Destiny is calling you, passing through your edge of heart

We're not a loss anymore, and look up your future


And surely, we'll unite once again


We're filled with power


Don't lose the past


Gone with the steel


(Reffrain Lagu 'Destiny', Dipopulerkan  Band Galneryus, Lima  Pria Pemusik Gahar Senior Jepang)


Semenjak SMP kelas pertama, saya mulai yakin bahwa kegiatan menulis adalah kunci mengabadikan fantasi, fiksi, analisa, dan aspirasi. Terkait dengan pemahaman  mengenai sisi fantasi , saya tumbuh besar mengenali dan membedah seluk-beluknya berkat komik Magic Knight Rayearth, -populer di Indonesia dengan nama Pendekar Ajaib-  hasil tangan dingin tim komikus wanita CLAMP. Dalam komik fantasi yang berhasil melambungkan nama penulisnya ini, dikisahkan tiga orang gadis dari SMP berbeda terpanggil menuju dunia lain melalui sebuah seruan di menara Tokyo. Seiring berjalannya cerita, tiga tokoh utama dalam komik ini berhasil mengeskalasi kekuatan beladiri dan sihir mereka hingga mampu mengendarai raksasa yang disebut 'Rune God" atau dikenal di Indonesia sebagai 'Dewa Mesin'. 


Tiga tokoh utama pendekar ajaib (Kanan-Kiri): Hikaru, Umi Ryuuzaki, dan Fuu Hoji

Dalam banyak kesempatan, seringkali saya merefleksikan perjalanan menulis saya seperti  pengalaman para tokoh utama MKR. Di awal cerita, mereka tak kenal sihir dengan baik, namun terpaksa menggunakannya lantaran perlu untuk bertahan hidup dari serangan monster dan para panglima jahat yang dipimpin oleh Uskup Zagard. Begitupun saya dalam menulis; lantaran banyak tugas semenjak SD yang menuntut kemampuan menggoreskan pena, lambat laun keakraban dengan dunia literasi adalah keharusan untuk menambah ilmu pengetahuan. Seperti halnya para pendekar ajaib yang terus bertambah kemampuannya, ketika menjadi siswa kelas satu SMP cukup terkejut saya mendapati karya buatan tangan dipilih untuk sosiodrama. Sebagaimana para pendekar ajaib mendapat 'restu' para dewa mesin, semenjak momen tugas itu, saya terpacu untuk mendalami dunia tulis-menulis, disamping hobi coret-mencoret gambar. 

Trio Dewa Mesin, Pemilik Kekuatan Tertinggi bagi Para Pendekar


Selama masa SMA, saya vakum terhadap kegiatan menulis yang serius. Tak ada cerita aneh ataupun esai yang terlahir dari tangan saya. Tatkala menginjak bangku kuliah, saya baru kembali menekuni dunia tulis-menulis, terpicu dari keberadaan Facebook, Twitter, dan Yahoo. Selain itu, mata kuliah bahasa di ITB cukup kondusif dalam mendukung hobi menulis saya. Kegemaran menulis ini mulai kembali menggila saat sering jadi panitia kuliah, hingga terjun ke jalan sebagai demonstran. Tak lebih dari lima puisi dan dua esai yang masih minim data dan kedalaman perspektif, lahir dari hasil iseng-iseng saya. Kendati demikian, pengalaman ini memantik saya untuk belajar menulis lebih serius. Jadilah beragam lokakarya dan seminar menulis saya ikuti, dari mulai festival literasi mizan hingga Kelas Menulis Puisi Online. 

Tahun 2018, Gabung ODOP 6 Lalu Gerak Balik Kanan
Setelah berjibaku dengan beragam materi penulisan, saya mulai menantang diri. Jadilah antologi Kekuatan Doa lahir dari keinginan mengungkapkan rasa syukur atas petunjuk Illahi untuk jalan hidup yang lebih bermakna, tentang setelah berkali-kali ditolak lamaran kerja lalu bulat tekad lanjut S2. Di saat hampir bersamaan, sebuah iklan mengenai One Day One Post semarak di laman instagram. Berawal dari rasa penasaran, kucoba saja mengikuti ODOP. 

Tapi, kemudian saya berhenti di tengah jalan. Ada beberapa orang PJ Odop 6 yang mencoba cari tahu, salah satunya Ake Auliana dan Lutfi Yulianto. Saat itu isi pikiran saya terbelah oleh banyak hal, salah satunya memberi perhatian lebih untuk istri yang sedang menanti kelahiran putra pertama. Karena saat itu saya dalam masa cukup bimbang, barulah pertanyaan Lutfi dijawab. Sayang, ODOP 6 keburu berakhir. 

