Jumat, 01 November 2019

DI Balik Semua Cerita Ini


“Kak Guni, hendak kemana?”

“Aku  makin bingung sama Bong. Setiap hari ku tolong dia memetik buah, tapi aku hanya jadi ban serep. Dia minta ini, minta itu, baru ingat giliran butuh. Giliran punya makanan, malas bagi-bagi. Kalaupun kebagian, cuma sedikit. Jadi siapa sih yang dulu janji manis ‘saya takkan bikin kalian kelaparan’?”

“Iya juga sih, memang dia sedikit rakus..”

“Berbulan-bulan kita ikut dia….nyatanya badan makin kerempeng. Coba dulu kita ikut Neka.”

“Buat apa kalian bahas dia lagi? Apa kalian sulit bersyukur punya saudara iguana yang normal?”

“Bong? Jadi, dari tadi kau belum berangkat mencari anggur?”

“Aku tunggu kalian sejak tadi. Ternyata kalian malah berbicara yang tidak-tidak tentangku. Aku tak masalah pergi sendirian untuk cari makan. Nanti kalau ada satwa lain yang jadikan kalian kudapan, aku takkan ikut bertempur.”

Bong memalingkan muka, Guni dan Mara saling berpandangan. Kedua iguana itu kemudian menyusul saudara tertua mereka untuk menenangkannya. Selama terpisah bertiga dari rombongan Komu, Bong dan Guni selalu siap memasang badan manakala marabahaya memngepung mereka. Kendati rakus, Bong paling lihai mengecoh para predator, meskipun Guni yang lebih menguasai ilmu bela diri kadal.

“Jadi, kita tetap akan makan siang bersama?”

“Tentu saja! Kemarau sudah usai,  semestinya buah-buah tumbuh lebih ranum.”

“Ah, Bong, Mara! Lihat sesisir pisang itu! Kita takkan kelaparan untuk berbulan-bulan, hore!”

“Tunggu, tunggu. Kok bentuk dahan pohonnya aneh? Kenapa bentuknya lurus sekali?”

“Kau mungkin berhalusinasi karena lapar, Mara. Nanti kuberi lebih untukmu, biar jadi obat halusinasi.”

….
“Ular sancaaaa!! Lariii……!”

“Nah, apa kubilang, kak Guni?Untung kita masih bisa menyelamatkan diri.”

“Sekarang kita berlindung di gua, cepat! Ular besar itu takkan bisa masuk.”

Selangkah mereka terlambat, Guni mungkin sudah menemui ajalnya. Ular besar itu masih bersikeras menyambar para iguana, meski lehernya tak sanggup menembus celah kecil gua. Ketiga iguana itu terus berlari menuju tengah gua. Tibalah mereka di bilik yang gelap, terjal, ditumbuhi lumut, dan sesekali terdengar bunyi gemercik air. Bulu roma ketiga iguana bergidik, mereka kini hanya tergantung pada penciuman untuk mencari cahaya dan pintu keluar.

“Gelap”

“Aduh! Keras sekali batu ini.”

“Tetap jaga langkah kalian, kadal muda!  Apa kalian sudah lupa cara meraba bebatuan yang ibu ajarkan sejak kecil?”

“Duh, kak Bong. Kau jangan buat aku terkenang ibu. Aku jadi sedih.”

“Sudah, tak ada waktu untuk terbawa perasaan. Lebih baik kita cari jalan keluar dari tempat ini. “

“Lihat! Ada celah gua yang menganga!”

“Memangnya kau yakin ini arah yang tepat, Bong?”

“Mau ke mana lagi? Apa menurutmu perlu kembali biar dilahap ular raksasa?”

“Baiklah. Aku turuti dirim. Awas saja kalau kau membawa kami dalam bahaya. “

“Apa itu? Rumput di tengah gua?”

“Rumput mana yang bisa sebesar dan sebulat itu?”

“Sudah, lupakan saja. Kita fokus cari lubang keluar.”

“G-g-g-Guni. “

“Iya, Mara?”

“R-r-r-rumput bu,bulat itu bangun, Guni. I-i-i-tu,b-b-b, berrr,…. beruaaaaaannggggg!!!!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!

“Grrraaaaaaaooooooooooooo!”



“Hei, jangan menyenggolku. Sarang ini sudah sempit, nanti kalau aku jatuh ke lereng, kau mau bagaimana, Yoka?”

“Kau kan enak punya sayap, Rudra. Aku tak kuat harus tidur melawan angin. Dingin sekali disini. “

“Kalau kau mau, besok kita berburu merpati dan dara. Kita cincang mereka untuk makan siang, bulunya kita jadikan selimut. Aku sudah bosan terdempet terus selama berminggu-minggu ini. ”

“Baiklah, tapi sekarang boleh kan kita tidur dulu? Aku lelah sekali, tapi angin malam ini menusukku.”

“Semestinya kau belajar kepada para kadal bagaimana bisa tertidur nyaman diatas batu tanpa terusik. “


“Ma, Mara..”

“Apa kau dengar suara itu, Rudra? Aku mendengar igauan?”
“Ya, kurasa itu suara Kamga. Si kadal bocah itu. Bagaimanapun, dia masih cukup muda saat kehilangan ibu dan terpisah dari saudaranya yang lain. Akupun demikian, setelah kusaksikan ayah dan ibu tewas mengucurkan darah tepat di depan mata.”

“Semoga arwah mereka diterima oleh Yang Maha Kuasa.”

“Lalu, dimana ayah ibumu, Rudra? Apa memang elang remaja sudah saatnya hidup menyendiri.”

“Kurasa demikianlah alam memilihku untuk tetap hidup dan terbang bebas. Ayahku mati dalam suatu perkelahian dengan rajawali. Tak kusangka, rajawali bajingan itu menendangku dari sarang, lalu membawa ibuku untuk memuaskan hasratnya. Untungnya, aku sudah mulai paham bagaimana melawan daya tarik bumi saat itu. Luka tertabrak pohon itu tak ada apa-apanya dibanding apa yang telah direbut si pecundang itu. “

“Aku turut prihatin padamu. Kuharap ibumu sehat-sehat saja.”

“Ya, semoga saja saudara-saudara tiriku tak sebiadab si pecundang itu. Ingin sekali kucabik kepala botaknya. “

“Sudahlah, ayo kita tidur kembali.”                 Pagi tiba, rombongan hewan campursari bersiap mencari makan di sekitar lereng. Bagi para kadal, tak mudah mencari makan di antara tebing.  Pepohonan baru tersebar di daerah turunan. Beberapa kali, para iguana dan Komu memilih untuk menetap di lembah, namun setiap malam udaranya membuat sesak nafas.  Baru ketika matahari membumbung tinggi, udara lembah terasa lebih aman. 

"Komu, aku terpikir soal Mara, Guni, dan Bong. Apa jangan-jangan mereka menderita karena api yang membumbung tinggi?"

"Aku pun berpikir serupa dengan kak Neka. Tapi kurasa mereka sanggup bertahan. Selama mereka tidak bertemu pemangsa bercakar besar, aku yakin Guni dan Bong akan selalu melindungi Mara."

"Terus terang, dibanding Bong atau Guni, aku lebih mencemaskan Mara. Di antara kita berenam, dia cukup pasif dan tidak begitu pandai berkelit. "

"Kak Komu, kak Neka, hutan sebelah timur sudah hangus. Pohon-pohon tumbang, bagaimana dengan rumah kita? Makam ibunda?"

"Mungkin, bila ajal dalam bencana telah tiba, siapa bisa mengelak, Kamga? Lagipula, rumah bukanlah sarang belaka. Rumah adalah tempat dimana kita selalu bisa melupakan beban hidup dan berkumpul dengan yang kita sayangi. Ibu sudah tenang di alam sana, dan sekarang kita belum bisa kesana. Dibanding harimau dan elang, bangsa kadal paling rentan terhadap asap dan debu, karena penciuman kita yang tajam ini.  "

Kamga terdiam memaklumi, meski ia melihat beberapa tetes air mata tumpah di wajah Neka yang memalingkan muka darinya. Kamga membatin tentang sulitnya situasi karena asap yang terus melahap seisi hutan. Saat ini, memang lereng gunung adalah tempat teraman untuk mereka, selama tak banyak pilihan yang bisa ditempuh.

