Jumat, 25 Oktober 2019

Kutunggu Engkau di Podium

KUTUNGGU ENGKAU DI PODIUM
oleh Briantono Raharjo 

Setibanya di kantor polisi, Maryani mencengkeram kerah baju Mansur lalu menampar pipi kanan putra bungsunya itu. Wanita berseragam kasir yang belum genap empat puluh tahun itu geram dengan ulah putranya yang kedapatan memakai shabu-shabu. Setelah mendaratkan tamparan pertamanya, Mahmud, suaminya, menarik dan menahan tangannya. 

 “Maryani, hentikan! Kita belum dengar sendiri penuturan Mansur dan aparat soal bagaimana dia bisa dapat shabu-shabu itu.”

“Kamu memang lembek, Mud! Sekarang kamu lihat dengan mata kepalamu itu bagaimana bengalnya bocahmu itu?”

Melihat pertengkaran orang tuanya, Mansur hanya memicingkan mata. Pikirannya tersekat pada kejadian setahun silam, yang membuatnya terseret obat-obatan terlarang:

Maryani begitu kecewa akan Mahmud, yang harus menerima ‘hadiah’ pesangon setelah bekerja bertahun-tahun. Hari-hari setelah Mahmud dirumahkan, Mansur kerap kali mendengar nada-nada tinggi dari mulut Maryani. Ayahnya selalu menjadi bahan gunjingan manakala didapati hal yang tidak beres dalam rumahnya. 

Lima bulan mengalami pemutihan, Mahmud diterima bekerja di sebuah bengkel. Namun tak ada pujian atau sekedar rasa syukur terucap dari bibir Maryani. 

“Mahmud, bisa bawa berapa kamu kerja di bengkel? Kamu sih cuma lulusan D3.  Untung aku nguli di kasir biar tetep nafas. Mending dulu aku tamatin S1, daripada kepincut janji manismu!”

Mansur yang mendengar omelan Maryani  dari ruang sebelah, berhadapan dengan kebuntuan dalam dirinya. Batinnya seolah tertusuk sebongkah es besar. Ia merasa bahwa menjadi laki-laki seolah tak berarti saat kehilangan mata pencaharian. 

Sayang, saat berusaha bangkit dari titik rendahnya, kadang bukan yang pertama kali menolong bukanlah sosok tulus. Mansur ingat pernah menyanggupi tawaran Rusfi untuk berkenalan dengan para siswi SMA lain di suatu malam. Selain karena percaya Rusfi sebagai teman berbagi rasa, Mansur ingin menunjukkan supremasinya di hadapan wanita sebaya.

 "Semoga saja cewek-cewek yang mau ketemuan gak rese kaya Ibu” gumamnya dalam hati.  

Nyatanya, pertemuan malam itu adalah ranjau yang membuatnya terdepak dari sekolah. Kini ia harus menerima status barunya sebagai pasien rehabilitasi bekas murid SMA, sekaligus menerima kenyataan bahwa Mahmud dan Maryani bercerai. Belum lagi,  Mahmud dan Mansur tidak lagi diperkenankan tinggal satu atap. Maryani yang tidak terima penghasilan suaminya dan ulah putranya lalu menahan Marini bersamanya. Beruntung, tidak sampai seminggu Mahmud menemukan kontrakan baru, sementara Mansur harus mendekam dulu di bangsal rehabilitasi. 

Suatu hari, sehelai kertas tercecer menembus celah bawah pintu kamar menarik perhatiannya. Mansur lalu membaca kertas itu: pamflet iklan berisi gambar dan narasi memikat mata. Terketik sebuah inisial di kop kertas: A. Wicaksono.  Ia langsung mencari tahu soal pemilik nama pamflet. Nyatanya, sang pemilik nama saat ini adalah penghuni panti seperti dirinya : Alrian Wicaksono, 

Seusai berkenalan, Alri kemudian menjelaskan bahwa bisnis periklanan masih leluasa untuk dijalankannya sekalipun dalam masa rehabilitasi. Mansur kemudian menyatakan ketertarikannya untuk belajar periklanan.  Kebosanan Mansur dalam panti rehabilitasi tergenapi oleh 'kursus' dari Alri. 

Seusai rehabilitasi, Mansur berusaha untuk lulus paket C, sekaligus mendalami desain periklanan hasil gemblengan Alri.  Ketekunan Mansur membuahkan hasil, saat reklame coretan tangannya merombak bisnis bengkel Mahmud hingga meningkat pesat. Dari uang yang terkumpul, mereka menempati rumah baru sekaligus membuka showroom mobil. 