Akan tetapi, saya akhirnya tetap menjalin persahabatan dengan beberapa orang dari ODOP 6. Di antaranya adalah Mas Winarto, mba Nata Salama, mba Suci, Mba Rindang Yulia, hingga Mba Kifah Ismail. Penyesalan tidak terlibat dalam ODOP 2018 saya bayar dengan mengawasi berita-berita terkait ODOP, salah satunya tentang pemilihan ketua ODOP.  Saya sampai hafal saat itu salah seorang bapak yang telah berkeluarga terpilih jadi pemimpin besar ODOP. 

Setelah beberapa momen mencoba berkenalan lebih jauh, Lutfi menawarkan saya untuk terlibat dalam ODOP batch 7. Dengan senang hati saya berikan antusias untuk tawarannya. 

RWC Odop

Sebelum ODOP 7 berlangsung , saya coba menjajal konsistensi menulis lewat ajang RWC. Hasilnya cukup mengubah gaya berpikir saya. Terkadang, hanya untuk setor tulisan, saya rela nongkrong lama di depan minimarket. Acapkali saya pernah ditegur Isnania, sang PJ rekapitulasi untuk mencantumkan tema dalam tulisan yang akan disetor. Berkat konsistensi yang tertuang dalam adrenalin otak dan tangan, Alhamdulillah saya jadi penulis terbaik grup Fatimah. 

Melalui grup Fatimah, saya bukan hanya kenal Lutfi Yulianto, melainkan juga beberapa pegiat literasi lain. Katakan saja Avis Melivera alias Rizki Maulana, Jihan Mawaddah, Lisa Pingge, Nina Saingo, dan juga pujangga wanita pengabdi pendidikan Halima Maysaroh. Adalah suatu kebanggaan bisa bersanding jadi penulis terbaik di ajang yang begitu singkat. 

Jika saya kembali mengulas tiga puluh tulisan itu, ada rasa haru yang cukup membuncah di dada. Bahwa dalam waktu yang singkat, ada saja kenangan dari alam bawah sadar yang bisa lahir dalam susunan aksara yang terjalin dalam sistematika solid. Tak dinyana, RWC ODOP membuka peluang saya untuk berkarir di lain grup, salah satunya Excellent Family Writer. Tak lama setelah mengenali sepuluh unsur wajib cerpen di EFW, lonceng ODOP pun bergema. Saya bersiap ikut barisan dengan setumpuk rumus sistematika tulisan dan beberapa jalan pintas menggali gagasan. 

Lonceng ODOP Ditabuh, Mendarat di Menara Tokyo. 

Terkesima. Begitulah kesan pertama ketika saya dijebloskan ke dalam grup yang mengambil nama ibukota yang menjadi latar banyak cerita fantasi. Tokyo, demikian nama titik pusat negeri matahari yang selalu menjadi rujukan dalam melanglang buana, yang terkenal dengan harga barang premium dan menara pemancarnya. Di grup ini saya bertemu dengan banyak orang dengan beragam gaya dan kedalaman menulis, dengan beberapa fasiltator yang karakternya warna warni. Terus terang, cukup sumringah mendapati bahwa Lutfi Yulianto yang telah lama saya kenal mendapuk jadi pimpinan fasilitator Tokyo. 

Di dapur rekapitulasi dan supervisi penyuntingan, grup Tokyo punya Dyah Yukita. Gadis berkacamata yang mengabdi jadi editor profesional ini memiliki kejelian membaca yang membuat saya tercengang. Di antara minggu kedua dan ketiga, gadis yang sebaya dengan adik sepupu saya ini cukup lugas menggali substansi beberapa tulisan yang telah dibuar. Dengan melihat daftar coretan setiap minggunya, saya cukup penasaran soal berapa cepat kaidah kesesuaian kalimat bisa tertangkap matanya. Sesekali kulihat kacamata, saya acapkali berimajinasi bahwa Dyah Yuukiyta adalah 'Cyclops-nya' para PJ Tokyo, jikalau para fasilitator memiliki kekuatan serupa X-men. Mata lasernya adalah senjata terhebat yang membuat seorang Dyah Yuukita menjadi polisi bahasa yang sakti mandraguna. 

Yang membuat Tokyo istimewa tak hanya Lutfi dan Dyah. Ada Mbak Betty yang setiap pagi selalu memberikan salam hangat. Dengan pembawaan ceria, energik, dan antusias, Mbak Betty kerap mengingatkan peserta untuk bersemangat dan fokus dalam bedah. Mbak Betty sendiri adalah seseorang yang sudah bertangan dingin melahirlkan tiga buku solo. Di sela-sela agenda beliau menjadi fasilitator, seringkali kuteladani semangatnya membina harmoni dengan keluarga kecilnya. Kuakui, mbak Betty adalah role model parenting yang cukup inspiratif. 

Sosok fasilitator lain yang tak kalah penting adalah mbak Titi. Berkat program blog walking yang dikawalnya, peserta Tokyo terdorong untuk saling bersilaturahmi aksara. Setelah berjalan lebih jauh bersama beliau, sepertinya ia tertarik dengan tulisan tema keluarga. 