"Tolong, tolong!"

"Kau dengar suara itu, Komu? Entah kenapa aku merasa seperti Mara yang meminta tolong. "

"Coba nanti kita pastikan lagi. Siapapun bisa minta tolong dalam situasi segenting ini."

"Tolong, tolong kami....."

Bergegas Komu, Neka, dan Kamga menuju sumber suara. Semakin jelas terlihat bahwa yang memohon pertolongan adalah iguana. Ketiga kadal terbelalak menyadari iguana-iguana itu tak lain adalah Bong dan Mara. Yang membuat Neka semakin terkejut, kaki belakang Bong sudah putus sebelah. 

"Apa yang terjadi dengan kalian? Guni ada dimana? Pemangsa mana yang membuatmu seperti itu, Bong? "

"Kak Gun, kak Guni......di,...diaaa..."

"Dia sudah dimakan beruang."

"Ya Tuhan, apa karena itu kakimu buntung sebelah, Bong?"

"Ya, Neka. Aku berusaha..."

"Kamu ga perlu bohong, Kak!! Dasar pengecut! Aku tahu kakimu diterkam beruang saat berusaha lari terlebih dahulu meninggalkan kami. Kalau bukan karena Guni, aku sudah larut dalam perut beruang!"

Dari raut mukanya, Bong tampak ingin menepis kecaman Mara. Komu dan Neka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak tampak lagi rasa keheranan di muka komodo  jantan dan iguana betina muda itu. 

"Plak!"

"Nek, Neka, aku bisa jelaskan kenapa. Kau tak perlu menamparku seperti ini. "

"Kamu belum berubah, Bong. Dari dulu aku sudah hafal tabiatmu yang selalu berkelit lebih dulu di saat-saat sempit. Kau pikir Mara seekor iguana pembohong sepertimu? Kau jangan lupa, bahwa ibu tak sempat tertolong  gara-gara dirimu yang selalu rakus saat makan!"

"A,...aku minta maaf, Neka. Saat itu aku hanya terpikir untuk menyelamatkan dua nyawa ketimbang tiga ekor kadal harus berakhir di lambung beruang. Lagipula, Mara, karena aku berusaha lari, kau jadi tahu dimana pintu keluar gua, kan?"

Mara membisu, sambil memalingkan muka. Bagaimanapun Bong adalah saudara tertua mereka. Mara pun tak bisa mengelak bahwa berkat inisiatif Bong, dia punya kesempatan untuk lari dari gua. 

"Sudah, sudah. Yang penting sekarang kita cari makan dulu. Makin lapar nanti makin sulit cari solusi."

"Kadal bertaring sepertimu mestinya mudah melahap kambing gunung, tanpa harus mencari buah-buahan. Sudahlah, berhentilah pura-pura menjadi iguana."

"Bong, apa perlu kujitak kau sekali lagi? Sudah bagus Komu melerai kita, kau malah menyudutkannya. "

"Sudah, kak Neka, tak perlu berlarut-larut. Yang Bong katakan benar soal aku adalah pemakan daging. Sekarang, ayo kita cari makan. Semakin lapar, semakin banyak pikiran buruk berkecamuk."

Mereka berlima menjelajah sisi lembah, untuk mencari pepohonan. Lantaran Bong kini pincang, mau tidak mau dia meminta yang lain untuk memapahnya. Sisi lereng gunung yang terdapat pohon ranum memang agak sulit dicapai. Seringkali karena lumut bertunas di sela-sela jalan setapak atau bebatuan, membuat satwa tanpa kuku yang keras mudah tergelincir. Seminggu sekali memang Komu makan daging. Itupun hasil berbagi dengan Rudra dan Yoka. 

"Kalian betah tinggal di sini? Di dataran lurus dan pepohonan saja kadang melelahkan, bagaimana kalian bisa bertahan dalam tempat securam ini?"

"Yang aku yakini hanya satu, Bong: mungkinkah para kadal bisa berumur panjang dalam dataran landai penuh asap?"

"Lalu kalian tinggal disini dengan belas kasihan para predator? Seyakin apa mereka takkan menjadikan perut sebagai kuburan buat kita?"

"Selama kami percaya bahwa dalam situasi sulit, sesama satwa harus saling merangkul. Lihatlah dibawah sana, Bong. Apa kau lihat bagian hutan yang belum melebur bersama asap?"

"Hmm, baiklah. Awas saja kalau mereka menerkam kita. Hantuku akan datang dalam tidurmu!"

"Mudah-mudahan, aku yang jadi hantu lebih dulu. Paling tidak, aku bisa melepas rindu bertemu ibu "

"Cih."

"Jadi kau kakak tertuanya, Neka?"

"Iya, tuan....h-h-h-harimauuuuu?"

"Sebenarnya wajar kalau kalian tidak begitu betah di sini. Aku ingat memang ada satu tempat yang semestinya tidak tersentuh oleh api, kakak iguana. Tepatnya, sebuah habitat dimana sahabat lama ayahku berdiam di sana."

"Baguslah, aku tak suka lama-lama disini, Yoka. Kakiku sudah buntung seperti ini, bagaimana aku tak lelah menuruni lereng."

"Tapi, apa kau sanggup melewati tempat itu? Hanya hewan secerdas kancil yang bisa melaluinya."

"Memangnya apa yang ada di sana?"

"Markas para klan buaya. Mereka saling bersaing memperebutkan wilayah dan makanan. Sahabat lama ayahku ada di antara mereka. Tapi aku sendiri lupa bagaimana rupanya dan dimana sarangnya, karena ia mengunjungi kami saat aku masih bayi. "

"Bu,...buaya katamu? Apa kau tahu dimana lagi daerah hutan yang masih aman selain itu?"

"Ya kalau masih ingin menghirup asap masih banyak hutan yang bisa dijelajahi. Hanya itu pilihan yang bisa ditempuh, selain menetap berhari-hari di lereng ini. Atau, coba kau tanya Rudra, dia ahli navigasi. Siapa tahu dia bisa menunjukkan jalan paling singkat ke rawa tanpa harus sowan dengan buaya."

Dengan bulu roma bergidik, Bong berdiskusi dengan Rudra. Kesimpulannya, mereka hanya punya dua pilihan jalan: melewati rawa yang penuh buaya atau jalan berbukit yang dikelilingi lumut dengan jurang yang dalam. Komu mengusulkan untuk melewati rawa dengan menaiki gelondongan kayu. 

" Kalian tak perlu cemas dengan predator. Ada saya, Rudra, dan Yoka yang terbiasa bergulat dengan hewan bertaring." timpal Komu meyakinkan rombongan satwa. 

"Sok tahu, komodo abege. Siapa yang mau ikut sampai ke dalam rawa? Aku mau kencan, cari pacar. Sudah belasan purnama aku menyendiri, bosan rasanya. ", elak Rudra dengan nada sedikit kesal. 

"Sudah, Komu. Tak apa kalau hanya aku yang menemani kalian.  Tapi aku minta semuanya, terutama kamu, Bong, untuk jaga sikap selama di perjalanan. Kalau kalian saling memprovokasi, sampai-sampai terperangkap buaya, aku tak yakin bisa menolong.", tegas Yoka yang masih hafal tabiat Bong. 

Beberapa pohon tumbang mereka susun, tepat di titik hulu menuju sungai. Meski pepohonan banyak yang kering, daerah rawa itu tak tersentuh oleh asap. Perjalanan mereka dimulai dari kali tempat ikan-ikan besar berarak. Rudra mulai ingat, dirinya belum makan sedari matahari meninggi di langit. 

"Aih, kenapa ikan-ikan itu terlihat nikmat sekali? Rasanya ingin sekali kucicipi rasanya. Baiklah, bersiap untuk menukik." , Rudra membatin sambil menyusun ancang-ancang dari ketinggian. 

Didapatnya seekor ikan arwana raksasa. Lantaran mencoba berontak terhadap cengkeraman Rudra, ikan raksasa itu memuntahkan reptil berkulit kasar menuju rerumputan di pinggir rawa. Demi meredam pergerakan si ikan besar, Rudra bergegas mencabik insang lalu mengeluarkan dagingnya. 