Empat setengah tahun kemudian, hidup Mansur dan Mahmud berbalik arah. Mansur adalah mahasiswa berprestasi di universitas tempatnya berkuliah. Tiap kali Mansur terjun dalam kompetisi antar kampus, jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Nagajaya kerap memborong piala, piagam, dan hadiah. 

Suatu ketika, Maryani mencari Mansur dan Mahmud demi agenda yang cukup penting. Lantaran tidak menemukan mereka di kontrakan lama, Maryani mencari tahu dari tetangga sekitar. Didapatilah alamat baru  Mahmud dan Mansur di sebuah komplek cluster. Empat tahun berpisah, Maryani dan Mahmud hampir tak pernah bertatap mata.  Sesekali Mahmud bertanya tentang dirinya dan Marini, Maryani hanya menjawab satu-dua patah kata dalam SMS. 

Maryani tertegun setibanya di alamat baru Mahmud. Rumah barunya lebih besar dari tempat mereka pernah satu atap dan bersanding dengan bengkel berisi perlengkapan otomotif. Maryani memencet bel, dan ternyata Mahmud yang menyambutnya. Selain mengulas tentang persiapan Marini menikah, Maryani mengurai segala lika-liku dirinya dan Marini selepas bercerai dengan Mahmud. Dia menyesali tindakannya mengusir Mahmud dan Mansur, hingga pernah hampir terseret kasus penyelundupan opium. Maryani sempat tak kuasa mengelak pubertas kedua dengan pengusaha yang perhatian padanya dan Marini. 

"Gak seharusnya aku tertipu sikapnya selama berbulan-bulan, Mas Mud. Aku ga nyangka dia bernyanyi di pengadilan soal aku ikut menikmati hasil jualan haramnya." tutur Maryani mengutarakan ironi yang dialaminya.

"Jadi, kamu sekarang nrimo kalau  menantu kita cuma pegawai toko yang gajinya  ndak gede?", tanya Mahmud pelan bernada menyindir.

"Aku paham kalau mas Mud belum memaafkan sikapku. Tapi aku mohon Mas Mud memberikan restu untuknya dan mendampingiku saat resepsi nanti. "

"Restuku selalu ada buat Marini dan Mansur.  Sampai saat ini aku ingat soal kamu yang sulit mendengarkan orang lain dan mudah panik saat terkena masalah.  Tapi aku jamin, di pelaminan nanti insha Allah kamu takkan sendiri. Aku mau pulang dulu, Yani. Assalamualaikum." Mahmud beranjak dari swalayan, meninggalkan Maryani kembali menunaikan tugas hariannya.  

Dua bulan berselang, ijab kabul antara Marini dan suaminya terlaksana  khidmat. 
Mahmud dan Mansur mendampingi Maryani, Marini, dan suami Marini hingga resepsi berakhir. Sebelum beranjak pulang, Mansur memberikan kertas undangan wisuda pada Maryani. 

"Aku ingin lihat Ibu di aula nanti. Mansur dapat waktu lima belas menit untuk pidato mahasiswa berprestasi. Sayang kalau cuma ditonton Bapak."

Maryani tidak sanggup memendam haru  membuncah di dada. Mansur yang acapkali jadi tempatnya melampiaskan amarah, kini menjadi akademisi teladan sesuai impiannya dulu. 

"Luar biasa kamu, Mahmud. Kamu bimbing Mansur sampai dia berhasil."

"Bukan hanya karena aku, Yani. Mansur tumbuh besar karena kita semua punya peran dalam kehidupannya. Nanti kita ketemu lagi di aula universitasnya Mansur ya."

Manusia berhak untuk berencana, namun Allah Yang Maha Menentukan. Seminggu sebelum wisuda, Mansur tidak kuasa mengelak tabrakan dengan mobil di sisi turunan jalan, hingga badannya terhempas dari motor. Mansur yang jatuh bersimbah darah segera dievakuasi warga sekitar bersama puluhan korban lainnya. Mahmud yang ditelepon oleh rumah sakit setempat bergegas menghubungi Maryani untuk segera merapat.

Nahas, setibanya mereka di rumah sakit, Mansur sudah berpulang ke pangkuan Ilahi. Semua orang histeris, tidak terkecuali Maryani yang langsung kehilangna kesadaran. Tidak pernah disangka momen resepsi satu setengah bulan lalu adalah hari terakhir mereka berkumpul sebagai satu keluarga utuh. 