Di antara mereka berempat, ada pula pengawas grup besar yang bernama Mbak Sandra. Instruktur senam ini cukup aktif mengawasi kami kendati sedang hamil besar. Kudoakan semoga dedek dan mbak sehat selalu. 

Rekan-Rekan Tokyo yang Berbahagia

Tak kurang dari dua puluh peserta terlibat dalam laboratorium bernama ODOP, dalam sebuah rumah kecil. Adalah sebuah kejutan kembali bertemu dengan Halima dan Avis/Rizki. Momentum ODOP ini membuat saya bisa mendalami lebih jauh intuisi dan pergerakan suara hati mereka lewat puisi-puisi yang mewarnai perjalanan delapan minggu. Kadang saya prihatin dengan perjuangan Halima berjibaku di tempat kerjanya yang menjelma jadi supermarket bencana. Semoga dibalik musibah ada hikmah. Terkait Avis, saya merasakan gelora Kahlil Gibran terwadahi oleh pemikirannya. Puisi gubahan Avis acapkali membuka ruang kerinduan yang penuh misteri, tanpa perasaan galau yang berlebihan. 

Selain Avis dan Halima, beberapa teman yang berkesan adalah mba Anis, Ayu Safitri, Lilis, Fitri Ane, mba NyiHeni, Yulia Tanjung, Dewi Ratna, Mei Tantie, Qheiza, Rahman Arrijal, hingga Rifqi rekan bedah dan Nio yang selalu bersemangat blog walking. Saya merasa butuh banyak belajar fiksi pada mba Anis, Dewi Ratna, dan Nio yang bisa memadukan banyak unsur untuk melukis cerita yang apik. 

Kepada Mba Anis, aku butuh belajar membangun suspense cerita yang bisa menghadirkan ketegangan. Mba Dewi pun saya kagumi karena piawai membawakan fiksi roman yang bisa membuat rasa hanyut. Teruntuk Nio, mungkin saya butuh kursus dengan anda untuk memadukan lirik dan narasi fiksi dengan lebih intensif. 

Mba Ayu, Lilis, dan Fitri seringkali berbagi curahan hatinya lewat tulisan. Tanpa sadar, lewat blog walking saya diam-diam telah menyerap keseharian mereka. Mudah-mudahan curahan hati yang tersusun bisa menjadi legenda seperti buku Diary Anne Frank. Melihat tulisan mereka, akhirnya sayapun tergoda untuk curcol di sepanjang petualangan ODOP. 

Mbak Qhei, Tantie, Heni, dan Yulia sepertinya sudah piawai membawakan artikel. Sering saya berandai-andai bahwa mereka adalah jurnalis yang menyamar di ODOP. Di minggu-minggu terakhir, saya mulai tercengang dengan kejelian mbak Tantie membaca tumpukan chat. Mbak Qheiza seringkali menyajikan artikel kesehatan yang mumpuni, dimana Mbak Heni cukup jeli melihat tren kejiawaan dalam artikelnya. Di setiap grup penulis, pasti ada motivatornya, dan aku terkejut menyadari bahwa Mba Yulia-lah orangnya. Melihat tulisan mbak Yulia, kadang jadi rindu demo mahasiswa. (Lho?)

Dua teman lelaki saya selain Avis di grup Tokyo bisa dibilang meninggalkan kesan cukup mendalam. Saya masih ingat bagaimana Rifqi begitu optimis untuk jadi enterpreneur sukses, lalu berusaha menyajikan gubahan fiksi yang radikal dan apik. Saya percaya Rifqi bisa jadi pakar inovasi suatu saat nanti. Rahman sendiri kerap romantis dalam berpuisi dan entah mengapa saya menikmati pembawaan satir dalam narasi blog miliknya, manusia amatir. Saya berharap, kalian bisa menjadi bintang bersinar di bidang yang ditekuni masing-masing. 

Penutup

Petualangan dalam menara Tokyo telah berakhir. Tetapi, kerinduan untuk kembali berpadu dan beradu pasti akan tetap ada. 
Setelah hujan berlalu tinggalah genangan, setelah petualangan berlalu tinggalah kenangan. Delapan minggu ini tetaplah terlalu singkat untuk saling mengenal dan bersilaturahmi dalam aksara.  
Setelah ini, mungkin kita akan sibuk dengan jalan masing-masing, tetapi rindu takkan menyakitkan selama tak ada niat saling melupakan dan mengkhianati. 

Kelak, aku akan merindukan Tokyo, sebagaimana Hikaru, Foo Houji, dan Umi selalu bergemuruh untuk berjumpa dalam menaranya, lalu terbang menuju Zephyr. Sehabis ini, semoga pikiran, tangan, dan naluri kita bisa mewujudkan dunia yang lebih adil dan indah. 

SEKIAN
SELAMAT JALAN, TOKYO.

JAYALAH SELALU, ONE DAY ONE POST 










Sabtu, 02 November 2019

Bagaimana Cerita Ini Mencapai Penghujungnya


(Cerita ini merupakan sebuah konklusi)

Pada zaman dahulu, Nuh Alaihissalam memimpin rombongan hewan untuk bersama-sama memasuki bahtera raksasanya. Setiap jenis hewan yang memasuki bahtera tersebut memiliki pasangannya masing-masing. Di setiap wilayah, para hewan berkembang biak dan saling merangkul hingga lahirlah spesies-spesies baru yang menghuni muka bumi. 

Namun, manusia-manusia pengikut Nuh tak lantas mengikuti titahnya. Setiap hari, mereka berkeluh kesah dan semakin tamak, hingga dihanguskannya seisi hutan. Ladang-ladang mereka dirikan, hewan mereka bantai. Kendati demikian, masih ada sosok manusia yang sudi untuk menjaga kekayaan alam ini. Sayang, nyawa mereka sering berakhir mengenaskan ditangan para manusia tamak dan lalim. 

"Jadi, begitukah kisah awal mula hubungan pahit dan manis antara manusia dan alam, buaya kecil?" tanya Yoka hendak mengulas cerita yang disampaikan. 

"Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh kakekku. Tepat sebelum ia diburu dan dikuliti manusia atas nama perubahan zaman." jawab buaya kecil bernama Dodon yang kini satu sekoci dengan rombongan Komu. 

"Aku terkejut saat kau sebutkan nama ayahku, Don. Jadi, teman baik yang dimaksud ayahku rupanya adalah ayahmu."

"Ya, maafkan aku yang memanggilmu dengan nama ayahmu. Aku turut berduka atas kepergiannya."

"Terima kasih, Don. Mungkin beliau sudah tenang di alam sana. Bolehkah kami minya dirimu untuk menunjukkan jalan menuju markasmu?"

"Tentu, tapi kusarankan kalian tidak bermalam di tempatku. Beberapa kali, ayahku kelabakan dengan para buaya yang berkhianat lantaran bersekutu dengan klan lain, lalu menghabiskan makanan-makanan kami."

"Wah, ternyata di rawa sesejuk ini, suasana hati tetap panas ya. Mudah-mudahan, mereka bisa bersatu karena tahu akan panas yang lebih dahsyat oleh ulah tangan manusia."

"Ya. Tiap malam aku berdoa, meskipun setiap hari ada saja pengkhianat yang muncul dan membuat berang. Sampai-sampai, aku berenang menyelamatkan diri lalu hampir terkurung dalam lambung ikan arwana."

"Kalau bukan karena elang jambul itu sedang lapar, mungkin kami tersesat hilang arah."


Tak kurang dari puluhan kilo dikelilingi bukit-bukit terjal, rombongan Komu dan para iguana tiba di markas Saghot, pemimpin klan buaya dan ayahnya Dodon. Berkat arahan dan ancer-ancer dari buaya muda itu, mereka bisa melintasi rawa yang panjang itu Terlihat sang pemimpin buaya dikawal oleh selusin ajudan yang merapat di sekitar rawa yang bergelembung. Pemimpin klan itu mengamati dengan seksama kombinasi hewan yang ada dalam rombongan Komu. Matanya kemudian menatap lama Yoka. Buaya besar itu memiliki sisik yang padat, sorot mata tajam, rahang lebar, dan gigi-gigi pendek yang tajam. Sebagai pemimpin klan, Komu dan rombongan merasakan wibawa yang menekan dari reptil raksasa yang terlihat pendiam itu.

"Terima kasih telah menyelamatkan putraku.  Jadi, kau putra Tigor, sahabat lamaku? Aku turut bersedih atas kepergian ayah dan ibumu, Nak.

"Terima kasih, tuan Saghot. Aku cukup terkejut saat Dodon menyebutkan nama ayahku. Sekarang aku mulai ingat, bahwa dulu ayah pernah beberapa kali menemuimu"

"Delapan tahun memang waktu yang tak terlalu lama. Jujur, aku merasa kehilangan salah satu teman setiaku dan kini hutan rimba semakin berubah. Hanya di daerah rawa berkabut ini kami para buaya bisa bertahan dari terjangan manusia. Mereka belum menjamah tempat ini, namun makanan semakin habis. Itulah mengapa kaum kami tidak punya pilihan selain baku hantam dengan lima klan lainnya, demi sesuap makanan. "

"Jadi, memang di rawa ini terjadi perebutan makanan yang cukup ketat ya, tuan Saghot. Maka itukah sebabnya mengapa tempat ini tak cocok untuk kami berdiam?"