Sementara itu, reptil berkulit kasar yang jatuh di rerumputan itu siuman. Tatkala matanya melihat ada seekor harimau dalam sekoci gelondongan kayu, ia mengambil ancang-ancang berenang. Sorot matanya berubah tajam, dikayuhnya kedua kaki untuk mengejar sekoci itu. 

Suara reptilia yang berenang dalam air itu terdengar pertama kali oleh Yoka. Harimau muda itu menoleh dan terkejut melihat siapa yang mengikuti.

BERSAMBUNG

#Tantangan8episode5
#sambungankamis
#ceritaekologi
#semifinal
#ceritabersambung
#OneDayOnePostBatch7







"











Kamis, 31 Oktober 2019

Diskusi Buku dan Literasi Serupa Nafas Kedua: Sebuah Biografi Singkat Jihan Mawaddah

Akses terhadap informasi yang semakin melaju, berkat dukungan internet, membuat masyarakat semakin mudah menelusuri komunitas dan sarana untuk mewadahi kegiatan literasi. Salah satu komunitas yang cukup populer di media digital dewasa ini antara lain adalah Gerakan One Week One Book. Komunitas yang mengusung dan mendukung agenda kajian dan resensi buku ini merupakan sarana yang bermanfaat untuk menelusuri dan mendalami sinopsis dari segala macam buku. Ketika saya mendaftar menjadi peserta yang turut meramaikan agenda mingguan yang menjadi tuntutan komunitas ini, ada beberapa pelopor yang menjadi tim sukses di balik forum literasi ini. Salah satu diantaranya adalah Jihan Mawaddah. Jihan merupakan salah satu co-founder yang punya peranan penting dalam membesarkan komunitas literasi yang kini harum namanya di jagat media sosial.

Gerakan One Week One Book, menantang peserta meresensi buku setiap minggu.

Srikandi pegiat literasi asal Malang ini lahir tujuh belas Januari awal era sembilan puluhan. Jihan memaparkan bahwa namanya dicetus oleh sang ibu, tepatnya terinspirasi dari  seorang sastrawan
Mesir bernama Jihan Syadat. Sehari-harinya, Jihan bergelut dalam profesi yang cukup menantang, yakni selaku penyuluh masyarakat. Hingga saat ini, sudah banyak prestasi yang diukir Jihan di tempat pengabdiannya. Beberapa di antaranya adalah:

a. Penyuluh Teladan Kota Malang 2018.
b. Juara 2 Penyuluh Teladan  Kementerian Agama  Provinsi Jawa Timur 2018
c. Juara 2 Esai Naskah Moderasi Beragama Provinsi Jawa Timur 2019

Jihan Mawaddah

Selain aktif mengelola Gerakan One Week One Book, Jihan merupakan tokoh sentral di forum Asean Moslem Action Network saat ini. Berbekal pengalamannya menjadi pembicara umum dan penyuluh unggulan, Jihan kerap berkontribusi dalam memecahkan isu beragam segmen masyarakat. Beberapa di antaranya adalah tentang parenting, literasi beragama, hingga anti-terorisme. Di sela-sela kesibukannya, Ibu dari seorang putri Al-Isya ini selalu menyempatkan diri menjadi jamaah pengajian Ustadz Shaleh Hadrami untuk mengisi akhir pekannya.

Saya pertama kali mengenal Jihan melalui sebuah program tantangan menulis satu bulan yang digagas oleh One Day One Post, yang bertajuk Ramadhan Writing Challengen One Day One Post 2019. Setelah berjibaku satu bulan dalam beragam tema tulisan, saya dan Jihan dinobatkan menjadi penulis terbaik. Bentuk tulisan yang kerap dibawakan Jihan cukup beragam;  esai, opini, artikel, cerita pendek, dan novel. Tema yang kerap menjadi unggulan Jihan dalam menulis adalah motivasi dan keluarga. Dalam waktu dekat, Jihan akan merilis buku solonya yang berjudul "Nasihat Sang Gurunda". Buku ini diniatkan Jihan sebagai refleksi terhadap kumpulan nasihat ayahnya sedari usia dini.  Saya sendiri tak sabar menanti  buku oleh yang diterbitkan oleh Caraka Media ini.


Karya Jihan yang akan terbit dalam waktu dekat


Perihal kegiatan menulis di luar profesi, Jihan telah mengantongi jam terbang yang cukup mumpuni dalam menyusun antologi. Hingga saat ini, tidak kurang dari sepuluh judul antologi telah melibatkan dirinya sebagai kontributor. Jihan memulai pengalaman antologinya semenjak 2018, mulai dari proyek penerbit independen Motiva Inspira, sampai berhasil menembus penerbit mayor Diva Press. Jihan menuturkan, bahwa di antara karya antologi yang digarapnya, My Beauty My Journey merupakan proyek yang paling membutuhkan perjuangan. Berikut daftar lengkapnya:

Antologi-antologi yang melibatkan Jihan Mawaddah




Selain menulis buku, Jihan merupakan blogger wanita Indonesia yang patut diperhitungkan. Laman jeyjingga.com  dan bloggerperempuan.co.id menjadi wadahnya untuk mencurahkan aspirasi, inspirasi, dan intuisi. Bagi seorang Jihan, tiada hari tanpa berbincang buku dan tulisan.

Bisa dikatakan, dunia literasi seakan menjadi agenda yang hampir sama pentingnya dengan bernafas bagi seorang Jihan Mawaddah. Tatkala ditelusuri tentang minat, Jihan dengan mantap menjawab bahwa Gerakan One Week One Book dan One Day One Post telah menjadi sumber asupan nutrisi jiwa dan nalar baginya. Kini Jihan berjibaku dalam perjuangan menaklukkan tantangan di One Day One Post melalui grup Konstatinopel.  Dalam menjalankan kesehariannya, Jihan memiliki satu prinsip, yang dikutip dari salah satu ayat al-Qur'an: 



“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?” (Q.S Al-Ankabut:2) 

Bagi seorang Jihan, ayat pertengahan akhir dari surat terpanjang al-Qur'an ini kerap menjadi pelecut semangat untuk menghadapi ujian dan tantangan kehidupan. Bila mengulik lebih dalam cita-cita dari wanita yang menggemari Dream Theater ini, tak lain adalah: 


Istiqamah dalam menulis dan membaca, hingga menghasilkan karya yang menjadi amal jariyah. 

Sebagai role model untuk menulis, wanita penyuluh yang biasanya menemui puncak kesibukan di hari Selasa ini kerap mengidolakan  Ahmad Tohari dan  Adian Husaini. Tak terhitung karya Ahmad Tohari yang telah dilahapnya. Salah satu karya Ahmad Tohari yang kini sedang ditekuninya adalah "Di Kaki Bukit Cibalak".

Bila tertarik untuk menghubungi Jihan,  bisa dikontak di hanjihan@gmail.com. 

SEKIAN

Biografi ini didedikasikan untuk tantangan terakhir One Day One Post. 
#biografi
#lainkelompok
#lastchallenge
#tantangan9
#tantangan9OneDayOnePost
#OneDayOnePost2019batch7









Rabu, 30 Oktober 2019

Arah yang Harus Ditempuh Dalam Cerita Ini

(Cerita ini adalah sambungan dari "Dengan Siapa Akan Kita Jalani Cerita Ini" )

Bukit Jadi

Demikianlah nama yang telah disematkan dalam benteng yang agung ini. Tebing-tebing tersusun dalam lajur yang berliku-liku, berperisasi batu-batu tajam dan danau yang mengisi pekarangannya.  Diantara bentuk tubuhnya yang anggun, riuh rendah alap-alap dan elang terdengar bersahut-sahutan. Meluncur, melesat, menukik, hingga menari di dalam ruang antara dataran dan langit. Setiap harinya, para pengerat, kelinci, terwelu, luwak, hingga kambing gunung menemui ajalnya dalam genggaman cakar-cakar pasukan elang yang terasah. Tak terkecuali bagi Rudra. Elang jambul yang mengemban nama sang dewa angin ini bukan hanya sekedar pemancing ulung, melainkan seekor radar kompas bersayap yang akurat. 

"Dua ratus meter di bawah lereng, kambing muda gemuk  merumput dengan riang. Bagus. Dengan segera kuantar menemui sang Pencipta."