Hari kelulusan datang, batin Maryani masih terbebani dengan kepergian Mansur, hingga rona mukanya begitu pucat pasi. Maryani berharap acara wisuda segera usai, sebab takkan dijumpai sosok Mansur di podium. Namun pihak rektorat menyiapkan sebuah kejutan: sesi pidato digelar sebelum sesi serah terima ijazah para mahasiswa. 

Begitu nama Mansur Hamzah Alfatih bergema dalam aula, video kilas balik kiprah Mansur selama di kampus ditayangkan. Awalnya, Maryani hanya mengatupkan tangan pada mukanya, karena tak sanggup melihat podium kosong. Di menit-menit terakhir video, sosok Mansur muncul menghaturkan rasa syukur dan terima kasih atas usaha, bimbingan, dan do’a  rekan-rekan sejawat dan orang tuanya. Maryani dan Mahmud terbelalak takjub.  Lalu dari seisi aula serentak para hadirin mengangkat poster-poster coretan spidol

“We love and miss u so much, Mansur” , “Mansur, you are a Man with Sure!”, 

Poster-poster itu menggetarkan hati Maryani kembali tegar menjalani sesi wisuda. Seolah di podium tempat rektor dan dewan kampus duduk sosok Mansur masih berpidato merayakan kelulusannya.  

SEKIAN

(Cerita pendek ini disusun ulang dengan modifikasi terhadap kisah nyata salah satu teman saya. Kali ini saya persembahkan untuk tantangan ketujuh ODOP.)

#OneDayOnePost
#ODOPChallenge
#7thChallenge
#Cerpen

Kamis, 24 Oktober 2019

JANGAN BACA CERITA INI!

Seekor iguana betina baru saja bertelur di sebuah sarang dekat pepohonan. Lantaran tak tahan panas, gundukan tanah di bawah pohon beringin adalah tempat yang paling sesuai untuk melahirkan telur-telur yang dikandungnya selama sekian bulan. Karena saat itu adalah musim hibernasi bagi beberapa hewan, termasuk si iguana, maka tidur untuk hampir sebulan adalah pilihan yang sungguh nyaman untuk dijalankan. 

Nahas, tak sampai sebulan, iguana mendengar ada suara kasak-kusuk hewan lain di sarangnya. Rupanya, telur yang dieraminya berkurang tiga buah. Risau mendera, iguana betina memantau segenap penjuru sarangnya. Terdapat jejak kaki sebesar musang, namun tidak seperti musang-musang pada umumnya. Jejak kaki bahkan dua kali lipat besarnya dari jejak binturong, -seekor musang hitam besar-. Namun, jejak kaki itu juga lebih kecil cakar macan.  

Maka, demi mengejar si pelaku penculikan telur, iguana menimbun puluhan telurnya dengan batu-batu besar dan tajam, tak lupa dengan sedikit makanan dan celah udara. Tidak ada yang bisa mencegah naluri seorang ibu untuk melindungi semua anaknya tanpa terkecuali. Setelah sarangnya tbentengi pagar-pagar batu yang melenyapkan bau dan penampakan  telur. 

Rupanya, jejak kaki besar itu masih memanjang menuju suatu titik. Iguana terus berusaha menyusuri jejak-jejak yang tercetak di sepanjang jalur dataran hutan yang berlumpur dan becek. Di suatu titik, jejak itu tak lagi tampak. Yang dilihat sang iguana adalah sarang trenggiling di depan jejak itu terhenti. Maka diketuknya sarang trenggiling. 

"Ya, mbak iguana, ada apa mengetuk pintu rumahku. "

"Mbak trenggiling, aku kehilangan tiga buah telur. Mereka diculik oleh seekor musang. Apakah engkau tahu kemana pencuri biadab itu pergi? Sungguh aku risau ia akan membantai anak-anakku itu."

"Nampaknya dia tadi berlari menuju sarang monyet siamang."

"Siamang? Apa itu siamang?"

" Jilat dulu kakiku, nanti kuberi tahu apa itu siamang"

Ibu iguana terpaksa menuruti permintaan trenggiling yang jahil itu. Dia memang belum mengenal seisi hutan, manakala sebagian penghuni hutan ini adalah binatang-binatang yang egois dan sering berperilaku aneh. Setelah dijelaskan berbusa-busa tentang monyet siamang, bergegas ibu iguana menuju peraduan para monyet siamang. Terlihat memang ada jejak kaki musang besar yang dia cari. Maka digoyangkannya pohon, untuk berbicara dengan salah seekor monyet siamang. 

"Hei iguana, ada apa kau menggoyang-goyangkan sarangku. "

"Tolong aku, tuan siamang. Aku melihat ada jejak kaki musang raksasa di dekat pohonmu. Apa kau melihat kemana ia pergi?"