"Memangnya kalian mau jadi bulan-bulanan klan lain? Biasanya, setelah setiap sore kami berburu, pasti ada anggota klan yang luka bahkan tewas. Hanya lima ekor rusa atau seekor kerbau dalam sehari yang tampak di sekitar rawa.  Aku akan utus beberapa orang untuk mengantarmu ke habitat dimana kalian bisa tinggal untuk waktu singkat. Tapi, kalian harus terima dengan apapun yang akan kalian dapati di tempat baru. Diantara enam klan ini, termasuk kami, tak ada yang suka berkubang dalam air asin."

Kemudian rombongan Komu dan hewan lainnya diantar oleh para ajudan menuju tempat persinggahan mereka sementara. Sebuah perbatasan antara rawa dengan pantai, dimana terdapat banyak pohon bakau dan kelapa. Rombongan terkesima dengan penampakan teluk yang cukup indah, udara yang sedikit berkabut,. Tapi, ada yang membuat Komu, Mara,  dan Neka terkesima.

"Hei, kau sudah lama tinggal di sini? Siapa namamu? Kami pendatang baru.". timpal Komu memperkenalkan diri

"Halo, iguana berwarga gelap, apa rasanya memanjat kelapa? Apa kami bisa belajar darimu?" sahut Neka memanggil seekor iguana bongsor berwarna coklat gelap.

Tak lama, Rudra datang dari suatu tempat yang jauh. Ia datang dengan paruh berdarah. Rupanya, ia baru memberi pelajaran kepada sang 'ayah tiri paksa', meski tak sampai menghabisi nyawanya. Yoka tertegun dengan penampakan pantai, lalu melihat sekeliling. Banyak burung camar tampak menggugah selera mata, beserta beberapa kepiting yang sesekali merapat ke teluk. Lantaran mereka banyak melihat hewan-hewan serupa mereka di pesisir, mulailah mereka menyusun kehidupan baru.


TAMAT




#Tantangan8eps6
#SambunganSabtu
#OneDayOnePost2019
#Odopbatch7
#CeritaBersambung
#Ekologi

Jumat, 01 November 2019

DI Balik Semua Cerita Ini


“Kak Guni, hendak kemana?”

“Aku  makin bingung sama Bong. Setiap hari ku tolong dia memetik buah, tapi aku hanya jadi ban serep. Dia minta ini, minta itu, baru ingat giliran butuh. Giliran punya makanan, malas bagi-bagi. Kalaupun kebagian, cuma sedikit. Jadi siapa sih yang dulu janji manis ‘saya takkan bikin kalian kelaparan’?”

“Iya juga sih, memang dia sedikit rakus..”

“Berbulan-bulan kita ikut dia….nyatanya badan makin kerempeng. Coba dulu kita ikut Neka.”

“Buat apa kalian bahas dia lagi? Apa kalian sulit bersyukur punya saudara iguana yang normal?”

“Bong? Jadi, dari tadi kau belum berangkat mencari anggur?”

“Aku tunggu kalian sejak tadi. Ternyata kalian malah berbicara yang tidak-tidak tentangku. Aku tak masalah pergi sendirian untuk cari makan. Nanti kalau ada satwa lain yang jadikan kalian kudapan, aku takkan ikut bertempur.”

Bong memalingkan muka, Guni dan Mara saling berpandangan. Kedua iguana itu kemudian menyusul saudara tertua mereka untuk menenangkannya. Selama terpisah bertiga dari rombongan Komu, Bong dan Guni selalu siap memasang badan manakala marabahaya memngepung mereka. Kendati rakus, Bong paling lihai mengecoh para predator, meskipun Guni yang lebih menguasai ilmu bela diri kadal.

“Jadi, kita tetap akan makan siang bersama?”

“Tentu saja! Kemarau sudah usai,  semestinya buah-buah tumbuh lebih ranum.”

“Ah, Bong, Mara! Lihat sesisir pisang itu! Kita takkan kelaparan untuk berbulan-bulan, hore!”

“Tunggu, tunggu. Kok bentuk dahan pohonnya aneh? Kenapa bentuknya lurus sekali?”

“Kau mungkin berhalusinasi karena lapar, Mara. Nanti kuberi lebih untukmu, biar jadi obat halusinasi.”

….
“Ular sancaaaa!! Lariii……!”

“Nah, apa kubilang, kak Guni?Untung kita masih bisa menyelamatkan diri.”

“Sekarang kita berlindung di gua, cepat! Ular besar itu takkan bisa masuk.”

Selangkah mereka terlambat, Guni mungkin sudah menemui ajalnya. Ular besar itu masih bersikeras menyambar para iguana, meski lehernya tak sanggup menembus celah kecil gua. Ketiga iguana itu terus berlari menuju tengah gua. Tibalah mereka di bilik yang gelap, terjal, ditumbuhi lumut, dan sesekali terdengar bunyi gemercik air. Bulu roma ketiga iguana bergidik, mereka kini hanya tergantung pada penciuman untuk mencari cahaya dan pintu keluar.

“Gelap”

“Aduh! Keras sekali batu ini.”

“Tetap jaga langkah kalian, kadal muda!  Apa kalian sudah lupa cara meraba bebatuan yang ibu ajarkan sejak kecil?”

“Duh, kak Bong. Kau jangan buat aku terkenang ibu. Aku jadi sedih.”

“Sudah, tak ada waktu untuk terbawa perasaan. Lebih baik kita cari jalan keluar dari tempat ini. “

“Lihat! Ada celah gua yang menganga!”

“Memangnya kau yakin ini arah yang tepat, Bong?”

“Mau ke mana lagi? Apa menurutmu perlu kembali biar dilahap ular raksasa?”

“Baiklah. Aku turuti dirim. Awas saja kalau kau membawa kami dalam bahaya. “

“Apa itu? Rumput di tengah gua?”

“Rumput mana yang bisa sebesar dan sebulat itu?”

“Sudah, lupakan saja. Kita fokus cari lubang keluar.”

“G-g-g-Guni. “

“Iya, Mara?”

“R-r-r-rumput bu,bulat itu bangun, Guni. I-i-i-tu,b-b-b, berrr,…. beruaaaaaannggggg!!!!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!

“Grrraaaaaaaooooooooooooo!”



“Hei, jangan menyenggolku. Sarang ini sudah sempit, nanti kalau aku jatuh ke lereng, kau mau bagaimana, Yoka?”

“Kau kan enak punya sayap, Rudra. Aku tak kuat harus tidur melawan angin. Dingin sekali disini. “

“Kalau kau mau, besok kita berburu merpati dan dara. Kita cincang mereka untuk makan siang, bulunya kita jadikan selimut. Aku sudah bosan terdempet terus selama berminggu-minggu ini. ”

“Baiklah, tapi sekarang boleh kan kita tidur dulu? Aku lelah sekali, tapi angin malam ini menusukku.”

“Semestinya kau belajar kepada para kadal bagaimana bisa tertidur nyaman diatas batu tanpa terusik. “


“Ma, Mara..”

“Apa kau dengar suara itu, Rudra? Aku mendengar igauan?”
“Ya, kurasa itu suara Kamga. Si kadal bocah itu. Bagaimanapun, dia masih cukup muda saat kehilangan ibu dan terpisah dari saudaranya yang lain. Akupun demikian, setelah kusaksikan ayah dan ibu tewas mengucurkan darah tepat di depan mata.”

“Semoga arwah mereka diterima oleh Yang Maha Kuasa.”

“Lalu, dimana ayah ibumu, Rudra? Apa memang elang remaja sudah saatnya hidup menyendiri.”

“Kurasa demikianlah alam memilihku untuk tetap hidup dan terbang bebas. Ayahku mati dalam suatu perkelahian dengan rajawali. Tak kusangka, rajawali bajingan itu menendangku dari sarang, lalu membawa ibuku untuk memuaskan hasratnya. Untungnya, aku sudah mulai paham bagaimana melawan daya tarik bumi saat itu. Luka tertabrak pohon itu tak ada apa-apanya dibanding apa yang telah direbut si pecundang itu. “

“Aku turut prihatin padamu. Kuharap ibumu sehat-sehat saja.”

“Ya, semoga saja saudara-saudara tiriku tak sebiadab si pecundang itu. Ingin sekali kucabik kepala botaknya. “

“Sudahlah, ayo kita tidur kembali.”                 Pagi tiba, rombongan hewan campursari bersiap mencari makan di sekitar lereng. Bagi para kadal, tak mudah mencari makan di antara tebing.  Pepohonan baru tersebar di daerah turunan. Beberapa kali, para iguana dan Komu memilih untuk menetap di lembah, namun setiap malam udaranya membuat sesak nafas.  Baru ketika matahari membumbung tinggi, udara lembah terasa lebih aman. 

"Komu, aku terpikir soal Mara, Guni, dan Bong. Apa jangan-jangan mereka menderita karena api yang membumbung tinggi?"

"Aku pun berpikir serupa dengan kak Neka. Tapi kurasa mereka sanggup bertahan. Selama mereka tidak bertemu pemangsa bercakar besar, aku yakin Guni dan Bong akan selalu melindungi Mara."

"Terus terang, dibanding Bong atau Guni, aku lebih mencemaskan Mara. Di antara kita berenam, dia cukup pasif dan tidak begitu pandai berkelit. "

"Kak Komu, kak Neka, hutan sebelah timur sudah hangus. Pohon-pohon tumbang, bagaimana dengan rumah kita? Makam ibunda?"

