Minggu, 15 September 2019

Hard times to easy times

Waktu yang sulit penuh bencana mendorong lahirnya pahlawan tangguh.
Pahlawan tangguh berikhtiar untuk menciptakan masa yang damai dan penuh keadilan.
Sayang, masa damai penuh keadilan kadang membuat orang lengah, dan kehilangan jati diri.
Ketika orang orang lengah ini makin banyak, jadilah masa masa sulit itu datang kembali.
Sampai kapan rotasi ini akan melaju? Who knows.

Sabtu, 14 September 2019

LEBAY


Kendaraan ini kelebihan muatan,
lantaran sang sopir tak hendak mengurangi

Melajulah ia di jalan berkelok penuh liku, namun tetaplah lamban
meski kaki tertancap erat di pedal gas dengan penuh kecepatan
Perlahan berhamburanlah asap knalpot, bagai tuntasnya kebelet di jamban.

Tapi tak segera ia gelisah dan risau.

Lampu-lampu dan pernak pernik terlekat di badan truk, Tak ubahnya tengkulak yang sedang menggenjot sepeda.
Hendak berkeliling kampung kesana kemari dengan membopong perkakas rumah tangga.

Baru jika ada pesta, kamu berdandan.
Eh bedaknya pula ketebelan.
Ditambah pula bibir tebal digincu berlebihan.
Pupur tebal lenyapkan kulit hitam jadi putih tanpa kejelasan. 

Tapi Tuhan berbaik hati, memberi rasa
Katanya sih namanya pede (atau muka tebal, apalah bedanya)
Sehingga para ahli bahasa dan wacana, menamakannya...
gaya bahasa yang kita sebut hiperbola..

Tahoen 1980, Kompetisi Satoe Hari Satoe Soerat.

Pada boelan Agoestoes 1980, seboeah komunitas raksasa resmi bertajoek Sehari Satoe Kiriman mengadakan sajembara doea boelanan : Satoe Hari Satoe Soerat. Sajembara berdoerasi lama ini diniatkan untuk meneloesoeri bakat-bakat para penoelis soerat. Yang mengetoeai sajembara akbar ini adalah seorang nyonya bernama Sakinah Isnaeni.

Setelah iklan tersebar ke seantero noesantara, terkoempoelah 200an peserta. Dengan djoemlah demikian, salah seorang petinggi sajembara bernama  Raden Mas Luthfi Juliando mengoemoemkan bahwa setiap minggoe, setiap peserta yang tidak berkirim soerat selama doea hari bertoeroet-toeroet tidak akan lolos ke minggoe berikoetnja. Kendati 'Satoe Hari Satoe Surat' adalah seboeah kompetisi, para panitia tetap membekali para peserta dengan limpahan materi yang dikirim minggoean lewat telegram.

Materi jang disampaikan pada para  peserta antara lain: tjara-tjara menghias soerat, teknik mentjegat toekang pos dengan baik dan sopan, hingga ragam fiksi. Pada awal minggoe pertama, para peserta dibekali tjara-tjara menghias soerat dengan tjantik dan elok. Beberapa peserta ada yang langsoeng paham, ada yang bingoeng bagaimana menghias soerat sementara membeli kertas lipat warna dan perangko poen tak pernah.

Tak terasa, kompetisi satoe hari satoe soerat soedah memasuki akhir minggoe pertama. Para peserta ditantang untuk menyoesoen soerat dengan tema plastik, macet, dan basah. Beberapa peserta begitu gesit menjoesoen soerat dengan gagasan brilian, lain halnya dengan Kang Mas Buri Anggono jang menjusun tjatatan-tjatatan jaman koeliah untuk disoerati. "Meskipoen soedah lapoek, tak ada salahnja bernostalgia lewat koempoelan kisah-kisah berkampoes." oejar pria kepala 3 ini dengan jakin.