"Aku melihat tadi dia pergi menuju sarang tarsier. Letaknya tak jauh dari sini. "

"Hah? Apa itu tarsier?"

"Jilat dulu kakiku, nanti kuberi tahu. "

Setelah iguana menjilat kaki siamang, dijelaskanlah tentang primata kecil bertelinga panjang itu. Bergegas iguana merapat ke ranting dimana seekor tarsier tertidur. Di bawahnya terdapat jejak kaki musang raksasa. Iguana tak berpikir panjang, segera ditepuknya primata kecil itu. 

"Iguana, ada apa kau membangunkanku? Sedang asyik mimpi indah, malah kau hentikan. "

"Maafkan aku nona tarsier muda. Anak-anakku hilang diculik seekor musang raksasa. Kau tahu ia pergi kemana?"

"Saat ia lewat, aku takut dan ku pilih untuk tidur. Tadi kulihat ia bergegas menuju daerah kekuasaan kasuari. "

"Kasuari? Apa itu?"

"Hoaaahhm, jilat kakiku dulu, mbok iguana.."

Dijelaskannya tentang kasuari dan wilayah kekuasaannya. Iguana semakin risau, hari semakin sore,  pelaku penculikan belum juga jelas rimbanya. Iguana semakin memacu larinya menuju semak-semak dimana seekor kasuari gagah berdiri. Di dekat gundukan tanahnya, terdapat jejak kaki musang raksasa. 

"Permisi tuan kasuari. Apa engkau tahu kemana pemilik jejak kaki ini pergi? Ia menculik anak-anakku!"

"Sepertinya aku tahu siapa dan dimana musang itu. Sarangnya hanya sekian meter dari sini, masih masuk dalam wilayahku. Musang itu adalah musang bajengkong."

TAMAT

Rabu, 23 Oktober 2019

2012 Agustus: Selamat Tinggal Untuk DIrimu.

Aku berkenalan dan bersahabat denganmu di suatu masa setelah ujian akhir nasional berakhir. Awalnya aku menyatakan dengan lantang:  "Engkau takkan pernah kutatap!" Kau telah menjadi teman baik teman-temanku selama aku melihatmu di warung depan sekolah. Tak henti-hentinya mereka mengajakmu menjadi teman bicara, bersantap, atau meneguk kopi.

Kau pernah menjadi teman baik Nenekku. Setiap kali kau bertamu, pintu halaman belakang selalu terbuka untuk menyambut. Lalu mulailah kau menemani beliau berbagi aspirasi dan imajinasi. Percakapan kalian begitu khusyuk, sampai-sampai Nenek tidak menghiraukan imbauan Ibu, Pakde, dan Paman untuk menjauhi dirimu. Barangkali, memang dirimu hadir sebagai teman setia.

Di masa setelah ujian akhir nasional, aku telah mengamankan bangku program pembinaan calon mahasiswa di sebuah universitas ternama. Salah satu aturan yang harus ditaati dalam program ini, adalah setiap calon mahasiswa tidak boleh membolos untuk acara wisuda SMA. Saat itu aku memilih melanggar, lalu tenggelam bercengkrama bersama teman yang telah resmi menjadi alumni berkalung medali kelulusan. Sialnya, ada yang melihat jejakku hingga surat dokter yang sudah tertulis sakit seakan tidak memberi dampak berarti.

Orang tuaku yang mengetahui ulahku membolos memberiku beribu wejangan. Entah seperti apa lagi harus kulaksanakan arahan mereka, agar bisa lulus program pembinaan itu dengan gemilang. Maka, di suatu malam aku menemui dirimu. Kau lepaskan penatku, menjadi ruang untuk imajinasi-imajinasi liarku. Aku mulai tersanjung akan kehadiranmu. 

Lambat laun, sejenak bercengkrama denganmu adalah rutinitas yang selalu disempatkan di sela-sela kesibukan. Baik saat istirahat kuliah tiba, saat bermain musik, ataupun saat dirundung sepi. Kamu telah membaur dalam kehidupanku. Sampai-sampai, setiap kali ujian mingguan ku jalani, selain belajar dengan semampunya, sempat-sempatnya kuminta 'restu'-mu. Engkau memang tidak istimewa bagi sebagian orang, terutama kaum wanita. Tetapi, sebagian wanita bahkan Nenekku pun mengakrabi dirimu.

Bertahun-tahun, dokter bagi terapi depresiku adalah dirimu. Padahal, dokter pun melarang untuk akrab denganmu. Tapi aku tak perduli; maka melupakan soal stigma, prasangka, dan noda yang melekat padamu adalah sebuah upaya yang selalu berhasil membunuh segala tekanan hidup yang menyergap. Lebih-lebih, saat kudengar dirimu ikut tertawa saat begitu banyak kenyataan pahit yang patut dijadikan lelucon. Bukankah dirimu adalah penghibur yang punya kemampuan luar biasa dalam menjernihkan isi pikiran? Maka saat pikiranku tenang, aku lupa tentang dirimu yang seringkali sukar berdamai dengan anggota tubuh yang lain.

 Ketika masa kuliah kerja nyata datang, aku tidak lagi menjalani hidup sendiri. Maka di ruang TV asrama sering kuajak engkau berbicara, menjadi teman tertawa dan bersedih menyaksikan daftar tayangan TV. Perantauan membuatku nikmat dalam mencari arti kesunyian, lebih-lebih saat engkau merangkulku. Kau ajarkan diriku  akansunyi yang membuat pikiran melayang tanpa beban.

Tetapi, aku sadar bahwa kau hanya menjanjikan khayalan sesaat. Sayang, tak semudah itu aku melepaskan diri dari jeratmu. Sekujur isi otakku selalu menginginkanmu hadir menemani. Padahal, fakta telah terkuak bahwa engkau adalah si pelaku biadab yang merampas kekuatan tubuh Nenekku, hingga menorehkan lubang kecil di sebelah jantung beliau. Di satu sisi aku tetap akrab denganmu, di sisi lain aku mengutuk dirimu habis-habisan.

Sering ketika kuajak bicara Ibu, janji akan tersingkirnya dirimu terucap. Apa daya, aku selalu jatuh dalam bujuk rayumu. Seakan-akan, seisi otakku telah kau isi dengan tenung dan mantra terbaik. Jangan-jangan, kau telah siapkan perangkap agar tak terpikir olehku untuk menjauh.

Tidak berapa lama, sebuah mantra pamungkas yang mampu memisahkan aku dengan dirimu terucap.

Kalau memang tidak bermanfaat, mengapa tak lekas kau tinggalkan?

Jika terlalu lama engkau mesra dengan hal yang tidak penting, semakin banyak hal penting yang menjadi terlupakan. 

Saat teman-temanku menghubungi dirimu, aku pura-pura lupa untuk bercengkrama denganmu. Kali itu, di sebuah hari di bulan Agustus 2012, aku mencoba tak menjamah atau menyapa dirimu selama seminggu. Tidak kusangka akhirnya aku mampu lepas dari jeratmu. Hingga kini, aku begitu bangga menjadikanmu sekedar masa lalu, bukan untuk menjadi masa depan.

Selamat tinggal, kau yang hidup dengan api, meraba dengan asap. Kau bermain manja dengan akalku, sambil terus menikam sedikit demi sedikit paru-paruku. Aku lelah harus menanggung panas di ujung mulut ini, setelah sekian jam mengakrabi dirimu melalui gerak hisap bibir dan lidahku.  Sekarang, ku harap kau tak lagi mengembara di sembarang udara. Aku tak sanggup melihat air mata mereka yang meminta agar sentuhan tanganmu tak jadi menikam paru-paru anak mereka. 



   Sebuah lirik lagu berucap: Indonesia supermarket bencana. Kau berwajah ramah, tapi ternyata kau penyumbang bencana itu. Semoga api hari ini padam supaya asapmu tak membuat ulah. 

Selasa, 22 Oktober 2019

Kabut di Tengah Simpul

KABUT DI TENGAH SIMPUL


-Puisi ini adalah simbol keprihatinan untuk tragedi Bintaro 1987-


Besi-besi dalam roda saling memantul, 

membawa ratusan jiwa berdesak,

kepada kampung halaman yang menanti, 

dengan sejumput asa tak terperi.


Lurus, lurus, lurus,

Tiada yang salah dalam mata ini

Jalan terikat ini adalah garis lurus

Takkan tertukar ataupun melingkar.


Simpul-simpul terhubung, 

dalam setangkup besi tipis raksasa

Terasa rumah yang dituju, 

hanya segaris jarak pandang kornea.


Sekejap, percik-percik sinar muncul!

Menghadang seperti tembok yang berjalan

Bukan, itu bukanlah sekedar dinding biasa.

Benteng besi itu terus berderap mendekat…


Mulut terbuka, benteng besi hendak melumat,....

“Semoga ini hanya ilusi kabut semata”

pinta-pinta suara dengan doa bernada putus asa.

berharap desing gesekan baja hanya sebuah nisbi.


Luluh, lantak, berserak…

Besi -besi pengangkut pecah bertaburan.

Darah terhampar, jasad terburai

Senin tahun delapan tujuh, tragedi tercatat


(Gatot Subroto, 23 Oktober 2019)

Senin, 21 Oktober 2019

Tempat Ini Nikmat Untuk Tidur, Meski Bukan Rekreasi.

Istriku  tercinta,

Hari ini aku sudah tidur lebih pulas. Nafasku pun lebih lega. Kasur putih tempat berbaring ini rasanya tepat untuk melambangkan kedamaian. Sudah lama rasanya berbaring tak pernah senikmat ini. 

Aku memang tidak sendiri di sini. Berbagai macam orang kutemui, meski jarang kulihat mereka terbangun menyapa. Aku takkan bosan mengulangi, bahwa di sini adalah tempat yang paling nyaman untuk melampiaskan tidur yang tertunda lantaran serbuan beragam kesibukan. Kesibukan yang merampas waktu, perasaan, dan juga energi tak kasat mata yang menyangga tubuh ini. 

 Banyak yang mau membantuku, meski mereka bukan manusia. Tapi, aku tetap menghargai bantuan mereka, kendati mereka adalah benda mati yang sudah diprogram. Pipa-pipa yang mereka susun di sekitar lubangku bernafas, membuatku nyaman dan lupa akan luka yang aku goreskan sendiri pada tubuh ini. Ya, luka yang membuatku berbaring tidak berdaya, melampiaskan rasa kantuk sekaligus rasa sakit yang sering menjangkiti sekujur paru-paruku. 

Tetapi, entah mengapa sunyi tetap terasa, meski berlalu lalang orang di sini. Baik orang yang datang dengan berjalan, maupun yang berjalan terpapah dan yang sudah 'berjalan' ke alam lain. Aku masih ingat, sore hari kemarin kudengar tangisan di ranjang sebelahku. Tak henti-hentinya tetanggaku yang sedang berbaring diratapi oleh putrinya. Sesekali, putrinya meminta bantuan untuk meyakinkan bahwa ayahnya yang terbaring itu masih bisa bangun. 

Duhai istriku, apa kau saat ini sedang tersenyum? Bila demikian, berikanlah tatapmu yang hangat dan pancaran parasmu. Aku tak peduli seperti apa wajahmu kini, karena engkau masih sama seperti puluhan tahun lalu. Saat pertama kali aku datang pada orang tuamu untuk niat memulai hidup bersama. 

Tapi aku tahu, kau sudah beberapa langkah di depan, sayang. Aku terbaring di sini, setiap hari menanti kabar akan seisi badan yang bisa diajak damai. Meskipun sebaik-baik definisi perdamaian hanya diketahui oleh Yang Maha Kuasa. 

Nyatanya, meskipun di sini tenang dan sunyi, dengan hanya sesekali diiringi isak tangis, tetap cemas dan risau menyambangi. Anak-anak terlalu sibuk, sementara cucu kita masih kecil sehingga tidak boleh masuk kamar tidur ini. Kalaupun anak-anak berkunjung, hanya satu atau dua orang yang bisa masuk. Jika boleh meminta, ingin sekali aku berjalan barang sebentar. Dulu aku merasa sangat butuh tidur, di sela-sela kesibukan dan kepentingan yang tidak pernah berakhir. Sekarang aku leluasa untuk tidur, namun aku bosan, sayang. 

Kamar tempatku berada ini memang terdengar sangat menggambarkan kerinduan akan seseorang. Paling tidak bagiku saja, sayang. Jika kueja kembali nama kamar ini, terasa seperti 'aku melihatmu'. I see you.  Aku berharap semoga 'kamu' yang dimaksud kamar ini adalah orang yang tersayang. Termasuk kamu yang sudah berkemas beberapa tahun lalu. 

Maka, sayang. Izinkan aku menutup mata setelah berbagi beberapa tulisan tentang kamar ini kepada dirimu. Kapanpun engkau hendak membacanya, dari sudut manapun, dibaca selama apapun, sungguh hatiku akan senang. Karena aku tidak bisa melihat kehadiran dirimu saat ini. Tetapi, bisa saja aku mengetuk pintu rumahmu besok pagi, cintaku. Tepat ketika sinyal dalam kotak yang terhubung kawat dengan jantungku ini membentuk garis lurus.  Barangkali, saat itu tercipta jalan lurus untuk kita kembali bertemu. 

Aku tidur dulu, cintaku. Jika besok  bertemu denganmu, berlutut dan meminta maaf adalah hal pertama yang kulakukan. Takkan lagi aku membuat bibir ini terus berasap, hingga sulit untuk berdamai dengan paru-paruku. Mungkin besok ada isak tangis yang mengantarku pergi. Entah isak tangis bahagia ataupun kehilangan. 

(catatan: Latar cerita ini adalah ruang ICU)


PASIF, AGRESIF, DAN ASERTIF

Dalam sebuah  sharing session yang dibawakan oleh ahli kriminologi, ada 3 sikap manusia yang senantiasa terjadi dalam berkomunikasi, bersikap, dan berdialog: pasif, agresif, dan asertif.
Ketiga tahapan ini terkait dengan emosi dalam komunikasi verbal dan non verbal yang biasa terjadi
dalam keseharian kita dengan sekitar.

Berkaitan dengan watak agresif,  beberapa ciri mencoloknya adalah:
a.  cenderung temperamental bilamana ditanya atau diajak bicara suatu hal
b.  terang-terangan meluapkan amarahnya.

Adapula kita akan temui orang yang bersikap pasif, yang cenderung diam dan menerima bila diajak berbicara , ataupun terbata-bata dalam menjawab. Salah satu implikasi dari kedua sifat ini adalah defensif secara eksplisit

Di sisi lain,  ada gabungan sifat agrestif dan pasif.  Cirinya mudah ditemukan: orang yang  sekilas ramah dan terbuka saat bertatap muka, namun kemungkinan besar dia akan
menyindir ataupun mencela hal yang tidak disukainya saat kita tidak nampak di depannya. Gabungan kedua sikap ini secara simultan kadang berujung pada reaksi defensif implisit antar lawan bicara.

Berbeda dengan asertif: menyatakan sesuatu dengan tegas, lugas, dan jelas. Asertif merupakan
suatu sikap penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam ranah etika bisnis. Kalau
dilihat sekilas, mungkin asertif tidak jauh beda dengan sikap agresif maupun pasif. Hanya
saja, dalam menjadi asertif, kita sebisa mungkin mempertimbangkan perasaan dan pertimbangan orang lain dan sekitarnya. Sikap asertif bukan berarti tidak pernah marah. Istimewanya, orang yang asertif tetap akan mengungkapkan hal yang membuatnya kecewa dan marah, tanpa merasa emosi berlebihan pada orang yang diajak bicara.

Di zaman sekarang, ada banyak orang sulit untuk berkata “tidak”, meski di lain sisi akan meluapkan kemarahannya dan ketidaksetujuannya di tempat berbeda, Bisa jadi tempat pelampiasannya kadang kurang relevan. Sebagai contoh: lantaran tertekan karena pekerjaannya, lantas menjadi temperamental saat di rumah.

Ketika kita merasa sulit untuk menjawab lantaran tertekan secara ‘pasif’ sering kita terdorong untuk agresif karenamenemukan ‘sasaran empuk’.

Sikap asertif inilah yang harus dipupuk agar menjadi mediasi diri ketika dihadapkan pada banyak tekanan: agar integritas dan sikap tetap terjaga di antara sekian banyak konflik kepentingan yang seringkali tidak terduga.

Langkah pertama bersikap aserfif dimulai dengan menghindari dan mengurangi kebiasaan yang memicu sikap agresif, salah satu contohnya: berdiri atau duduk sama tinggi sama rendah dengan lawan jenis, bicara dengan beradu tingkat kekerasan suara yang sama. Semua dikendalikan melalui upaya menenangkan diri terlebih dahulu ataupun sementara menunda pembicaraan.

Bila dikaji lebih lanjut, sikap asertif ini bermanfaat untuk menjaga keseimbangan dalam komunikasi yang produktif dan objektif. Itulah mengapa, bersikap realistis dan saling menghargai perlu diutarakan, agar para pelaku komunikasi dapat saling memahami secara kolaboratif dan positif. Hanya saja, sikap asertif ini akan lambat kita pupuk antaran sering mengaitkan kegagalan akibat kesalahan pribadi atau perihal sukses adalah karena faktor keberuntungan.

Karenanya, kita perlu kesampingkan terlebih dahulu pemikiran seperti demikian. Bisa jadi, diam-diam kita terdorong untuk malas melihat sisi baik dari segala kejadian.

Unsur yang harus dipenuhi saat bersikap asertif diantaranya:
a. mengetahui hak-hak kita,
b. memahami batas kewenangan kita, serta
c. mempersiapkan diri untuk hal-hal yang tidak terduga.