"Mungkin, bila ajal dalam bencana telah tiba, siapa bisa mengelak, Kamga? Lagipula, rumah bukanlah sarang belaka. Rumah adalah tempat dimana kita selalu bisa melupakan beban hidup dan berkumpul dengan yang kita sayangi. Ibu sudah tenang di alam sana, dan sekarang kita belum bisa kesana. Dibanding harimau dan elang, bangsa kadal paling rentan terhadap asap dan debu, karena penciuman kita yang tajam ini.  "

Kamga terdiam memaklumi, meski ia melihat beberapa tetes air mata tumpah di wajah Neka yang memalingkan muka darinya. Kamga membatin tentang sulitnya situasi karena asap yang terus melahap seisi hutan. Saat ini, memang lereng gunung adalah tempat teraman untuk mereka, selama tak banyak pilihan yang bisa ditempuh.

"Tolong, tolong!"

"Kau dengar suara itu, Komu? Entah kenapa aku merasa seperti Mara yang meminta tolong. "

"Coba nanti kita pastikan lagi. Siapapun bisa minta tolong dalam situasi segenting ini."

"Tolong, tolong kami....."

Bergegas Komu, Neka, dan Kamga menuju sumber suara. Semakin jelas terlihat bahwa yang memohon pertolongan adalah iguana. Ketiga kadal terbelalak menyadari iguana-iguana itu tak lain adalah Bong dan Mara. Yang membuat Neka semakin terkejut, kaki belakang Bong sudah putus sebelah. 

"Apa yang terjadi dengan kalian? Guni ada dimana? Pemangsa mana yang membuatmu seperti itu, Bong? "

"Kak Gun, kak Guni......di,...diaaa..."

"Dia sudah dimakan beruang."

"Ya Tuhan, apa karena itu kakimu buntung sebelah, Bong?"

"Ya, Neka. Aku berusaha..."

"Kamu ga perlu bohong, Kak!! Dasar pengecut! Aku tahu kakimu diterkam beruang saat berusaha lari terlebih dahulu meninggalkan kami. Kalau bukan karena Guni, aku sudah larut dalam perut beruang!"

Dari raut mukanya, Bong tampak ingin menepis kecaman Mara. Komu dan Neka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak tampak lagi rasa keheranan di muka komodo  jantan dan iguana betina muda itu. 

"Plak!"

"Nek, Neka, aku bisa jelaskan kenapa. Kau tak perlu menamparku seperti ini. "

"Kamu belum berubah, Bong. Dari dulu aku sudah hafal tabiatmu yang selalu berkelit lebih dulu di saat-saat sempit. Kau pikir Mara seekor iguana pembohong sepertimu? Kau jangan lupa, bahwa ibu tak sempat tertolong  gara-gara dirimu yang selalu rakus saat makan!"

"A,...aku minta maaf, Neka. Saat itu aku hanya terpikir untuk menyelamatkan dua nyawa ketimbang tiga ekor kadal harus berakhir di lambung beruang. Lagipula, Mara, karena aku berusaha lari, kau jadi tahu dimana pintu keluar gua, kan?"

Mara membisu, sambil memalingkan muka. Bagaimanapun Bong adalah saudara tertua mereka. Mara pun tak bisa mengelak bahwa berkat inisiatif Bong, dia punya kesempatan untuk lari dari gua. 

"Sudah, sudah. Yang penting sekarang kita cari makan dulu. Makin lapar nanti makin sulit cari solusi."

"Kadal bertaring sepertimu mestinya mudah melahap kambing gunung, tanpa harus mencari buah-buahan. Sudahlah, berhentilah pura-pura menjadi iguana."

"Bong, apa perlu kujitak kau sekali lagi? Sudah bagus Komu melerai kita, kau malah menyudutkannya. "

"Sudah, kak Neka, tak perlu berlarut-larut. Yang Bong katakan benar soal aku adalah pemakan daging. Sekarang, ayo kita cari makan. Semakin lapar, semakin banyak pikiran buruk berkecamuk."

Mereka berlima menjelajah sisi lembah, untuk mencari pepohonan. Lantaran Bong kini pincang, mau tidak mau dia meminta yang lain untuk memapahnya. Sisi lereng gunung yang terdapat pohon ranum memang agak sulit dicapai. Seringkali karena lumut bertunas di sela-sela jalan setapak atau bebatuan, membuat satwa tanpa kuku yang keras mudah tergelincir. Seminggu sekali memang Komu makan daging. Itupun hasil berbagi dengan Rudra dan Yoka. 

"Kalian betah tinggal di sini? Di dataran lurus dan pepohonan saja kadang melelahkan, bagaimana kalian bisa bertahan dalam tempat securam ini?"

"Yang aku yakini hanya satu, Bong: mungkinkah para kadal bisa berumur panjang dalam dataran landai penuh asap?"

"Lalu kalian tinggal disini dengan belas kasihan para predator? Seyakin apa mereka takkan menjadikan perut sebagai kuburan buat kita?"

"Selama kami percaya bahwa dalam situasi sulit, sesama satwa harus saling merangkul. Lihatlah dibawah sana, Bong. Apa kau lihat bagian hutan yang belum melebur bersama asap?"

"Hmm, baiklah. Awas saja kalau mereka menerkam kita. Hantuku akan datang dalam tidurmu!"

"Mudah-mudahan, aku yang jadi hantu lebih dulu. Paling tidak, aku bisa melepas rindu bertemu ibu "

"Cih."

"Jadi kau kakak tertuanya, Neka?"

"Iya, tuan....h-h-h-harimauuuuu?"

"Sebenarnya wajar kalau kalian tidak begitu betah di sini. Aku ingat memang ada satu tempat yang semestinya tidak tersentuh oleh api, kakak iguana. Tepatnya, sebuah habitat dimana sahabat lama ayahku berdiam di sana."

"Baguslah, aku tak suka lama-lama disini, Yoka. Kakiku sudah buntung seperti ini, bagaimana aku tak lelah menuruni lereng."

"Tapi, apa kau sanggup melewati tempat itu? Hanya hewan secerdas kancil yang bisa melaluinya."

"Memangnya apa yang ada di sana?"

"Markas para klan buaya. Mereka saling bersaing memperebutkan wilayah dan makanan. Sahabat lama ayahku ada di antara mereka. Tapi aku sendiri lupa bagaimana rupanya dan dimana sarangnya, karena ia mengunjungi kami saat aku masih bayi. "

"Bu,...buaya katamu? Apa kau tahu dimana lagi daerah hutan yang masih aman selain itu?"

"Ya kalau masih ingin menghirup asap masih banyak hutan yang bisa dijelajahi. Hanya itu pilihan yang bisa ditempuh, selain menetap berhari-hari di lereng ini. Atau, coba kau tanya Rudra, dia ahli navigasi. Siapa tahu dia bisa menunjukkan jalan paling singkat ke rawa tanpa harus sowan dengan buaya."

Dengan bulu roma bergidik, Bong berdiskusi dengan Rudra. Kesimpulannya, mereka hanya punya dua pilihan jalan: melewati rawa yang penuh buaya atau jalan berbukit yang dikelilingi lumut dengan jurang yang dalam. Komu mengusulkan untuk melewati rawa dengan menaiki gelondongan kayu. 

" Kalian tak perlu cemas dengan predator. Ada saya, Rudra, dan Yoka yang terbiasa bergulat dengan hewan bertaring." timpal Komu meyakinkan rombongan satwa. 

"Sok tahu, komodo abege. Siapa yang mau ikut sampai ke dalam rawa? Aku mau kencan, cari pacar. Sudah belasan purnama aku menyendiri, bosan rasanya. ", elak Rudra dengan nada sedikit kesal. 

"Sudah, Komu. Tak apa kalau hanya aku yang menemani kalian.  Tapi aku minta semuanya, terutama kamu, Bong, untuk jaga sikap selama di perjalanan. Kalau kalian saling memprovokasi, sampai-sampai terperangkap buaya, aku tak yakin bisa menolong.", tegas Yoka yang masih hafal tabiat Bong. 

Beberapa pohon tumbang mereka susun, tepat di titik hulu menuju sungai. Meski pepohonan banyak yang kering, daerah rawa itu tak tersentuh oleh asap. Perjalanan mereka dimulai dari kali tempat ikan-ikan besar berarak. Rudra mulai ingat, dirinya belum makan sedari matahari meninggi di langit. 

"Aih, kenapa ikan-ikan itu terlihat nikmat sekali? Rasanya ingin sekali kucicipi rasanya. Baiklah, bersiap untuk menukik." , Rudra membatin sambil menyusun ancang-ancang dari ketinggian. 

Didapatnya seekor ikan arwana raksasa. Lantaran mencoba berontak terhadap cengkeraman Rudra, ikan raksasa itu memuntahkan reptil berkulit kasar menuju rerumputan di pinggir rawa. Demi meredam pergerakan si ikan besar, Rudra bergegas mencabik insang lalu mengeluarkan dagingnya. 

Sementara itu, reptil berkulit kasar yang jatuh di rerumputan itu siuman. Tatkala matanya melihat ada seekor harimau dalam sekoci gelondongan kayu, ia mengambil ancang-ancang berenang. Sorot matanya berubah tajam, dikayuhnya kedua kaki untuk mengejar sekoci itu. 

Suara reptilia yang berenang dalam air itu terdengar pertama kali oleh Yoka. Harimau muda itu menoleh dan terkejut melihat siapa yang mengikuti.

BERSAMBUNG

#Tantangan8episode5
#sambungankamis
#ceritaekologi
#semifinal
#ceritabersambung
#OneDayOnePostBatch7







"