Jumat, 25 Oktober 2019
Kutunggu Engkau di Podium
Kamis, 24 Oktober 2019
JANGAN BACA CERITA INI!
Rabu, 23 Oktober 2019
2012 Agustus: Selamat Tinggal Untuk DIrimu.
Kau pernah menjadi teman baik Nenekku. Setiap kali kau bertamu, pintu halaman belakang selalu terbuka untuk menyambut. Lalu mulailah kau menemani beliau berbagi aspirasi dan imajinasi. Percakapan kalian begitu khusyuk, sampai-sampai Nenek tidak menghiraukan imbauan Ibu, Pakde, dan Paman untuk menjauhi dirimu. Barangkali, memang dirimu hadir sebagai teman setia.
Di masa setelah ujian akhir nasional, aku telah mengamankan bangku program pembinaan calon mahasiswa di sebuah universitas ternama. Salah satu aturan yang harus ditaati dalam program ini, adalah setiap calon mahasiswa tidak boleh membolos untuk acara wisuda SMA. Saat itu aku memilih melanggar, lalu tenggelam bercengkrama bersama teman yang telah resmi menjadi alumni berkalung medali kelulusan. Sialnya, ada yang melihat jejakku hingga surat dokter yang sudah tertulis sakit seakan tidak memberi dampak berarti.
Orang tuaku yang mengetahui ulahku membolos memberiku beribu wejangan. Entah seperti apa lagi harus kulaksanakan arahan mereka, agar bisa lulus program pembinaan itu dengan gemilang. Maka, di suatu malam aku menemui dirimu. Kau lepaskan penatku, menjadi ruang untuk imajinasi-imajinasi liarku. Aku mulai tersanjung akan kehadiranmu.
Lambat laun, sejenak bercengkrama denganmu adalah rutinitas yang selalu disempatkan di sela-sela kesibukan. Baik saat istirahat kuliah tiba, saat bermain musik, ataupun saat dirundung sepi. Kamu telah membaur dalam kehidupanku. Sampai-sampai, setiap kali ujian mingguan ku jalani, selain belajar dengan semampunya, sempat-sempatnya kuminta 'restu'-mu. Engkau memang tidak istimewa bagi sebagian orang, terutama kaum wanita. Tetapi, sebagian wanita bahkan Nenekku pun mengakrabi dirimu.
Bertahun-tahun, dokter bagi terapi depresiku adalah dirimu. Padahal, dokter pun melarang untuk akrab denganmu. Tapi aku tak perduli; maka melupakan soal stigma, prasangka, dan noda yang melekat padamu adalah sebuah upaya yang selalu berhasil membunuh segala tekanan hidup yang menyergap. Lebih-lebih, saat kudengar dirimu ikut tertawa saat begitu banyak kenyataan pahit yang patut dijadikan lelucon. Bukankah dirimu adalah penghibur yang punya kemampuan luar biasa dalam menjernihkan isi pikiran? Maka saat pikiranku tenang, aku lupa tentang dirimu yang seringkali sukar berdamai dengan anggota tubuh yang lain.
Ketika masa kuliah kerja nyata datang, aku tidak lagi menjalani hidup sendiri. Maka di ruang TV asrama sering kuajak engkau berbicara, menjadi teman tertawa dan bersedih menyaksikan daftar tayangan TV. Perantauan membuatku nikmat dalam mencari arti kesunyian, lebih-lebih saat engkau merangkulku. Kau ajarkan diriku akansunyi yang membuat pikiran melayang tanpa beban.
Tetapi, aku sadar bahwa kau hanya menjanjikan khayalan sesaat. Sayang, tak semudah itu aku melepaskan diri dari jeratmu. Sekujur isi otakku selalu menginginkanmu hadir menemani. Padahal, fakta telah terkuak bahwa engkau adalah si pelaku biadab yang merampas kekuatan tubuh Nenekku, hingga menorehkan lubang kecil di sebelah jantung beliau. Di satu sisi aku tetap akrab denganmu, di sisi lain aku mengutuk dirimu habis-habisan.
Sering ketika kuajak bicara Ibu, janji akan tersingkirnya dirimu terucap. Apa daya, aku selalu jatuh dalam bujuk rayumu. Seakan-akan, seisi otakku telah kau isi dengan tenung dan mantra terbaik. Jangan-jangan, kau telah siapkan perangkap agar tak terpikir olehku untuk menjauh.
Tidak berapa lama, sebuah mantra pamungkas yang mampu memisahkan aku dengan dirimu terucap.
Kalau memang tidak bermanfaat, mengapa tak lekas kau tinggalkan?
Jika terlalu lama engkau mesra dengan hal yang tidak penting, semakin banyak hal penting yang menjadi terlupakan.
Saat teman-temanku menghubungi dirimu, aku pura-pura lupa untuk bercengkrama denganmu. Kali itu, di sebuah hari di bulan Agustus 2012, aku mencoba tak menjamah atau menyapa dirimu selama seminggu. Tidak kusangka akhirnya aku mampu lepas dari jeratmu. Hingga kini, aku begitu bangga menjadikanmu sekedar masa lalu, bukan untuk menjadi masa depan.
Selamat tinggal, kau yang hidup dengan api, meraba dengan asap. Kau bermain manja dengan akalku, sambil terus menikam sedikit demi sedikit paru-paruku. Aku lelah harus menanggung panas di ujung mulut ini, setelah sekian jam mengakrabi dirimu melalui gerak hisap bibir dan lidahku. Sekarang, ku harap kau tak lagi mengembara di sembarang udara. Aku tak sanggup melihat air mata mereka yang meminta agar sentuhan tanganmu tak jadi menikam paru-paru anak mereka.
Selasa, 22 Oktober 2019
Kabut di Tengah Simpul
KABUT DI TENGAH SIMPUL
-Puisi ini adalah simbol keprihatinan untuk tragedi Bintaro 1987-
Besi-besi dalam roda saling memantul,
membawa ratusan jiwa berdesak,
kepada kampung halaman yang menanti,
dengan sejumput asa tak terperi.
Lurus, lurus, lurus,
Tiada yang salah dalam mata ini
Jalan terikat ini adalah garis lurus
Takkan tertukar ataupun melingkar.
Simpul-simpul terhubung,
dalam setangkup besi tipis raksasa
Terasa rumah yang dituju,
hanya segaris jarak pandang kornea.
Sekejap, percik-percik sinar muncul!
Menghadang seperti tembok yang berjalan
Bukan, itu bukanlah sekedar dinding biasa.
Benteng besi itu terus berderap mendekat…
Mulut terbuka, benteng besi hendak melumat,....
“Semoga ini hanya ilusi kabut semata”
pinta-pinta suara dengan doa bernada putus asa.
berharap desing gesekan baja hanya sebuah nisbi.
Luluh, lantak, berserak…
Besi -besi pengangkut pecah bertaburan.
Darah terhampar, jasad terburai
Senin tahun delapan tujuh, tragedi tercatat
(Gatot Subroto, 23 Oktober 2019)
Senin, 21 Oktober 2019
Tempat Ini Nikmat Untuk Tidur, Meski Bukan Rekreasi.
PASIF, AGRESIF, DAN ASERTIF
Ketiga tahapan ini terkait dengan emosi dalam komunikasi verbal dan non verbal yang biasa terjadi
dalam keseharian kita dengan sekitar.
Berkaitan dengan watak agresif, beberapa ciri mencoloknya adalah:
a. cenderung temperamental bilamana ditanya atau diajak bicara suatu hal
b. terang-terangan meluapkan amarahnya.
Adapula kita akan temui orang yang bersikap pasif, yang cenderung diam dan menerima bila diajak berbicara , ataupun terbata-bata dalam menjawab. Salah satu implikasi dari kedua sifat ini adalah defensif secara eksplisit
Di sisi lain, ada gabungan sifat agrestif dan pasif. Cirinya mudah ditemukan: orang yang sekilas ramah dan terbuka saat bertatap muka, namun kemungkinan besar dia akan
menyindir ataupun mencela hal yang tidak disukainya saat kita tidak nampak di depannya. Gabungan kedua sikap ini secara simultan kadang berujung pada reaksi defensif implisit antar lawan bicara.
Berbeda dengan asertif: menyatakan sesuatu dengan tegas, lugas, dan jelas. Asertif merupakan
suatu sikap penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam ranah etika bisnis. Kalau
dilihat sekilas, mungkin asertif tidak jauh beda dengan sikap agresif maupun pasif. Hanya
saja, dalam menjadi asertif, kita sebisa mungkin mempertimbangkan perasaan dan pertimbangan orang lain dan sekitarnya. Sikap asertif bukan berarti tidak pernah marah. Istimewanya, orang yang asertif tetap akan mengungkapkan hal yang membuatnya kecewa dan marah, tanpa merasa emosi berlebihan pada orang yang diajak bicara.
Di zaman sekarang, ada banyak orang sulit untuk berkata “tidak”, meski di lain sisi akan meluapkan kemarahannya dan ketidaksetujuannya di tempat berbeda, Bisa jadi tempat pelampiasannya kadang kurang relevan. Sebagai contoh: lantaran tertekan karena pekerjaannya, lantas menjadi temperamental saat di rumah.
Ketika kita merasa sulit untuk menjawab lantaran tertekan secara ‘pasif’ sering kita terdorong untuk agresif karenamenemukan ‘sasaran empuk’.
Sikap asertif inilah yang harus dipupuk agar menjadi mediasi diri ketika dihadapkan pada banyak tekanan: agar integritas dan sikap tetap terjaga di antara sekian banyak konflik kepentingan yang seringkali tidak terduga.
Langkah pertama bersikap aserfif dimulai dengan menghindari dan mengurangi kebiasaan yang memicu sikap agresif, salah satu contohnya: berdiri atau duduk sama tinggi sama rendah dengan lawan jenis, bicara dengan beradu tingkat kekerasan suara yang sama. Semua dikendalikan melalui upaya menenangkan diri terlebih dahulu ataupun sementara menunda pembicaraan.
Bila dikaji lebih lanjut, sikap asertif ini bermanfaat untuk menjaga keseimbangan dalam komunikasi yang produktif dan objektif. Itulah mengapa, bersikap realistis dan saling menghargai perlu diutarakan, agar para pelaku komunikasi dapat saling memahami secara kolaboratif dan positif. Hanya saja, sikap asertif ini akan lambat kita pupuk antaran sering mengaitkan kegagalan akibat kesalahan pribadi atau perihal sukses adalah karena faktor keberuntungan.
Karenanya, kita perlu kesampingkan terlebih dahulu pemikiran seperti demikian. Bisa jadi, diam-diam kita terdorong untuk malas melihat sisi baik dari segala kejadian.
Unsur yang harus dipenuhi saat bersikap asertif diantaranya:
a. mengetahui hak-hak kita,
b. memahami batas kewenangan kita, serta
c. mempersiapkan diri untuk hal-hal yang tidak terduga.
Cara-cara untuk menekankan unsur ini di dunia kerja bisa dengan memasang poster di dinding tentang batas-batas meja kerja, mengetahui betul undang-undang serta batas kewenangan terkait jabatan yang kita duduki, atau sengaja mengistirahatkan diri untuk berbagi waktu luang dengan keluarga. Jangan lupa, kelelahan yang dipaksakan untuk terus beraktivitas , sering menghambat kita karena bebal yang menumpuk di kepala.
Namun, bersiap menghadapi segala kemungkinan merupakan unsur sikap asertif yang tidak
bisa dipandang sebelah mata. Apa saja yang harus dipersiapkan? Cobalah sejenak bayangkan
tentang berkata soal situasi sulit. Saat itu, mulailah bertanya pada diri sendiri:
Apa tujuan saya berkata demikian? Apa yang ingin dikatakan? Bagaimana cara mengatakannya?
Setelah contoh monolog tersebut diungkapkan; baik terang-terangan maupun bisik-bisik, bayangkan antara scenario ideal maupun yang terburuk dalam pikiran. Sebisa mungkin, hasil dari perkiraan tersebut dikomunikasikan kepada teman yang bisa dipercaya, dan akan lebih baik bila dengan pasangan.
“The biggest difference between assertive and being aggresive is how your words and behaviors affectthe rights and well being of others.” — Sharon Anthony Bower
[Source: 1. The Telin Times, December]
Sabtu, 19 Oktober 2019
"Abu Hurairah Fans Club"
BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH
Assalamu alaikum, saudara-saudari. 19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...
-
Berhubung cerita prambanan telah dimuat dalam antologi ODOP, Alhamdulillah, maka akan diganti oleh cerita rakyat saduran asing: ...
-
Tak kurang dari dua puluh empat jam, jumlah durasi hari yang kita jalani. Sebagian besar kita habiskan di rumah, lalu sekitar dua puluh hing...
-
Beberapa hari ini, salah seorang teman f acebook mengungkapkan bahwa akunnya hendak ditutup. Seandainya saya masih mengemban mental ala anak...