Cara-cara untuk menekankan unsur ini di dunia kerja bisa dengan memasang poster di dinding tentang batas-batas meja kerja, mengetahui betul undang-undang serta batas kewenangan terkait jabatan yang kita duduki, atau sengaja mengistirahatkan diri untuk berbagi waktu luang dengan keluarga. Jangan lupa, kelelahan yang dipaksakan untuk terus beraktivitas , sering menghambat kita karena bebal yang menumpuk di kepala.

Namun, bersiap menghadapi segala kemungkinan merupakan unsur sikap asertif yang tidak
bisa dipandang sebelah mata. Apa saja yang harus dipersiapkan? Cobalah sejenak bayangkan
tentang berkata soal situasi  sulit. Saat itu, mulailah bertanya pada diri sendiri:

Apa tujuan saya berkata demikian? Apa yang ingin dikatakan? Bagaimana cara mengatakannya?

Setelah contoh monolog tersebut diungkapkan; baik terang-terangan maupun bisik-bisik, bayangkan antara scenario ideal maupun yang terburuk dalam pikiran. Sebisa mungkin, hasil dari perkiraan tersebut dikomunikasikan kepada teman yang bisa dipercaya, dan akan lebih baik bila dengan pasangan.

“The biggest difference between assertive and being aggresive is how your words and behaviors affectthe rights and well being of others.” — Sharon Anthony Bower
[Source: 1. The Telin Times, December]

Sabtu, 19 Oktober 2019

"Abu Hurairah Fans Club"

Tempo hari, saya telah berceloteh tentang 'cinta pada hewan'. Interaksi dengan hewan sejatinya mempunyai fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di muka dunia. Minimal, menyeimbangkan kehidupan yang ada di sekitar rumah. Maka, binatang pun punya hak dan kewajiban atas mereka yang patut dipenuhi. 

Berbagi soal sedekah dengan orang adakalanya adalah momen yang mengharukan dan berkesan. Tak jarang pula larut dalam haru. Disisi lain, sedekah kepada binatang juga merupakan amal yang cukup krusial. Sebagai teladan, saya banyak berguru pada kisah Nabi Sulaiman AS, dan juga khususnya  Abu Hurairah tentang tata krama terhadap kucing. 

Diantara binatang lainnya, kucing memainkan peran yang cukup penting dalam perjalanan hidup saya. Diawali dengan bagaimana kucing betina 'merelakan' dirinya hidup bersama keluarga saya selama tiga tahun. Selama itu pula adakalanya kami berbagi ikan dan makanan dengan si belang abu itu.Lebih-lebih, keluarga besarku pernah "menjenguk" dia di rumah sakit bersalin cap kardus tiapkali anaknya lahir. 
_
Saya beranjak SMP, si belang abu sudah pergi ke rumah lain. Namun saya tidak terlalu lama absen untuk berinteraksi dengan kucing sekitar sekolahan saya. Tiap bawa bekal ikan, ya kubagi dengan mereka. Kukira berbagi ikan adalah kebiasaan bersedekah yang unik dan autentik. Budaya ini saya genggam sampai sekarang. Di awal Januari ini, kubagi makanan sahur ikan dengan kucing belang hitam, mata berbinarnya tanda lapar cukup membuatku iba ๐Ÿ˜ข.

Di masa kerja praktek, sempat saya tidak bisa pulang ke rumah karena hujan sangat deras. Sontak berteduh di emperan masjid setelah isya adalah pilihan pasti. Seekor anak kucing ikut menumpang berbaring di sarung yang sedang saya kenakan.  Rasa gemas ingin membawanya pulang ke mess muncul, hanya saja saya urungkan. Saya belum siapkan shampo dan makanan kucing, dan juga tak siap mental kalau didamprat bapak penjaga mess๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†.

Seusai lulus kuliah sarjana,  saya sempat mabit di masjid. Lantaran udara cukup dingin, beberapa kucing menepi di pinggir-pinggir masjid. Saya kemudian ingat tentang toko-toko baju di Pakistan yang membukakan pintunya bagi para anjing yang kedinginan. Lalu kucoba teladani dengan membagi jaket sebagai selimut untuk si belang coklat. 

Apakah dengan berlaku demikian, saya sudah mirip Abu Hurairah RA? Mungkin secara fisik baru sekian persen, dan secara amal, takkan mungkin menandingi Abu Hurairah RA. Sungguh Rasul SAW telah menjamin ia akan surga๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡. Yang jelas, kecintaan akan hewan serta memenuhi hak mereka pun membuahkan ketenangan hakiki, baik soal moral ataupun ekosistem. 

Sungguh, saya jadi merindukan masa-masa bersama si belang abu. 

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...