Hari minggoe tiba, hoejan toeroen deras mengguyur Batavia Selatan, kota tempat Mas Buri berdiam. Karena takoet tidak loeloes kompetisi Satoe Soerat Satoe Hari, Mas Buri segera mengambil pembungkus plastik untuk mengemas soerat boeatannya. "Supaja nanti tidak basah di jalan". Setelah memasoekkan soerat itoe ke tas pinggangnya, Mas Buri bergegas memacoe Volkswaagen-nja menoedjoe kantor pos.

Satoe-satoenya kantor pos jang boeka hari Minggoe hanja kantor pos jalan Merdeka Barat. Saat itoe tak adaa jalan selain jalan protokoler, maka sampailah Mas Buri ke kantor pos Jalan Merdeka dalam 25 menit dari roemahnja. Setelah mengantri 100 giliran, Mas Buri membajar jasa pos kilaat khoesoes di kasir.

Sial, saat Mas Buri hendak keloear kantor pos, ada mobil ford terparkir menghalangi Volkswaagen-nya. Mas Buri lalu mentjak-mentjak. "Hadooooh, dasar iki wong edannn. Bikin mobilkoe maceeett." Lantaran tak ada joeroe parkir, Mas Buri menjempatkan diri membeli kopi Loewak.

"Alhamdulillah, iki kopi enak tenan. Kalau orang lagi BAB mah jadinja boekan kopi. Lah kalau loewak BAB, jadinee kopi suegerrr." Demikian kenikmatan kopi Loewak mengakhiri kesal Mas Buri menatap hari kian senja.

-SEKIAN-

Jumat, 13 September 2019

Misi Utama: Instalasi Air Batam

Batam, 7 Januari 2012
-06.00 WIB-
Sudah harus beres mandi, karena sarapan hanya 15 menit. Sisanya buat briefing tugas hari ini.

-07.15 WIB-
Buffet sudah habis, piring-piring ga ada sisa. Hanya tumpukan aqua buat melepas dahaga. 15 menit waktu tersisa, saya pergi ke toilet dulu. 07.30 pintu bus sudah akan ditutup.

-07.45 WIB-
Kordinator lapangan kami (saat ini sudah jadi mendiang), mengingatkan agar tidak ada yang berkeliaran seusai 15.30 WIB.
"Jangan sampai angkatan kita yang punya jargon 'kalahkan plastik' jadi kocar-kacir karena ga disiplin." Demikian wejangannya saat berdiri di depan bus.

-08.30 WIB-
Diberi pengarahan oleh bapak-bapak pejabat PDAM Batam. Lalu saya mulai merancang plan saat nanti pisah kelompok ke pulau kecil luar Batam. Lupa apa nama pulaunya, yang jelas saya pergi bersama 9 orang lain.

-10.00 WIB-
Survey rumah cluster pertama dimulai, tanahnya becek dan basah.
"Aaaahhh sepatuku kotor lagii .." kata temanku yang badannya tinggi berhijab hitam.
"Disini kok becek banget sihh??"
Dan sekian keluhan lain, utamanya dari teman-temanku mahasiswi. Sesekali kudengar rutukan-rutukan yang mirip keluhannya Cinta Laura Kiehl.
Katanya sih Batam sedang "dalam pembangunan"

-11.30 WIB-
Menjelang zhuhur, hujan turun. Ga ada jaket, ga ada ponco. Survey air di cluster rumah kedua dimulai.
Tibalah di sebuah rumah tipe cluster yang dihuni warga keturunan.
"Jadi, kadang-kadang kami harus menampung air dulu untuk keperluan 5 hari. PDAM suka macet dadakan." keluh seorang ibu responden kami
Setelahnya kami memungut aspirasi dari rumah yang punya kandang ayam.
"Mending saya beli sumur tanah. Ini tagihan jalan terus, macetnya bisa seminggu. Ditelpon jawabnya cuma nanti dilaksanakan terus..." keluh seorang bapak setengah baya, responden kedua kami.
Di tengah perjalanan,
"Bri, hati-hati! Lihat yang kamu injak!"
Di bawah sepatu saya telah terbujur kaku seekor binatang pengerat berekor gundul.

-14.00 WIB-
"Wah laporannya ketinggalan." temanku bernama R panik
"Udahlah, Ran. Nanti ngomong aja sama bapaknya."
Segera bang R menelpon seseorang dari PDAM. Lalu berbicara soal masalah ketinggalan laporan.
"Nanti dianterin pas jam 3, ke hotel kita"
Beberapa temanku yang perempuan, terlihat bersungut-sungut wajahnya. 
"Gimana sih kok jadi kotor semua gini? Mana celana basah lagi. "
"Sepatuku juga lama ni nyucinya"
Aku mulai kesal dengan sikap semacam ini, sambil mikir : "masa calon insinyur lingkungan pengennya cuma kerja di tempat ber-AC bin higienis doang".
Lalu aku nyletuk: "Mau survey kok tempatnya milih-milih? Pada pengennya tempat survey yang kinclong ga ada masalah yaa??"
Beberapa orang langsung menatap tajam saya, seolah mereka baru terserang sariawan akut. Saat itu lalu lintas macet, bus kami hanya bisa maju 10 menit tiap 10 meter.

-16.30 WIB-
Habis naik boat, kami foto-foto di pulau kecil. Sempat ke masjid agungnya, lalu naik moda berkapasitas 4 orang buat keliling pulau. Di sini banyak orang berprofesi jadi pengrajin. Lalu kami bikin video sebelum pulang. Jadi lupa tadi kami saling mengeluh dan nyeletuk.

-18.30 WIB-
"Bri. Ayo kumpul angkatan. Kita evaluasi dulu."
Ternyata ada kasus 4 orang teman yang sempat tersasar di Batam. Alasannya sepele : ga bisa nahan liat barang bagus. Ga bisa nahan foto-foto di spot strategis. Mau ke hotel lagi ngarahin taksinya pada bingung.
Akhirnya beberapa teman panitia turut meminta maaf, karena tidak memberi batasan lokasi aman untuk teman-teman peserta.

-20.00 WIB-
Barang kami diamankan di kamar salah satu teman mahasiswi. Siap-siap besok KKN ke Singapura.

Kamis, 12 September 2019

Lulus Kuliah Belum Tentu Bahagia dan Makmur, Tapi Jangan Berhenti Belajar.

Sejujurnya, ada perasaan sedih saat saya memasuki perusahaan yang basic pekerjaannya tidak banyak relevan dengan bidang yang saya geluti saat kuliah dulu, program Teknik Lingkungan. Tiap hari ngurusin laporan, perencanaan bangunan, pengendalian mutu makanan,pengelolaan sampah, hingga merancang laporan analisa dampak lingkungan. Lalu perlahan kecintaan akan jurusan saya pun tumbuh ketika semester 4 berlangsung.

Saya giat belajar meski IP kadang kembali turun dan perlu mengulang beberapa matkul. Akhirnya lulus dengan nilai  cukup baik, tepatnya masih sangat masuk dengan syarat administrasi yang diajukan
oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan.

Apa daya hingga tahun 2013 akhir, semua perusahaan yang dilamar menghentikan saya sebelum lanjut ke tahap penerimaan. Jadilah saya istikharah, lalu 4 bulan kemudian bermigrasi sementara ke benua
kangguru. Kelar terpontal-pontal. berpetualang di negeri orang sampai ijazah di tangan; akhirnya saya
pun melamar pekerjaan berbau teknik dan keinsinyuran, salah satunya kantor  saha sekarang.

Satu perusahaan lain terpaksa saya tinggalkan lantaran ketika tahap pengetesan, saya tidak mampu hadir karena masalah penting dengan beberapa orang terkasih yang tak bisa dibatalkan mendadak. Lantas begitu masuk perusahaan ini, tiada lagi pipa yang harus kurancang, tiada lagi BOD yang perlu
kuteliti, apa lagi laporan analisa AMDAL yang membuat saya makin antusias bergelut dengan teknik lingkungan. Jadilah yang kudengar setiap ngantor di sini BILLCOM, bill date, put on service, Nilai Jual Kelayakan Investasi, titik distribusi optik. Banyak yang tidak cocok; namun itu semua hanya awalnya.

Ternyata setelah saya jalani, meski perusahaan ini cukup tidak relevan dengan apa yang telah saya pelajari dan geluti, ternyata banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Salah satunya saar penempatan jurusan tidak sesuai bidang di 3 bulan awal tahap pelatihan kerja.

Lantaran banyak istilah baru yang
hampir tidak pernah saya temui ketika kuliah, mau tidak mau saya pelajari. Maka, kecepatan saya dalam mencerna hal baru dan bertahan menekuninya diuji. Wow, belum juga usai 1 bidang dipelajari,
lanjut ke bidang lain hingga berhadapan langsung dengan para pelanggan yang punya masalah akut dengan kantor; terbayang kan kalau grogi bisa berakibat fatal??

Rasanya, pengalaman masa lalu yang sempat jadi buruh angkut, cuci piring,
sampai ‘bermain’ di lusinan proyek dosen, rasanya udah tidak  banyak manfaat saat menemui tantangan. yang saya hadapi sekarang. Karenanya, begitu berhasil menenangkan diri saat pelanggan menguji pengetahuan dan kemampuan saya soal produk, saya merasakan sedikit kemenangan.

Bagaimana kalau saya masih membawa ego jurusan saya kuliah dulu dan enggan terbuka dengan ilmu baru? Bisa jadi pelanggannya jadi ragu sampai churn (beralih produk).

Pada titik itu, saya pun merasakan penasaran yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. "Akan jadi seperti apa ya diri saya di perusahaan yang bergelut dengan produk yang jumlahnya lebih dari 20 dan pelanggannya mencakup 7 segmen ini?? Di sinilah saya merasakan "the flavor of adventure".

Memang tidak memenuhi passion jurusan saya, tapi lebih dari cukup untuk memenuhi nafsu berpetualang dan
menemukan hal hal baru.

Hikmahnya: bukan suatu kesalahan bila kita ga dapat pekerjaan sejurusan, tapi kesalahan terbesar datang ketika kita terlalu fanatik dengan suatu jurusan sampai meremehkan ilmu dan bidang keahlian lain.

Rabu, 11 September 2019

"Filsafat Bunga Di Lereng Gunung"

Dalam suatu kesempatan, 1 angkatan kelas XII SMA matahari mengikuti seminar pengembangan diri untuk menyambut UN dan Ujian Saringan Masuk kuliah. Di dalam sesinya, sang pembicara, Antono DIko Martil meminta para siswa menggambar di sebuah kertas: tentang hewan, makhluk hidup, yang mewakili kepribadian dan cita-cita mereka, dalam waktu 10 menit.

12 menit berlalu, siswa2 diminta untuk unjuk gambar keatas. Didapatlah gambar hewan, tulisan XTC, coret2an vandalisme, poster ala imbauan imunisasi, ...hingga didapatkan gambar yang unik: "bunga di tepi jurang". Yang gambar bunga di tepi jurang itu adalah seorang siswi berjilbab. Lantas bang Antonio memintanya maju ke depan bersama 4 orang lainnya untuk prrsentasi gambar.

Seusai siswa yang gambar poster imunisasi presentasi,  mbak ini diizinkan mengungkap makna "bunga lereng gunung".

Mbak siswi tersebut mengurai alasannya memilih bunga di lereng gunung :

"Aku tak hendak jadi seseorang yang mudah dijamah sembarang orang; dan mudah terbawa arus, selayaknya bunga di taman yang mudah dipetik dan diinjak makhluk dan manusia di sekitarnya.

Tapi...aku ingin jadi bunga di tepi gunung, yang tegar berdiri meski dikelilingi karang dan rumput liar, namun ia tetap hidup karena tidak terjamah binatang maupun manusia. Seperti itu kuingin segala ilmu dan imanku mampu buatku jadi orang berprinsip dan beraktualisasi diri, meski aku harus terasing.

Namun dalam pengasinganku, aku berharap akan bertemu belahan jiwaku yang istimewa: ia rela menempuh rintangan dan jalan terjal, hanya demi memetikku. Karena ia telah tertempa jalan yang terjal dan berproses, kuyakin ialah sosok terbaik untukku"...

Penonton tertegun, dan sebagian siswi langsung kagum histeris. Mungkinkah dirimu orangnya?

Selasa, 10 September 2019

"Sembuh Secara Batin"

Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang menemukan kembali gairah hidupnya, setelah ia dicekam keputusasaan karena penyakit HIVnya yang tidak kunjung membaik karena dukungan dari pujaan hatinya, ini diangkat dari sebuah curahan hati yang ada di radio KLCBS

"Hai, Namaku Dewi, sebut saja nama panggilanku
Aku berusia 19 tahun dan aku adalah korban keganasan virus HIV AIDS
Tadinya aku merasa aku sangat putus asa, karena hidupku takkan berguna karena penyakitku ini
Hingga aku bertemu dengan sosok seorang pria yang bernama Soni.

Awal pertemuan kami bermula saat aku mengambil obat di apotek. Ketika dipanggil namaku oleh apoteker, aku kontan mengambil obat yang ada di meja administrasi tanpa melihat apa isi obat itu.
Tidak lama kemudian setelah aku beranjak dari apotik, sebuah nomor tidak dikenal menelponku, lalu kujawab dan ternyata itu adalah orang yang obatnya tertukar dengan obatku.

Aku pun bergegas menuju tempat yang dijanjikan oleh orang itu, kemudian aku langsung mengambil obat itu buru-buru tanpa basa-basi ataupun ucapan terimakasih, karena aku malu jika orang itu tahu aku mengidap HIV AIDS.

Lalu setelah beberapa lama,kami pun bertemu kembali di tempatku bekerja. Ia menyapaku dan memanggil namaku,""Dewi!! apa kabar?"
Namun hanya kubalas dengan senyum, hanya kubalas tanpa basa-basi atau satu patah kata pun.
Tapi ia tetap menyapaku dengan ramah, lalu diapun sering mengajakku jalan-jalan.
Ia lalu bertanya padaku,..."OBatnya waktu itu banyak sekali, buat  bapak dan ibumu ya?"
Aku hanya mengiyakan, karena aku tidak ingin ia tahu aku pengidap HIV AIDS.

Hingga suatu hari,...dia nyatakan perasaannya. Namun, sebelum kunyatakan juga bahwa aku suka padanya, aku memutuskan untuk mengatakan kenyataan yang akan membuatnya berbalik 180 derajat, dan mungkin saja ia berubah sikap terhadapku.

Tetapi, ia mengejutkanku. Ternyata sikapnya sama sekali tidak berubah, bahkan ia berjanji akan terus mendampingiku sampai nanti. Dan hingga kini ia masih terus memberiku semangat untuk hidup, meskipun HIV ini tidak mungkin lagi untuk sembuh"

Barangkali cerita ini klise, bisa ditemukan di keseharian bahkan mungkin sinetron kesayangan yang tayang setiap hari. Tapi bila ini terjadi, pada diri anda, saudara, teman, istri, suami, atau bahkan anakmu,

-Siapkah kita untuk mendorongnya optimis meski kita dicekam risau?-

-Siapkah kita menjadi sumber ketenangan saat ia kehilangan arah?-

Tak ada yang pernah tahu dari titik mana musibah akan menghimpit.

Namun bila asa untuk pemulihan raga sudah menemui titik buntu, ingat selalu bahwa jiwa dan emosi yang rapuh sangat mungkin untuk dipahat kembali.

#Odopday3
#transcriptradio
#touchingstory
#OneDayOnePost7

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...