Rudra lepas landas dari ujung lereng tempatnya bertengger. Di dalam zona hampa udara, sayapnya membuat gerakan seperti baling-baling memutar. Paruh menjadi ujung kemudi, ekor pusat kendali. . Cakar besarnya mencengkram lalu membanting kambing muda itu ke batu tebing yang keras. Paruh besarnya kini siap menjadi pusara bagi hewan malang tersebut. Memang lingkaran kehidupan begitu adanya. 

"Terima kasih, telah melenyapkan rasa laparku"


Acara bersantap usai, Rudra merasa bahwa gunung tempatnya berdiam terasa membosankan. Setiap harinya: makan, terbang, lalu tidur adalah siklus yang selalu berulang. Kini mata Rudra membidik hutan, berharap petualangan baru memecah kebosanannya. Tatkala mengangkasa beberapa ratus meter dari dataran, Rudra melihat asap membumbung tinggi dari beberapa pohon yang terbakar. 

__________

"Rawwwwrrr!!!"

"Groaaaaarrr!!"

"Hei, macan tutul biadab, kembalikkan adikku! Aku takkan memaafkanmu bila kau tega mencincangnya."

"Ambil kalau kalian bernyali. Sebentar lagi kalian pun hanya menjadi seonggok bangkai."

Macan tutul itu berotot besar, bersorot mata bengis, dengan taring bengkok setajam belati. Beberapa kali Riga mencoba melumpuhkan lehernya, pun Komu yang berusaha menyerang tengkuknya, macan tutul tua itu selalu berhasil meredamnya. Tubuh mereka berdua penuh bilur-bilur cakar dan sabetan taring. Diantara baku hantam tersebut, Neka mengambil ancang-ancang untuk memapah Kamga yang tak sadarkan diri. Macan tutul yang menoleh dalam kepungan, menjadi geram. 

Sementara para iguana berlari ke arah Barat, Komu dan Riga masih berusaha menahan macan tutul tua yang beringas itu. Macan tutul menghempas dua predator muda itu dengan mudahnya, lalu mengejar dua ekor iguana yang lari pontang-panting. Nahas, bahaya tak hanya mengintai dari darat. 

"Seratus lima puluh meter  dari  arah barat diagonal terhadap tebing, dua reptil kuning kehijauan sangat menggiurkan. Baik, waktunya kudapan" gumam Rudra setelah menerawang dari ketinggian. Bergegas ia kembali lepas landas. 

Salah satu pohon lapuk mendadak tumbang, Rudra mengambil posisi berbelok dengan gesit. Tetapi ia kurang mujur, hingga menabrak pohon lain lalu hilang keseimbangan. Pohon yang ditabrak elang jambul itu ikut rubuh, Tak dinyana, pohon yang rubuh itu menjepit macan tutul. 

"Aaaarggh!! Kaa...kalian takkan bisa lolos!" 

"Menyerahlah, macan tutul, Lukamu sudah parah. Jangan kau ganggu kakak dan adikku. "

"Tidak semudah itu, kom,...komodoo....Lebih baik kau yang kumakan sekarang!"

Kraus! Dengan mudahnya, Riga berhasil menerkam tengkuk macan tutul tua yang sudah pincang itu.. Tetap saja macan itu menolak mati konyol, meski  sebagian kulitnya telah robek dan kakinya tak lagi gesit bergerak. Sekejap, Komu ikut menggigit leher macan tua yang telah terdesak, hingga sesak nafasnya.  

"Komu, Riga, kita bantu dulu burung yang jatuh tadi. Tanpa dia, mungkin kita takkan selamat dari macan tua itu."

._______

"Tuan elang, engkau sudah siuman?"

"Ehmm...dimana aku berada? Jadi, kalian satu kelompok?"

"Engkau ada di sarang kami, tuan. "

(Berkata dalam hati: Oh, jadi kadal-kadal yang mau ku santap itu satu kelompok dengan harimau dan komodo?) "Kalian sudah lama tinggal di sini?"

"Hampir satu tahun kami mengembara, dan inilah rumah terbaik kami,  tuan elang."

"Apa kalian akan menetap di sini selamanya?"

"Apa maksud tuan berkata demikian?"

"Baru tadi pagi aku melihat api menyala di salah satu sudut hutan ini. Semoga mataku ini salah. Namaku Rudra, dari gunung Bukit Jadi."

"Gunung? Tempat apa itu, tuan?"

"Hei, iguana, coba kau....."

"Jilat dulu kakimu?"

"Hahaha. Tak perlu, anak komodo. Aku hanya bergurau. Tanpa berkelakar, melupakan luka sayap terkilir takkan terasa mudah bagiku. Gunung adalah dataran yang memiliki ketinggian berbeda jauh dengan daerah sekitarnya, berupa sebuah tonjolan besar. Rumahku ada di antara tebing-tebing yang mengelilingi gunung."

"Seperti apa rasanya hidup di antara tebing yang tak banyak pohon, tuan Rudra?"

"Tetap menyejukkan dan nikmat untuk tidur. Kalau ada yang berani mengganggu tidurku, besok pagi dia sudah jadi hantu tanpa kepala. Hahahahaha"

"Apalagi kalau mengusik dengan pertanyaan: _kapan nikah_? Wah, kayaknya besok udah jadi tuyul."
. Dagingnya kita jadikan salad."

"Bisaan juga kamu, harimau abege. Nanti sampai di rumahku, aku ajarkan cara melawak tanpa bermain cakar dan taring. Aku jamin hidupmu tak membosankan,"

Segenap penghuni sarang larut dalam gelak tawa. Rudra mulai lupa tentang niatnya memangsa para kadal, sekaligus menceritakan tentang bahaya api yang mulai menyebar di hutan itu. Sehari kemudian, bahaya menyergap melalui pintu-pintu tak terduga. Saat itu senja kian menyala merah, matahari sedang menuju tempatnya terbenam. 

"Bau apa ini? Seperti ada yang hangus, Kamga."

"Entahlah, setahuku tak ada yang bisa menyalakan api, Apa jangan-jangan?"

"LARI!!! Lari jika ingin tetap hidup!! Api sudah di dekat kita!"

Kepulan asap mulai menampakkan wujudnya, Adalah Riga dan Rudra yang menangkap api yang menghambur di luar sarang mereka. Lantaran Rudra sedang sulit untuk terbang, Komu yang berbadan besar segera memapahnya bersama Riga. Neka dan Kamga lari terlebih dahulu, sembari mengarahkan tiga hewan predator itu menuju tempat yang belum tersentuh api. 

"Lihat, api semakin menyebar! Harus kemana kita, Kak Neka?"

"Nanti kita akan menuju gua. Di sana kita akan beristirahat sementara."

"Sudah, kalian tak perlu ke gua. Di sana ada beruang yang siap memangsa kita. Apalagi, luka kita semua belum pulih. Lebih baik kita berlelah-lelah malam ini menuju rumahku di tebing. "

"T-t-tapi, bagaimana kalian akan beristirahat untuk memulihkan luka?"

"Sudah, kalian ikuti saja arah rumahku. Aku akan tuntun kalian untuk mencari makan dan minum selama perjalanan. Lebih baik kita mati dalam perjalanan mencari tahu penyebab dari kekacauan ini,  daripada bulat-bulat ditelan beruang. Kalau kalian lebih memilih diam di sini, aku tak bisa jamin bahwa kita takkan mati kehabisan nafas.  "

Maka, dimulailah perjalanan Komu, Neka, Kamga, dan Riga mengikuti jalur yang dituntun oleh Rudra untuk mengungsi. Entah apa yang membuat hutan semakin membara. 

BERSAMBUNG

#Tantangan8eps4
#Ceritabersambung
#SambunganhariRabu
#ODOPBatch7
#OneDayOnePost












Selasa, 29 Oktober 2019

Dengan Siapa Kita Jalani Cerita Ini

(Cerita ini adalah sambungan dari 'Mari Kita Mulai Cerita Ini')

Molo bergumam dalam hati, saat ia menatap kasuari yang menyebutkan nama satwa asing. 

("Sudah kuduga, memang dia hendak memperdayaku. Kali ini, aku takkan bertanya lebih jauh. 
Bosan kujilat seisi rimba hanya untuk mencari jejak anak-anakku.")

"Mohon maaf tuan kasuari, aku sepertinya salah arah. Terima kasih telah menerimaku di wilayahmu."

"Oh begitukah? Sepertinya kau memang mencari seekor musang dibalik semak-semak ini. Kau cukup menjilat kakiku dulu, sama seperti hewan lainnya. "

Molo berbalik arah, antusias mencari sumber bau yang sedikit dikenalnya. Tak diindahkannya tanggapan kasuari. Terperanjat dan tertekan. Beberapa cangkang telur sudah dipecahkan, sisa sebutir dan seekor kadal kecil yang terluka. Musang Bajengkong sedang tertidur. Bergegas Molo mengambil langkah memutar untuk menyelinap ke dalam semak, kemudian dibawanya telur yang masih utuh bersama bayi kadal yang terluka. 

Rupanya, musang hitam besar dengan hiasan kepala tengkorak burung itu terusik oleh gerakan induk iguana. Ia mengancam dengan beringas, tepat setelah terjaga dari tidur siangnya.

"Hei! Kembalikan makananku! Akan kulumat kalian."

Molo berusaha susah payah lari dari Bajengkong dengan membawa 'banyak muatan'.  Sesaat Bajengkong mulai menyusul, tinggal selangkah untuk mencengkram mangsanya yang berlari. 

"DOR!" "DOR!"

Bajengkong berbalik arah, lari tunggang langgang mendengar bunyi yang nyaris memecah gendang telinganya. Matanya menangkap api yang melesat menuju pepohonan, melumat dedaunan. Molo tetap berlari sekencang-mungkin, karena tujuan besarnya hanya tentang keselamatan diri dan nyawa dua ekor kadal yang dilindunginya.


_______
_______
"Komu, apa yang terjadi denganmu? Sudah tiga hari ini kau buang air besar dan muntah lebih dari sepuluh kali. Apa jangan-jangan mimpi tentang ibunda membuatmu banyak pikiran?"

"Aku tak paham, kak Neka. Mungkin memang aku merindukannya, sama sepertimu. Tapi entah mengapa, rasanya aku tak sanggup mengunyah buah-buahan selama beberapa hari ini."

"Ya, aku juga merindukan ibunda, Komu. Mungkin, buah-buahan yang tadi sudah membusuk. Kita memang sedang tak banyak pilihan untuk bertahan hidup, gara-gara longsor besar itu."

"Aku jadi terpikir soal Mara, kak Guni, dan kak Bong. Bagaimana ya mereka? Apa mereka sehat?"

"Entahlah, kuharap mereka sehat-sehat saja. Sebenarnya Mara mau saja ikut dengan kita, selama ia mampu membuang rasa segannya terhadap kak Bong dan kak Guni.  Kak Bong memang kasar dan egois dari dulu, sementara kak Guni baru nurut kalau ada maunya. "

"Eh....kok ada bau makanan ya? Tampaknya ada sesuatu yang lezat tak jauh dari sini."

"Entah kenapa, aku tak bisa menciumnya, Komu. Mungkin itu adalah makanan yang cocok untuk lidahmu."

Secara refleks, Komu berlari menuju sumber bau. Ada sesuatu dari dalam diri Komu yang membuat kadal besar remaja itu berlari lebih cepat dari biasanya.  Bau itu ternyata adalah aroma amis darah dari seonggok jasad babi hutan yang ususnya terburai, tergeletak di balik patahan ranting dan kayu pohon besar. Lantaran Komu tak kuasa menahan air liurnya, maka dilahaplah bangkai tersebut.

"Kamu sanggup makan bangkai seperti ini, Komu? Hoeekss,..... aku mual sekali mencium baunya."

"Kenapa ya bisa nikmat sekali? Justru aku merasa tak pernah merasakan kelezatan seperti ini sebelumnya"

"Hei kalian! Roooaaaaaaaarrrrr!! Itu makananku!"

Dari belakang semak pohon tempat jasad babi hutan teronggok, muncullah sesosok kucing loreng besar dan bertaring. Aumannya membuat suasana jamuan makan mendadak tegang. Keringat dingin Komu dan Neka seketika mengucur deras. Mereka memasang kuda-kuda, karena bisa jadi sosok kucing besar itu siap mencabut nyawa mereka karena makanannya direbut.

Namun....harimau beranjak remaja itu mendadak sedikit iba melihat perawakan Komu yang kurus kering.

"Hei, komodo. Aku mengerti kamu memang sedang lapar. Tapi paling tidak, lain kali lihat dulu sekitarmu. Babi hutan itu hasil buruanku, jadi lain kali kalau mau makan bawa buruanmu sendiri. Aku tak keberatan makan bersama-sama."

"Maaf, kau panggil aku komodo, kisanak? Apa itu komodo? Aku ini iguana botak."

(Harimau menggumam dalam hati"Ya Tuhan, ternyata aku berhadapan dengan komodo yang tak sadar siapa dirinya?") "Ya sudah, kita makan saja babi ini bersama-sama. Lagipula, aku sudah cukup kenyang makan usus besarnya. Jadi namamu Komu , ya nama yang cocok dengan asal-muasalmu. Aku Yoka, harimau yang sudah berkeliling hutan ini selama empat tahun."

"Terima kasih Yoka atas kemurahan hatimu. Jadi, kau sebut aku komodo? Bisa ceritakan apa itu?"

"Ya, tentu saja. Kulihat, sepertinya kamu jarang berburu. Yang jelas, kalau kalian bertanya apapun padaku, aku takkan meminta untuk menjilat kakiku. "

Setelah menikmati jamuan babi hutan, Yoka mengajak Komu dan Neka berkeliling hutan. Komodo, cara berburu, dan beberapa langkah untuk bertahan di hutan menjadi topik perbincangan mereka. Tak lupa, Komu dan Neka mengajak Yoka bermain ke sarang. Saat itu, Kamga sedang tertidur pulas.

"Kau takkan memakan adikku kan?"

"Tentu saja tidak, Neka. Aku lebih tertarik berburu sapi, rusa, banteng, dan babi. Maka, jika kalian memboyong seekor rusa jadi teman , siap-siap saja melihat air liurku terkucur. "

"Kau bilang tadi cara membunuh hewan adalah dengan memutus nadinya. Tapi, sepertinya aku tak selihai kau dalam menggigit leher hewan besar."

"Kau punya racun dalam liurmu.  Jangankan rusa, badak pun bisa kau tumbangkan hanya dengan menggigit kakinya."

"Baik. Sepertinya aku perlu lebih banyak berguru padamu. Kau kan calon raja hutan"

"Raja hutan? Ada yang lebih mampu merajai hutan ini. Lebih tepatnya, merajalela. Salah duanya, adalah para pembunuh ibu dan ayahku. Sungguh tega mereka hujamkan api ke jantungnya. "

Komu, Neka, dan Kamga tertegun. Mereka ingat cerita ibu mereka beberapa bulan silam, tentang letusan api yang membuat Bajengkong berbalik arah, dengan bunyi yang sanggup memecah telinga. Seketika keringat dingin mengucur. Khawatir para pemilik api itu ada di hutan ini. Yoka menunduk; dalam pikirannya berkutat kenangan tentang mendiang ayah dan ibu.

Grosak...! Grosak...!

"Siapa itu?"

"Grrroaaaaarrrr!!!!!"

Dalam sekejap, seekor macan tutul segera menggamit Kamga, iguana bertubuh mungil itu, dalam mulutnya. Komu, Neka, dan Yoka bergegas mengejar macan tutul dewasa itu.


BERSAMBUNG

#TantanganODOP8eps3
#SambunganSelasa
#OneDayOnePost
#ODOPBatch7























Senin, 28 Oktober 2019

Mari Kita Mulai Cerita Ini.

(Cerita ini adalah lanjutan dari 'Jangan Baca Cerita Ini)

"Jadi, waktu itu ibu berhasil kabur dari kasuari dan musang bajengkong?"

"Ya, untung penciuman ibu masih tajam. Meskipun musang bajengkong bersembunyi di sekitar semak yang cukup gelap, sudah kutemukan batang hidungnya sebelum kujilat kaki si kasuari angkuh itu. Lalu ibu menemukanmu yang terluka,  bersama seorang saudara angkatmu yang masih hidup."

"Ibu, siapa sebenarnya ayah dan ibu kandungku. Aku tak mengerti mengapa saudara yang lainnya risih karena tidak punya jambul dan anak tekak. Kerap kali mereka bilang aku anak ular yang cacat karena lidahku yang bercabang ini?" 

"Kamu memang anak ibu, Komu. Meskipun kau lahir bukan dari telurku, tetapi sebagai sesama kadal engkau adalah anakku yang sejiwa dengan saudara-saudaramu. "

"Ibu, terima kasih sudah menyayangi dan membesarkanku setulus hati. Aku ingin sekali tetap melindungi dan mengayomi semua keluargaku. Bantu aku untuk tegar, Bu."

"Sebagai pejantan, kau harus tangguh meskipun ada saatnya menangis sulit untuk dihindari.  Jadilah anak kebanggaanku, seperti saudara-saudaramu yang lain. Ibu dan saudara-saudara akan terus menjagamu pula."

Seusai bercengkrama dan berpelukan, Komu pergi mencari air minum. Kepalanya yang panjang dan lonjong terjejali banyak hal, salah satunya tentang jati diri. Komu menatap dalam-dalam danau yang jernih, dimana pantulan wajah terlihat jelas. 

"Mengapa kepala ini pitak? Kapan akan tumbuh jambul ? "

"Taring-taring ini, besarnya berbeda dengan milik kakak-kakak iguana. Air liur tak berhenti menetes, aku tak suka. Karena air liur ini, mereka kerap menjahiliku, kecuali Neka. "

"Lalu, apa yang terjadi dengan badan ini? Aku masih lebih muda dari mereka, mengapa tubuh ini kian membesar?"

Kemudian Komu merenungi perjalanannya bersama Molo, ibu angkatnya yang penuh welas asih. Delapan tahun silam, ia dibawa kabur dari terkaman musang bajengkong. Musang sadis yang senang menyantap hewan pengerat, burung,  dan kadal muda itu tak lain adalah seekor binturong yang memasang paruh burung rangkong sebagai hiasan wajahnya. Komu ingat secara samar-samar bagaimana gigi tajam musang bajengkong menembus kaki belakangnya, hingga menghilangkan kesadaran utuhnya. 

                                 
                     
                                 
Mengapa aku berbeda dengan yang lainnya?

"Pok!"

Sebuah tepukan membuyarkan lamunan liar Komu

"Komu, kenapa melamun saja disini? Sebentar lagi kita akan mencari makan. Jangan sendirian aja, nanti kalau kamu dimangsa gimana?"

"Kak Neka? Maaf aku terbawa ingatan masa lalu. Aku hanya heran, tentang siapa dirimu."

"Kukira, mungkin kau seekor biawak, Komu. Tetapi biawak pun tak sebesar dirimu. Tak mengapa buatku, soalnya enak tidur dibawah badanmu yang besar. Selama tidak ditimpa, hehehe..."

"Ah Kak Neka suka aneh juga.  Takutmya Kak Neka jadi gepeng kalau aku sulit menahan kantuk."

"Entah kenapa, Komu. Aku tidak ingin menjahilimu seperti saudara yang lain. Kamu punya suatu kehangatan yang berbeda dengan iguana seperti kami. Aku pun tak takut dengan taring datarmu yang bergerigi itu. Setiap makhluk pasti memiliki keistimewaannya tersendiri. "

Komu dan Neka mengikuti ibu dan saudara mereka mencari pangan untuk siang hari. Berjalan cukup lama, tampaklah sebuah pohon pisang yang berbauh  ranum. Pohon yang cukup tinggi itu berdiri dekat tebing tanah gembur yang licin.

+ "Pisang lebat! Jamuan besar!!"

0 "Cukup nih buat tahan sampai sore."

+ "Aku mau lahap semuanya"

- "Ih bagi-bagi lah, masa semua mau diembat sendiri"

+"Kom, kita mau manjat, nih. Badanmu kan besar, boleh dong sebentar jadi pijakan."

- "Boleh, tapi beri Ibu jalan terlebih dulu. Sejak kemarin, jatah makan Ibu sudah dihabiskan kalian semua."

                                            Molo melangkah ke pohon terlebih dahulu

Komu pun mempersilakan saudara-saudari angkatnya untuk memanjat melalui badannya yang memegang pohon, tepat setelah Molo memimpin di depan. Begitu menduduki puncak pohon, saudara-saudari Komu berebut mengambil semua sisir pisang dengan tergesa-gesa, sampai-sampai Kamga, adik bungsu mereka terpelanting jatuh dari pohon. Untungnya, kedua kaki depan Kamga masih berpegangan pada ujung tebing.

"Kakak-kakak, Kak Neka, Ibu, tolong aku!"

"Kamga,...bertahanlah, Nak. Ibu segera datang!"

.....
"Hahahahahaha! Kutemukan kalian lagi, kadal betina dan anak-anaknya, sebentar lagi akan kulahap kalian"

Di tengah suasana genting itu, terdengar suara tawa tak jauh dari pohon besar tersebut. Rupanya, musuh lama Molo muncul, musang Bajengkong. Musang Bajengkong dengan segera mencengkram leher Molo, sementara Neka berusaha mencakar agar ibunya dilepaskan. Di saat bersamaan, Komu dengan sigap menjulurkan kaki depannya untuk menolong Kamga

"Kamga, pegang tanganku sekarang. Jangan lihat kebawah!"

"Kamga takut, Kak Komu,...cakar kakak besar sekali."

"Lecet sedikit tak akan mengapa, Kamga."

Brug!

Suara hantaman memecah kegentingan. Neka yang berusaha melawan terus digempur oleh Bajengkong. Molo terlepas dari cengkeraman,  lalu terbanting  dari pohon, kepalanya terantuk batu besar. Tampak deras merah darah mengucur di permukaannya. Komu dengan segera menarik Kam

"Ibuu,.....kurang ajar kau Bajengkong! Kau lukai ibu kami!"

"Matilah kau Bajengkong!"

Musang Bajengkong kembali dengan tabiat culasnya 


Semakin tua semakin jadi. Musang Bajengkong sudah naik tingkat dari sekedar pencuri telur dan bayi hewan, menjadi penyamun kelas kakap. Sabetan cakarnya yang gesit berhasil meredam serbuan para iguana yang jumlahnya tak lebih dari empat ekor. Di setiap wajah para iguana, Bajengkong mendaratkan luka menganga. Tatkala melihat  Komu dan Kamga, Bajengkong semakin beringas, lantaran dua kadal itu terlihat menggiurkan

"Cukup kubunuh kamu yang berbadan besar, yang kecil akan kulahap setelahnya"

Crak!!

"Oh, iguana botak besar ini boleh juga nyalinya ya. Kamu bisa menggigit tangan kiriku, tapi bagiku ini cuma sekedar garuk....eh? Uhuk...uhuk..... Kenapa kepalaku pusing sekali? Hhhaahhah,....ken,...kenapa sesak rasanya. Si,....apa kamu seb...benar...nya, kadal bes..ssaar? Apa jangan-jangan,...kkkk..kaaamuuu....."

"Aaaa.....akuuu...tidak ingin mati di sini,.! Aku,...masih,...ingin....ma...kaaan."




Musang Bajengkong memuntahkan darah dari mulutnya. Nafasnya tersengal-sengal, sementara luka tangan bekas gigitan Komu menjadi busuk dengan cepat. Rupanya, tubuh Bajengkong yang tak terlalu besar membuat bakteri dalam gigi Komu menyebar cepat.  Musang Bajengkong menuai karma, karena telah mencari masalah dengan seekor komodo muda. Bajengkong mengerang untuk terakhir kali, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat saat darah mengalir deras dari hidungnya.

"Ibuu,...bertahanlahhh. Kakak-kakak, Neka, Kamga, ayo papah Ibu."

"Jangan tinggalkan kami, Bu."

Mereka semua sudah terlambat. Jiwa Molo sudah lepas dari raganya. Para iguana dan Komu bersedih. Tak lama, dua ekor iguana tertua beradu mulut. Mereka saling menyalahkan mengapa Molo bisa terjatuh dari pohon.  Neka berusaha melerai, justru mereka berbalik menghina Komu -seperti biasa-.

"Seandainya kamu tak membawa kami ke pohon itu, Komu, ibu mungkin masih hidup sampai saat ini."

"Ya, coba saja kamu bunuh musang sialan itu lebih cepat, mungkin kami semua sudah selamat."

