Rabu, 16 September 2020

Dipta Sang Jari Mahir Tanpa Gitar

 #NAD Belajar

#NAD_BeasiswaRBJ

Selayang Pandang tentang Dypta Rizky Rahadian:

Ahli Akrobat Senar Berbekal Pinjaman Teman

Pertama kali saya berjumpa dengan pria yang lahir di bulan September 30 tahun silam ini adalah ketika sedang memasuki tahap kaderisasi awal komunitas apresiasi musik kampus. Dia adalah teman dari teman bimbel saya saat SMA, yang bernama Reza. Sore di kala Jumat saat berpapasan pertama kali dengannya 12 tahun lalu, sama sekali tak terlihat bahwa dia adalah gitaris dengan kemampuan mencengangkan. Karena kebutuhan ospek komunitas saat itu cukup banyak , saya pun dititipkan Reza dan Dypta untuk membeli barang dan alat kebutuhan kaderisasi di hari Sabtu lantaran membawa mobil pribadi. Sayangnya, kesan saya sebagai orang yang tepat waktu di mata mereka cukup hancur di hari pertama ospek komunitas musik, lantaran telat membawa barang-barang keperluan tersebab oleh macet di sepanjang Jalan Haji Juanda Bandung. Untungnya, Dypta cukup pemaaf, meski Reza sedikit kesal karena mereka mendapat konsekuensi dari para panita atas keterlambatan properti tersebut.

Setelah ospek komunitas musik berjalan 5 minggu, saya mulai terpikir mengajak Dypta bergabung dalam band demi 'tugas akhir' dari masa penjajakan: menyelenggarakan panggung dimana semua peserta kaderisasi harus unjuk gigi dan unjuk tenaga (baca: bantu-bantu bikin acara, tenda, dekorasi dan sound system). Band yang kami susun untuk acara tugas akhir ospek komunitas musik itu terdiri atas lima orang: saya selaku penggebuk drum, Rizky sebagai juru vokal, Luqman memegang peran sebagai pembetot senar tebal, serta Kurnia dan Dypta sebagai duo gitaris. Kemudian kami menamai band ini dengan nama Mathemusic. Tak hanya sekedar manggung, setiap unit penampil ditugaskan membuat lagu sendiri untuk dibawakan. Kebetulan, saat itu Luqman sudah mempersiapkan cetak biru lagu hasil gubahan senar tebalnya. Ketika Dypta dan Kurnia diminta mengisi bagian gitar, Dypta pun melancarkan jurus-jurus sulap di atas senar yang memukau kami semua saat itu. Jari-jari pria dengan tinggi sekitar 162 cm itu begitu gesit berdansa sepanjang fret gitar mengikuti irama dan nada gubahan cetak mentah lagu yang kemudian kami beri judul "Must Goes On".


Selain mulai terlihat jelas kemampuan jarinya berlari kencang di sekujur leher gitar, Dypta dengan sukarela masuk menjadi anggota unit logistik persiapan acara konser tersebut, yang dipimpin oleh saya. . Tak tanggung-tanggung, 2 minggu sebelum acara, ia telah mempersiapkan seperangkat efek gitar yang cukup lengkap untuk menunjang persiapan logistik acara. Usut punya usut, Dypta ternyata tidak punya gitar di rumahnya, meski jarinya selihai Steve Vai, musisi kaliber dunia, dikala kami mengikuti sesi simulasi konser di sebuah studio. Langsung saja ia didapuk oleh unit acara konser sebagai gitaris kedua dalam sesi kolaborasi bersama puluhan musisi lainnya dalam sesi penutup.

Tak sampai setahun, saya memutuskan keluar dari band tersebab oleh perubahan selera pribadi. Kendati demikian, nafsu bermain musik saya tetap masih kental, sehingga kembali mengajak Dypta untuk bermain membawakan lagu-lagu system of a down bersama dua personil baru. Hanya saja, diam-diam Dypta sudah dipinang band senior kampus untuk membawakan burgerkill untuk suatu acara konser akhir pekan. Maka, saya dan dua orang personil lain meminta ketegasan Dypta untuk memilih. Nyatanya dia memilih untuk latihan bersama keduanya. Karena dia pun komitmen membuktikan dirinya datang latihan, kami pun sepakat meredam konflik sepele tersebut. Satu hal yang masih sulit terjangkau nalar saya: Dypta yang saat itu hanya memiliki gitar kopong dengan jumlah 12 fret di rumahnya ternyata sanggup mengulik lagu 'Darah Hitam Kebencian' yang akan dibawakan band senior dalam kurun waktu seminggu tanpa cela! Begitu halnya pula saat staminanya tak kunjung tergerus di kala kami merapal ulang tembang 'Toxicity' dalam kurun waktu dua hari. Hebatnya pula, dia pun masih menyempatkan mencetak nilai cukup bagus di ujian fisika yang jatuh bertepatan di hari penampilan kami itu.