"Tta, tapi aku kan sedang menyelamatkan Kamga. Hampir saja dia jatuh tadi. "

"Kak Bong, Kak Guni, kenapa kalian malah menyalahkan Komu? Dia dari tadi berusaha menolong adik kita."

"Entah kenapa, aku tak suka Komu di sini. Sejak ada dia, kita selalu kena sial. Terserah kamu Neka, kalau  nekad mau dia tetap ada disini atau mau ikut kami. Sekarang aku, Guni, Kamga, dan Mara akan mengembara ke tempat lain, sebelum kami mati tergigit taringmu, Komu. "


"Baik, mungkin aku tak sepantasnya berada di sini. Maafkan aku telah merepotkan kalian selama bertahun-tahun. "

Setelah jasad Molo dikubur,  Komu melangkah gontai menuju selatan, sementara Bong memboyong empat saudaranya menuju utara. Sekian kilo perjalanan, Komu melihat bunga bermekaran. Dipetiknya salah satu bunga dan digenggamnya melalui rahang. Komu berbalik arah menuju tanah tempat jasad Molo terkubur,  lau air mata menggenangi korneanya yang kecil.

"Ibu, maafkan aku tak bisa melindungimu. Semoga ibu bahagia di sana. Aku berjanji. Komu akan selalu menjadi anak yang ibu banggakan. Komu akan berwelas asih kepada semua bangsa kadal, entah ia hidup di hutan, gurun pasir, atau dimanapun. Komu akan selalu ingat, bahwa semua kadal bersaudara."

"Jangan khawatir Komu, kamu tak sendiri."

"Kak Neka? Kamga? Bukannya kalian mengikuti Kak Bong dan yang lainnya?"

"Mungkin gigi dan cakarmu menakutkan. Tapi aku takkan mengingkari apa yang pernah ku ucapkan tentangmu, adikku.  Aku takkan tahan untuk satu jalan dengan mereka bertiga yang egois. Lebih baik kubawa Kamga untuk menemani pengembaraanmu. Akan kemana kamu sekarang, Komu? Bukankah kami adalah yang membuatmu merasakan artinya sebuah rumah?"

"Aku tidak tahu kemana. Yang jelas, aku ingin kalian mencintaiku bukan sebagai iguana, tapi sebagai apa adanya diriku."

"Tentu, apapun yang terjadi, kamu tetap saudara sebangsa kadal."

Komu semakin larut dalam haru, lalu memeluk kakak dan adik angkatnya itu. Sungguh, berbeda bukan alasan untuk saling membenci. Bukankah keberagaman adalah warna kehidupan?

BERSAMBUNG

#TantanganCeritaBersambung
#episode2dariceritadianggaptamat
#perjuanganparakadal
#Tantangan8ceritabersambung
#OneDayOnePost2019Batch7










Minggu, 27 Oktober 2019

Feature: Jalan Terjal Mengubah Laut Menjadi Listrik

Pengalaman kerja kuliah nyata memang membekas bagi sebagian orang. Tak terkecuali saya, yang memilih pabrik pembangkitan listrik menjadi tujuan dalam menguji pemahaman kuliah selama tiga tahun. Dalam episode kali ini, saya akan mengulas lebih pabrik pembangkitan listrik di Suralaya, yang terletak cukup dekat dengan Selat Sunda beserta perjalanan yang harus ditempuh ubtuk mencapainya. 

Lima hingga tujuh jam. Demikian jumlah durasi yang harus ditempuh sebuah bus dari Bandung untuk bisa mencapai kota pelabuhan Merak. Lokasi pelabuhan strategis yang menghubungkan ujung Jawa dengan pangkal Sumatera ini adalah pintu akses termudah untuk memasuki Suralaya. Adapun jalan paling mudah ini tersusun aspal retak dikerubungi bebatuan terjal. Jadi jangan heran bila kita harus siap bergoyang di atas motor, angkutan umum,  atau mobil saat menempuh jalur ini. 

            Jalan Terjal Menuju Suralaya 

Suralaya sendiri adalah sebuah desa yang berdekatan dengan pantai. Setiap malam, pantai Suralaya biasanya dijaga oleh beberapa orang satuan pengamanan. Selain bertugas mengamankan, mereka juga disiagakan untuk menanggulangi kesurupan yang biasanya menimpa para pelancong pantai yang suka 'mencari masalah' saat malam hari. 

     Jangan Main Sampai Malam di sini!

Pabrik pembangkitan listrik yang dimaksud dalam feature kali ini, adalah Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya milik PT Indonesia Power, salah satu anak Perusahaan Listrik Negara. Bisa dibilang, arus listrik yang menyangga satu kabupaten biasanya ditopang oleh unit pembangkitan yang ada di pelosok. Sumber kekuatan Unit Suralaya dalam membangkitkan arus listrik yang masif itu adalah pengolahan air laut. 

Berdasarkan pengetahuan dasar yang dipahami sebagian besar orang, pada umumnya PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) memerlukan sumber air yang cukup besar. PDAM memang difokuskan untuk memenuhi pasokan air minum, manakala PLTA mengolah listrik dari sungai, danau, laut, hingga hujan. Bedanya, air untuk membangkitkan listrik harus bebas klorin, tak seperti halnya air minum. Lantaran UBP Suralaya menggunakan air laut, proses desalinasi dan membran osmosis terbalik menjadi rangkaian proses untuk menjernihkan air (sangat) asin menjadi air berion murni. 

Terkait dengan desalinasi, air laut dijernihkan dengan tenaga suhu panas yang cukup tinggi. Keakuratan alih energi melalui prinsip termodinamika menjadi faktor kesuksesan dalam membebaskan substansi air laut yang menjadi penghambat arus listrik. Maka, menjaga proses aliran panas dalam instalasi desalinasi dibutuhkan keahlian dan daya stamina dalam membaca angka temperatur dan faktor kestabilan mesin yang optimal. 

Panas Mengubah Air Laut Menjadi Arus Listrik 

Bagaimana dengan membran osmosis terbalik? Proses pengalihan air laut menjadi air pembangkit listrik akan melalui penyaringan membran sebanyak ratusan kali. Dari mulai tangki penampung hingga pemisah kuman dan klorin, adalah serangkaian petualangan panjang agar air laut aman diubah mesin pembangkit  menjadi sumber arus lampu, laptop, dan stopkontakmu. Sebagaimana mesin pada umumnya, instalasi membran rawan terkena kerak. Maka diperlukan proses pembilasan dan penambahan cairan kimia untuk menjaga kestabilan rangkaian sistem proses. 

                  Rangkaian Membran 

Tentu saja, limbah pasti selalu terjadi setiap kali suatu proses dijalankan. Residu sisa konversi listrik ini dilenyapkan oleh Mesin Penguapan Elektrostatik. Dengan menggunakan energi kinetik bercampur magnet, sisa substansi hasil proses dicacah semakin kecil dengan gerakan turbin berarus. 

         Magnet Ajaib Pelenyap Debu


Bagi para insinyur mesin, listrik, dan lingkungan, menguji efisiensi dari proses pengolahan hingga pemusnahan residu merupakan lahan penelitian yang cukup menantang. 

Ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana laut berubah wujud jadi listrik melalui keajaiban mekanika, kimia, dan fisika. Bagaimanakah listrik hadir di kotamu? 




Sabtu, 26 Oktober 2019

Kenikmatan Berdebat Dengan Para Bedebah

Negeri saya ini lucu. Tanpa perlu sesering mungkin menonton tayangan humor, beberapa sikap dan tingkah laku orang-orang yang berada dalam dunia maya dan nyata senantiasa membuat perut ini sakit. Sudah beberapa tahun ini, saya lebih suka untuk melatih diri untuk mengubah sakit hati menjadi sakit perut. Soalnya, sakit jiwa tidak ditanggung asuransi kesehatan. 

Apalagi, asuransi kesehatan jaman sekarang malah mengancam status kewarganegaraan para penggunanya. Saya masih ingat berita beberapa hari silam, bilamana uang premi tidak dibayarkan, maka layaban listrik  dan kartu tanda penduduk milik pengguna berhak dicabut. Sungguh sebuah ironi berlelah-lelah kerja hanya untuk membayar asuransi kesehatan, meski di sisi lain tak semua rumah sakit mau menerima jaminan asuransi untuk hal-hal yang sepele tapi vital. Itupun belum termasuk tagihan listrik dan pajak lainnya. 

Selain  menghemat biaya asuransi, saya rasa, melarikan beragam jenis lelah hati jadi sakit perut bisa memperkaya wawasan. Wawasan tentang hal-hal yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh dan orang-orang yang tidak sepatutnya diambil hati. Di berbagai belahan negeri saya, polusi beraneka rupa telah muncul. Tak hanya polusi udara, air, dan tanah: polusi informasi, waktu, etika, dan isu ikut mewarnai kekeruhan dan kekisruhan yang telah lama menjangkiti negeri ini. Sialnya, banyak orang yang justru ketagihan untuk menghirup beragam macam jenis polusi baru ini.  

Sebagaimana tingkat mabuk tergantung kadar alkohol, orang-orang yang menjadi para penghirup polusi ada yang masih biasa saja, ada pula yang berubah wujud menjadi para bedebah. Diantara empat macam polusi yang telah disebutkan, saya selalu berharap banyak lelucon lebih bermutu dilontarkan oleh para bedebah yang kecanduan polusi etika dan informasi.  Masih tertanam di kepala saya, beberapa orang yang memulai 'kelucuan' ini bertahun-tahun silam. Merekalah yang berperan besar untuk mendidik saya agar tak lekas lelah hati menghadapi orang-orang yang masih satu spesies dengan mereka.

Tiga tahun lalu, salah seorang tetangga saya mencicil mobil tipe MPV yang menghabiskan banyak tempat. 'Prestasi' yang diukir mobil tersebut kian bertambah, manakala beberapa kali si bongsor roda empat itu terparkir menyesaki jalan komplek yang tidak luas. Saya sempat lega, lantaran empunya mobil ditegur hansip,

"Pak, mohon maaf lain kali jangan parkir di sini. Banyak orang lalu lalang dan mobil bapak menutupi jalan."

"Rumah saya sudah ga cukup buat masuk mobil pak, emang situ mau bayarin garasi buat saya?"

Rupanya, hansip pun dia lawan. Mbelgedhes! Dasar kelakuan orang pura-pura kaya. Mosok punya uang segepok, beli garasi aja ndak iso. Belum lagi, tetangga saya ini kerap nyombong. 

"Saya merasa punya mobil itu jaminan kebahagiaan. Memang uang tidak bisa membeli kebahagiaan tapi lebih nikmat menangis di dalam mobil daripada di dalam bus. "

Saya cukup tertawa geli mendengar penuturannya, sambil bergumam dalam hati: 

"Yah, benar memang lebih enak buat menangis. Saking enaknya buat nangis, saya ga tahu berapa lama dalam sehari bapak tersedu-sedu dalam mobil itu. Bisa jadi, nangisnya lebih lama di kursi jok daripada kursi bus, lantaran cicilan dan agunan yang nggak beres-beres. Huahahahaha."

Ternyata, bapak tukang pamer itu menemui karmanya. Belum lama ini, bagian belakang mobilnya ringsek diterkam motor tiger. Pelakunya, seorang anak kuliahan berjaket langsung kabur tanpa menengok. 

Ya begitulah namanya harimau, memang gak pilih-pilih mangsa.

Bapak itupun terisak di depan umum, sesuatu yang dianggapnya hina selama ini. Segala sumpah serapah dan ratapan yang keluar dari mulutnya entah kenapa terdengar nikmat di telinga saya dan beberapa orang yang sakit kepala dengan sikapnya. Satu sisi, saya belajar bahwa memang kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, dan bagi orang yang hobi pamer miskin empati,  kebahagiaan bisa lenyap dalam sekejap. 

Selain bapak tersebut, beberapa bedebah lainnya yang saya ingat, menimbulkan trauma yang cukup membekas. Dia memang tak punya niat mencelakakan, tapi juga tak ada niat bertanggung jawab. 

Saya tak kenal siapa dia, hanya seorang ibu-ibu yang membawa motor bersama anaknya. Yang kutahu, dia membawa motornya berlawanan arah dengan lampu sennya. Paman saya telah menjadi korban dari ketidakjelasan arah motornya, lalu dia ambil langkah seribu tanpa menoleh. 

Saat kulihat lengan paman bersimbah darah, dalam hati kutukan keras kualamatkan pada ibu tak dikenal tersebut.  Tak sampai sebulan, kudengar berita pahit di TV bahwa seorang ibu dan anak meninggal di tempat setelah motornya tersapu mobil minivan.  Saya mengelus dada sambil mewanti-wanti diri sendiri,

"Astaghfirullah Ervan, lain kali hati-hati dalam berdoa. Jangan-jangan, tak perlu menunggu setahun untuk terkabul."

Selain bapak tetangga dan ibu serampangan tersebut, ternyata bedebah tak hanya muncul di lalu lintas dan komplek perumahan. Dua orang teman yang kusangka sahabat selama ini, ternyata menjadi sumber lelucon dengan topik pengkhianatan.  

Dua tahun silam, Roni meminjam uang  dalam jumlah fantastis. Tak kurang dari enam digit. Dia datang memohon dengan muka memelas. Karena iba, tentu saja kuanggap ia berhak atas uang itu. 

Sayang, begitu uang itu kubutuhkan, Roni selalu mengelak.

"Tadinya saya sudah mau bayar, cuman uangnya ketinggalan."

"Maaf dipakai dulu untuk yang lain ya."

"Ada yang lagi penting banget, bro.."

Akhirnya kudaratkan bogem mentah di wajahnya, sambil tertawa puas. Saat itu, alasan yang dia utarakan cukup menggoda nyaliku:

"Bro, emang lu sekarang udah miskin, sampai-sampai lu sering nagihin gue?"

Sama-sama jadi pekerja kantoran, sama-sama pakai motor. Tak kusangka giginya harus rontok di tanganku. Tanpa diminta perusahaan untuk mundur, harga diriku mendorongku untuk resign lebih dulu. Maaf, saya tidak mau lama-lama berkubang dalam lingkungan para 'pelawak' pinjaman uang. Banyak teman sekantor yang justru membelanya, meski tak sedikit yang memaklumi sikapku. 

Aliran uang tak harus menunggu tanggal tertentu, itulah yang saya yakini ketika kembali merintis usaha penerbitan. Usaha ini bertahun-tahun dijalankan dengan merapel pekerjaan kantor. Maka, ketika surat resign sudah jadi resmi, saya lebih fokus menjalaninya. Tapi, tak jua mengusir bedebah yang ada di sekitar saya. 

Eris, yang kusangka bisa dipercaya untuk menjadi tangan keduaku dalam bisnis ini, nyatanya tak lebih dari seorang plagiat.  Beberapa naskah milik mitra, langsung dimuat di koran atas nama dirinya tanpa izin. Mitra marah, langsung saja kuseret dia secara halus. 

"Eris, sekarang kamu hapus publikasi yang sudah dimuat di koran itu. Saya tidak mau tahu, kamu sudah melakukan plagiat!"

Saya kemudian menyindir perlakuan dirinya dalam akun media sosial. Tak lama, ia malah balik mengancam 

"Kenapa pak Ervan tega mencemarkan nama baik saya? Saya akan laporkan bapak!"

"Kalau kamu mau tidak dicemarkan, kamu jangan pernah berniat untuk berkubang dalam kotoran. Saya hanya tidak mau ada editor semacam kamu di teman-teman penerbit lainnya. Kamu mau ngancam? Silahkan! Kita juga punya undang-undang anti plagiasi, dan saya yakin bukan hanya mitra kita yang sakit hati. Yang jelas, kalau kamu mau nekad somasi, saya takkan pernah lari karena saya bukan Pinokio!"

Dia pun diam membisu. Batang hidungnya tak pernah lagi tampak di mukaku bertahun-tahun. Dasar pelawak. 

Mulai dari empat orang itu, saya selalu belajar menertawakan para bedebah yang tidak tahu malu. Lebih-lebih, kadang saya menanti keberadaan orang-orang semacam ini di manapun berada. Sungguh mereka mengusir kebosanan hidupku. 

Tamat

Masih diniatkan untuk tantangan ketujuh ODOP

#Cerpen10paragraf
#ChallengeOneDayOnePost
#OneDayOnePostBatch7
#Tantangantujuh










BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...