Dypta menilai ada satu perbedaan mencolok antara pengalaman-pengalaman manggung sebelumnya dan pada kesempatan akhir pekan kali itu, bahwa kemampuan menggebuk drum saya lebih bertenaga dan stabil. Kendati ia cukup tegas membagi peran dan teknik di kala sesi latihan, Dypta yang merupakan alumni teknik fisika ini kerap menularkan semangat optimis pada rekan-rekan bermain musiknya. Di lain hari Dypta mempercayakan saya untuk masuk dalam grup demi memenuhi ambisinya membawakan nomor-nomor progresif dari Dream Theater (DT).

"Coba kamu lihat DVD konsernya DT 'Chaos In Motion' deh, Bri. Aing takjub pisan mereka bawain lagu 'Forsaken', soundnya gak main-main!" cetus Dypta suatu waktu mengulas ambisinya tentang DT. Tentu saja, tembang 'Forsaken' yang membuat dia terpukau setengah mati itu pun masuk dalam daftar andalan kami untuk meramaikan acara pentas penerimaan mahasiswa baru. Tanpa disangka, beberapa bulan selepas sukses manggung di pentas itu, Dypta bersama dengan Lukman kembali mengajak saya gabung kembali dengan Mathemusic. Tapi saya tak langsung memenuhi ajakan mereka untuk jadi drummer permanen. Pertama kali saya keluar dari band tersebut terdorong masalah kepercayaan pemakaian duit, dan kepribadian Dypta sendiri di luar hobi bermusik ternyata cukup mengkhawatirkan.

Apa pasal?

Terus terang, saya sempat punya konflik dengan Dypta pada tahun 2010. Pasalnya, ketika saya pernah hampir putus dengan mantan pertama, pesan-pesan singkat dari Dypta mampir di ponsel mantanku itu. Isinya cukup mencerminkan tingkah laku orang yang sedang menjalankan 'manuver' spesial. Satu hal yang membuat cukup was-was, Dypta juga baru putus belum ada sebulan dengan mantannya saat itu.

"Ya Tuhan, Dypta. Di luar sana, ternyata kamu bukan hanya pemain gitar ulung. Kamu juga pemain hati yang ulung."

Maka, setelah sesi manggung bersama Mathemusic berjalan dengan cukup sukses untuk mengisi acara seminar di tahun 2011, saya berkilah bahwa visi bermusik selama ini tak satu jalur dengan mereka. Hal ini yang saya pakai sebagai alasan kuat untuk tidak kembali bergabung bersama band yang dibentuk bersama di tahun 2008 itu, sambil memendam fakta kelam itu. Karena sifat Dypta selalu terlihat baik di depan mata saya, rasanya tak enak untuk terus terang tentang kekesalan hati sebagai alasan utama tak kembali bergabung. Mungkin, karena saat itu saya berprinsip berusaha menjaga image baik dari teman-teman yang diakrabi. Entah kalau sekarang kami kembali memiliki konflik seperti itu.

Tahun 2012, Dypta lulus lebih cepat dari saya. Dia memang jenius pula dalam studi, sehingga memperoleh gelar cum laude. Di suatu kesempatan manggung sebelum dia wisuda pada bulan Oktober 2012, saya sempatkan mengobrol panjang lebar dengannya tentang perjalanan studi dan hobi selama di kampus. Dypta pun mengakui banyak hal, termasuk soal kebangkitan Bapaknya setelah diputuskan hak kerja, serta mantan yang memutuskannya di tahun 2010 tersebab oleh masalah (maaf) keperawanan. Lalu saya pun turut berterus terang tentang 'kekesalan' yang dipendam saat 2010 itu. Ia pun meminta maaf juga. Lalu kami pun berpisah jalan setelah wisuda Oktober 2012 tiba.

Waktu pecah, Dypta menikah dua tahun setelah giliran saya naik pelaminan. Hal yang tak berubah darinya hingga menjadi seorang bapak dari seorang anak gadis, dia masih khusyuk merapal nada-nada dalam gitar. Bedanya, dia sekarang sudah memiliki sendiri gitar Les Paul di rumahnya. Melihat kemilau gitar yang ditampilkan dalam laman instagram miliknya, saya kembali teringat akan ajakan dia untuk pentas di awal tahun 2012 dengan membawakan lagu Dragonforce yang belum kejadian sampai sekarang.

Hingga saat liputan singkat tentang Dypta ini dirampungkan, saya masih menyempatkan melatih telinga supaya beradaptasi dengan tembang-tembang gahar milik band power metal Dragonforce yang berasal dari Finlandia itu. Mudah-mudahan, teknologi jarak jauh serta aplikasi video bisa merealisasikan mimpi ini, terutama di saat pandemi yang mengharuskan kita menyusun jarak demi keselamatan.

(Jakarta, 16 September 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar