Senin, 10 Agustus 2020

Betulkah Populasi Membawa Bencana?

Pada tahun 2016, tatkala  presiden Erdogan mencegah KB berlaku di negaranya, sebagian besar orang melongo seperti melihat duren 5 ton jatuh dari Menara Eiffel jebol hingga ke dasar tanah. 

Mereka bertanya : "How Comeee? " "Bukannya banyak anak banyak masalah??? "

Eits tunggu dulu, coba pikir lagi sejenak, mari aku mulai dengan pertanyaan: 


"Benarkah populasi adalah sebuah bencana?? "


"Ya".begitulah kata sebagiann orang, terutama mereka orang yang ingin karirnya melejit, tanpa harus gangguan 'anak-anak' . Mereka pun berujar: "kalau kita masih muda mah puaskan karir dan sekolah , nanti baru ngurus anak". Pendapat ini tidak sepenuhnya salah ataupun benar. Tidak sepenuhnya salah karena memang masa muda adalah saatnya menuntaskan banyak agenda dan rencana, tanpa interupsi prioritas.  Tapi tidak sepenuhnya benar karena teman-teman semasa karir, kuliah, sekolah, selain keluargamu pada akhirnya hanya berduka sesaat- pada kebanyakan kasus-, sedangkan keluargamu kemungkinan besar berduka selamanya bila kita tiada  Begitulah pesan wakil direktur di perusahaan saya kemarin pada saat awal presentasi.

Tapi jika memang populasi adalah sebuah bencana layaknya tsunami yang menggerus lahan daratan dan pertanian, berarti bisa jadi (naudzubillah) orang otomatis terlahir membawa nafsu serakah...haahahhaa . Hanya saja, mungkin betul parenting itu sulit, lalu yang kemudian membuatnya tambah sulit adalah,.."ketika harus membesarkan anak sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang".


"Kok kau lancang bicara demikian, hai briantono sembrono!!"


Ini murni adalah pemikiran yang berawal dari sebuah celetukan paman saya: "Pada zaman dahulu, ketika orang punya anak anak , tidak semuanya masuk sekolahan, ada sebagian jadi petani". 


Kebetulan, saat itu paman saya lagi giat berkebun. Dari titik itulah naluri saya tergetar. Tersadarlah bahwa kebanyakan orang yang -terutama mampu-, mau tidak mau mengikuti standar kehidupan yang seperti sudah saklek kayak tiang listrik yang suka nyetrum mendadak : playgroup-tk-sd-smp-sma-s1-s2-s3-es teler.-kerja-nikah-karir-...Ups sengaja salah ketik,...maksud saya biar pembaca bisa ketawa garing dikit melihat paragraf saya yang cukup bikin mata jereng ini. Atau malah terlalu hambar untuk sebuah lelucon?

Di simak dari berbagai penelitian dan fakta di dunia, terutama Indonesia: sebagian motivator, sebagian pengusaha sukses, CEO bahkan mereka yang menjadi sumber rujukan kita dalam bahan kuliah, adalah orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan formal hingga tuntas, tidak merasakan S2, S1, bahkan SMP, SD. Tengoklah Thomas A. Edison, Ippho Santosa, Bill Gates, dsb  Bukan hanya itu, Pak Karno Bapak Bangsa kita saja pun malah berkarir di luar jurusan saat telah lulus dari Teknik Sipil.  

Maka, apakah hidup hanya perkara sekolah? Big No! 

Siklus gaya hidup kebanyakan orang, terutama di Indonesia, hari ini sangat dipengaruhi gengsi cap jahe meregehese, Mendorong tiap orang harus punya rumah mobil, resepsi luxury dengan adat segudang untuk acara nikahan , tujuh bulanan, hari anniversary untuk pernikahan. dan harus naik karir abret. Tapi kalau ditanya alasan kenapa diselenggarakan seperti itu, mungkin kebanyakan akan menjawab karena takut dicemooh tetangga sebagai alasan utama, ataupun soal menghargai teman sejawat dan saudara. Hahaha, padahal kalau mau sukses hari ini, cobalah kerja halal apa saja, dan siap gagal dalam berteman dan berbisnis dengan berbagai kalangan, tak perlu lagi nunggu dipanggil "kantor bergengsi" saja untuk dapat gaji 10 Ju ta rupiah. 


Lalu patut kita ingat, menurut sabda Rene Suhardono, karir tak hanya di kantor, tapi juga soal parenting dan membina hubungan birrul wallidain. Ada mantan karyawan, ada mantan istri, ada mantan suami, dan ada mantan pacar-yang cukup lazim-,..tapi tidak akan ada, tidak akan ada,....mantan ayah, mantan ibu, mantan anak, dan mantan kelapa,..adanya santan kelapa....

Tapi lagi-lagi, ada saja orang yang mendobrak status quo seperti ini, tengoklah Alvin dan Larissa, dan juga teman-teman saya yang kelar SMA sudah nikah pasca lulus dari gedung sekolah mereka di jalan Belitung dan Sumatra, apakah ada masalah ?? Pastinya ada,..tapi ga berlanjut. Ini lah sebuah keniscayaaan bak cahaya di tengah kegelapan rumah karena pemadaman PLN, bahwa faktor mayoritas membawa masalah kependudukan hari ini adalah "GENGSI DAN TRADISI"..

.Duuuarrrr, langsung beberapa orang mukanya merah padam bak cabe berubeli dari pasar tradisional yang masih segar Mengapa saya tulis kesimpulan seperti ini?... Silakan kita tengok kembali beberapa kota terpadat di Indonesia. Sebut saja Jakarta, sebut pula Bandung, mungkin juga Medan. Percayalah bahwa tak jarang sosial media tentang kota-kota tersebut berisi drama mobil numpuk udah kayak jamaah ngantri sembako, Tepat beberapa waktu lalu, menteri koordinator sempat berujar bahwa kemiskinan terjadi karena yang kurang mampu pada besanan. Apakah ini adalah faktor pendorong kemiskinan?  TENTU TIDAKK...jika demikian bayipun harus disalahkan karena polusi udara dan sampah membludak. Hebat kali dia lahir oe-oe langsung bisa pesen mobil di dealer, terus ngerokok, dan buang sampah sembarang.....jajajajajajajajja....


Berapapun biaya yang diberi dalam pekerjaan dan kehidupan kita, akan cukup untuk bisa makan minum, membeli pakaian seadanya, ataupun menyelamatkan kendaraan dari BBM sekarat, berikut bayar listrik. Tapi TIDAK AKAN PERNAH CUKUP untuk memenuhi gaya hidup untuk tambah lemak di restoran, tambah kendaraan untuk 1 orang 1,..memperbanyak tempat usaha yang diluar kontrol, apalagi beli perhiasan diluar mas kawin HANYA DEMI MENYENANGKAN TETANGGA, DAN CITRA. Hari ini, yang paling banyak membawa masalah bukan lagi sekedar kemiskinan, tapi orang-orang berkecukupan bergelimpangan tapi menambah-nambah kekayaan dengan menggusur lahan hidup dan pekerjaan orang miskin. Sialnya, mereka pakai jurus Kill The Messenger supaya modus terlaksana. Kan kesal jadinya.


Minggu, 19 April 2020

Telenovela bernama radikalisme

-Telenovela itu bernama Radikalisme-
Apa yang biasa jadi adegan, alur bila anda menonton telenovela atau melodrama? Ehm meskipun berbeda-beda alurnya, tipikalnya adalah 'ada tokoh jahat dan baik',..'tokoh jahat menang terus' - 'tokoh baik dicitrakan oleh tokoh jahat...",dengan citra buruk bin ad hominem'- 'tokoh baik akhirnya berjaya'. Yang jelas, kalau anda adalah penonton, sama kayak saya, seringkali gregetan lihat adegan ketika pemain 1 film kompak menzalimi si tokoh baik. Gatel dan pengen terus ikutin kan? Ga bisa dipungkiri, sebagian pasti penasaran, kok tega sih tokoh baik terus menerus dizalimi.
hari ini, mungkin hidup di sebagian negara, selalu ada narasi melodrama atau telenovela : "hancurkan radikalisme" hingga komedian berkicau "free radical" udah jadi komoditas. Menjelang politik, narasi-narasi telenovela yang 'kadang bikin gatel' ini pasti muncul. Sebagian menyahut antusias mengiyakan, sebagian mempertanyakan penuh kegemasan. Gue juga gemas: emang apa sih radikal itu?
Oke,...aku sertakan sumber nya dari KBBI, radikalisme adalah : 1 paham atau aliran yg radikal dl politik; 2 paham atau aliran yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dngan cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dl aliran politik. Gimana udah cukup konkret penjelasannya? Aku sertakan dari wikipedia, ensiklopedi kita bersamaah:
Radikalisme (aspek sejarah), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.
Partai Radikal – sejumlah organisasi politik yang menyebut dirinya Partai Radikal, atau menggunakan kata Radikal sebagai bagian dari namanya.
Gimana, sudah cukup jelas? Buat saya sih masih ngawang , dengan catatan saya tidak mau bikin definisi berdasarkan media cetak, habis media suka semaunya menafsirkan-gimana yang nyuruh- 
Oke, let me show you what's radicalism mean:
the political orientation of those who favor revolutionary change in government and society (vocabulary.com)
Bila dilihat keatas, dari ketiga sumber bahasa tadi, radikalisme itu bisa diartikan adalah :
1. Paham yang menghendaki perubahan drastis dalam politik dan sosial
2. Pengaturan ulang (redistribusi) pers,
3. Lebih terhubung dengan 'pembebasan;
4. Manipulasi 'kebebasan' dan 'hak milik'
Yap, kembali ke ulasan beberapa hari kemarin saya mengcounter antitesis terhadap 2 artikel 'so brilliant', artikel yang sumbernya koran baskom itu cenderung menilai organisasi ###, GN##, f$$ , H$I adalah gembong radikal. Ternyata bila dikaji menurut definisi di atas, itu tafsiran yang kurang holistik. Kalau dibilang 4 organisasi di atas radikal, sudah dari dulu banyak pers 'yang dikocar-kacirkan'. Kenyataannya, pas 114, 212, 411; malah banyak media yang dikawal F@@, ataupun wartawan yang dilindungi dari intimidasi orang-orang yang sudah tidak tahan tipuan sebagian media partisan.
 http://www.rakyatjakarta.com/foto-foto-laskar-fpi-ternyata…/. Jadi betulkah orang-orang tersebut yang radikal? Pers malah berusaha dilindungi kok...Jadi coret ciri-ciri no.2.
Tapi mungkin H## memenuhi definisi no. 1,...tapi yang bisa memenuhi definisi no.1 juga adalah orang-orang yang kemarin berbicara: "coba pisahkan agama dari politik" http://khazanah.republika.co.id/…/oninlv361-kiai-didin-memi…". Ataupun juga orang-orang yang senang bikin klaim sendiri, eh bukti2 ga mendukung: http://www.rmol.co/…/Gorong-gorong-Gedung-DPR-Sempit-&-Suli…
Jadi, yang memenuhi definisi radikalisme terkait pembebasan dan redistribusi gelar, lagi2 mentok di 'bukti',...justru malah orang yang dituduh radikal mau makar, ga punya senjata dan bom apa-apa. Jadi siapa yang sebenarnya radikal? Ya mungkin kita semua radikal.
Kenapa aku bilang kita semua? Ya aku masih heran dengan orang-orang yang mendebat saya sampai belasan paragraf, saat saya dulu di barisan penentang Lady Gaga Konser di Indonesia. "Eh brian, lu konservatif banget, tengok luar negeri sana". Dan begitulah berkali kali kritik mengalamatkan bahwa :"Kok elu kayak takut iman ente kurang, lantaran artis datang ke Indonesia??" Ya begitulah tanggapan di medsos,...kalau gue sempat di barisan menentang konser, kontroversial ya alamat diteriakin "konservatif".
Hanya saja, yang bikin aku heran, eh giliran ustad Zakir Naik datang ke Indo, orang-orang yang mendebat saya itu, pada bikin status agak paranoid, persis kayak saya waktu dulu mengkritik "konser kontroversial",....kadang-kadang ada yang ngibrit kayak anak kecil hendak kabur di imunisasi.
Ngomong-ngomong soal imunisasi, mungkinkah diterapkan untuk pencegahan kanker? Awas jangan pakai terapi anti kankernya Pak Warsito, nanti beliau diincar sama para dokter di sini buat dicerca, tanpa beliau dikasih ruang diskusi
Bisakah kita saling berbagi dalam ruang diskusi tentang radikalisme? Ah sudahlah, ini era digital, tapi bertanya sudah mahal harganya. Ini era klaim dahulu, menyesal dan meminta maaf kemudian 

Rabu, 01 April 2020

Celah Atap


Celah Atap
M.Seftia Permana

Lampu-lampu rumah di kaki gunung, akan mati terbunuh pagi
Garis jingga di balik awan, seperti belati yang menikam
cahaya lampur-lampu rumah di kaki gunung. 

Jerit sepi kamar-kamar yang terkapr, terdengar hingga ke selasar. 
Sangat sepi. 
Lampu-lampu mati, ditinggal Pak Tani pergi ke Ladang. 

Hanya bunyi tonggeret dan sesekali angin menyusuri dengan
hati-hati sebagian dinding dan tiang yang mulai melapuk
Sepi sang Pembunuh bisa menjadi Sunyi yang hangat..

Atap rumah menengadahkan wajah pada Langit Plontos pukul 7
Ia yang mengisi setiap celah-celah atap. 
Mengusir ruang hitam, memberi warna dan bentuk. 
Terus bergerak hingga langit kembali jingga. 
Pak Tani kembali pulang dari ladang saat senja, 
kemudian menyalakan lampu-lampu.
di esetiap ruang, kamar, hingga selasar. 

Sunyi sepi bukanlah ruang ketakuan, 
ia hadir unutk mengisi lukisan-lukisan
di setiap celah-celah atap, yang tampak meratap. 

Gubuk beratap daun rumbia
Berdiri di ujung talut menghadap laut. 
Ia, yang menjadi peraduan.
Saut peluh resap membasahi tubuh. 

(M. Seftia Permana, 2016)

Senin, 30 Maret 2020

Copas: Verifikasi Disinfektan

Nih saya kasih warning ya. Terutama buat para "ahli" yang suka campur-mencampur pakai feeling dia tanpa dasar yang jelas, tanpa mengetahui sifat kimia yang dia campur, dan efek dari campuran yang ditimbulkan.
Anak-anak yg paham ilmu kimia saja ga pernah melakukan kek gini. Produsen bahan dan material (khususnya desinfektan, untuk kasus ini) ga pernah ada kasih statement anjuran bahan dia dicampur dengan produk atau bahan lain kan?
Kenapa malah kita yang ga ada kompetensinya lantas menentukan campuran desinfektan itu aman? Pemutih aja setahu saya ga boleh dicampur deterjen kok. Penggunaan selama ini saja harus terpisah kan. Soalnya pemutihnya juga ga akan efektif krn kena sifat deterjen.
Jadi mencampur jg blm tentu bagus, bisa jd material aktifnya ga bekerja maksimal.
Hal yang sudah umum diketahui
- Desinfektan dengan kandungan Asam + pemutih pakaian = gas klorin dilepaskan (Level paparan rendah: iritasi membran mukosa, batuk dan masalah pernafasan, mata perih berair, hidung meler. Level paparan tinggi: sakit bagian dada, susah bernafas, muntah, pneumonia, dan timbul cairan pada paru-paru. Level lebih tinggi lagi dapat menyebabkan kematian)
- Desinfektan dengan kandungan Amonia + pemutih pakaian = uap kloramin toksik (batuk, mual, sesak nafas, mata berair, sakit pada dada, iritasi, wheezing/bengek)
Baca langsung saja ke sumbernya klo ga yakin:
https://www.doh.wa.gov/…/H…/Contaminants/BleachMixingDangers
Jangan sampai juga:
" Covid-19 terhindar, tapi bahan kimianya bikin anda modyarrr "
Anda memang akhirnya bisa membunuh kuman dan virus, tapi anda sendiri juga kena akibat bahan yang anda pakai.
Saran:
1. Pilih salah satu saja. Pake karbol ya karbol aja. Pakai pemutih ya pemutih aja. Pake pembersih lantai, ya pembersih lantai aja.
Begitu pula kayak antiseptik yg udah saya bahas. Alkohol 70% ya alkohol 70%. Dettol/chloroxylenol, ya dettol aja (maaf sebut merek). Propanol ya propanol.
2. Lihat petunjuk / instruksi pemakaian. Kalau produk yang sudah resmi dan berijin, pasti ada petunjuknya.
Pahami lah definisi desinfektan itu apa, antiseptik itu apa.
Selama belum paham, ya susah.... pasti ada potensi salah menggunakan, salah penanganan, salah aplikasi (karbol buat cuci sendok makan...what the hell ? Ada yg pake campuran pemutih (natrium hipoklorit/sodium hipoklorit) buat hand sanitizer? Astaghfirullah ðŸ˜¥...trus ada yg liatin foto petugas nyemprot desinfektan ke wajah...seriously, guys... klo seperti itu, I think you are the killer, not the virus).
Btw, saya juga ga rekomen pakai formalin ya. Jujur, itu ngga rekomen....kita bukan mayat yg mau diawetkan.
Dan buat yg punya peliharaan, mohon hati2...amankan peliharaan anda saat melakukan disinfeksi. Kasihan hewan ngga tau apa-apa trus akhirnya mati hanya krn kena paparan disinfektan.
Lu boleh takut sama virus. Gue juga takut virus. Kita juga harus waspada.
Tapi adalah hal yang lebih bodoh dari rasa takut, bila karena bahan kimia yg dipakai trus diri lu sendiri atau orang lain malah yang kena akibatnya.
Saya ga peduli mau itu petugas, dinas, atau instansi apapun,..kalau anda tidak tahu bahaya campuran desinfektan yang anda pakai, jangan anda korbankan orang lain dengan kebodohan dan ketidaktahuan anda. Kalau memang ada yang mau membantah, silakan, tapi saya minta bukti dasar ilmiah dan info toksisitas dari campuran yang anda buat seperti apa (terutama gas klorin atau uap kloramin yang potensial muncul dari campuran). Kita debat dengan argumentasi ilmiah, jangan cuma katanya-katanya aja. Saya ga mau orang banyak jadi korban keteledoran dan kekonyolan segelintir orang yg ga tau apa2 soal bahan kimia.
Anda tahu ga, kalau gas klorin atau uap kloramin dari campuran yg anda buat itu terhirup dan mengiritasi membran mukosa saluran pernafasan, itu akan memperburuk situasi? Covid-19 akan lebih mudah menginfeksi. Paham? Membran mukosa saluran pernafasan itu proteksi pertama terhadap kontaminan termasuk mikroba. JANGAN TAMBAH KORBAN LAGI ! Tindakan bodoh anda hanya akan menambah banyak korban !
Dipikir pakai bahan kimia sama kek bikin es campur....
Ini ada contoh kasus di berita.
Kepada Ibu Tyas Ummu IffaRahma , saya mohon ijin capture komentar pengalamannya ya biar yang lain juga tidak kena imbasnya.
Update:
Pencegahan agar tidak keracunan klorin:
1. Selalu membaca dan mengikuti petunjuk penggunaan produk.
2. Tidak mencampur bahan kimia berbahan dasar klorin dengan produk atau zat lain secara asal.
3. Mengenakan pakaian atau peralatan sesuai yang diinstruksikan pada produk.
4. Tidak menggunakan klorin di area tertutup tanpa ventilasi udara.
5. Menyimpan produk di tempat yang aman dan tepat serta jauh dari jangkauan anak-anak.
Bagaimana bila ada yang terhirup gas klorin yang toksik ?
1. Bawa korban ke area udara terbuka sesegera mungkin (pastikan penolong juga aman, pakai masker atau penutup hidung).
2. Jika penderita muntah dalam posisi berbaring, miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah ia tersedak.
3. Apabila penderita tidak responsif, napasnya terhenti, atau tidak bernapas, lakukan prosedur CPR selagi menunggu bantuan medis datang.
Ada bbrp info bilang bisa diberikan susu untuk menawarkan racun klorinnya (mohon dikoreksi bila hal ini salah).

Selasa, 24 Maret 2020

Esensi Seorang Teman

Sebelum membusuk dari ingatan saya,....saya ingin berbagi salah satu ilmu esensial yang saya pelajari di negeri kangguru.
Pada awalnya,...saya mengapply buat kuliah magister di sini,...dengna bantuan agen lantaran dari juni hingga desember 2013,.....saya resmi jadi sarjana tanpa kerja tetap,......
Tentu saja,...menjadi pengangguran adalah hal yang meresahkan bagi sebagian orang,....sebagian besar...karena kadang opsi agar keuangan tetap stabil,..adalah tetep bergantung pada orang tua,....
Akhirnya,...udah sekian lama waktu itu berlalu,...gue pun meski di luar negeri yang masih dibiayai orang tua,.....tetep saya berusaha cari kerja,...meski kenyataannya : "Tanpa sertifikat bahasa,..dan work visa yang resmi,.....kamu gakkan bisa ngelamar di perusahaan besar,....meski pengalaman di indo puluhan tahun dan lulusan terbaik univ"
Ya,..ahkirnya kadang jadi buruh bongkar pasang pasar kaget,....upah 40 dollar per hari,....atau jadi buruh cuci di resto 20 dollar,.....
Tapi pertanyaannya : "apa sih yang bikin orang kok bisa dapat jabatan gede? Padahal beberapa tahun yang lalu biasa-biasa aja"
Ya,.lantas aku pun mengobrol dengan berbagai orang di sini,...termasuk asisten kuliah,...di situ kutemukan titik terang,...
"Kok,...aku ngapply,beberapa kali ke coles sama kfc,..kok belum ada yang nerima ya? " tanyaku pada teman sekosanku.
"Jangankan kamu,.....justru orang bule yang udah lokal bertahun-tahun pun,..pengangguran 6 bulan pun masih 'kasus wajar" jawabnya
"Terus gimana caranya ente dapat kerja?"
"Kalau saya dulu ya melakukan interview seperti biasa,..dapat kerja diperlakukan seperti orang nomor sekian....wah di lapangan bisa berhari-hari,......tapi ya ga terlalu didengar pendapatnya."
Btw,..teman kosan saya udah 7 tahun jadi permanent resident AU,.....
"trus kemudian saya dapat pekerjaan baru dari seorang kenalan saya. Diapun merekomendasikan saya buat masuk perusahaan Sxxx,.....lantas saya interview seperti biasa,..dan akhirnya dapat kerjaan kantoran yang ga perlu bolak balik lapangan. Ya sekarang sih lumayan,....semua itu karena saya punya reputasi di mata teman saya. "
Hal senada pun diutarakan asisten matkul SISTEM REKAYASA BERKELANJUTAN:
"Maybe the group that you form now will not lasts long,..but it remains essential. Guess,...,..I got my job from my friends. Did i ever take the interview? Completely no.....Until now,..I have never been an unemployee,..that's because I have friends that could recommend me to obtain job. "
The moral is: Kadang gelar aja ga cukup,.....buat dapat kerjaan layak,...kira kira,..hanya sukses 80% mengantar kita buat dapat suatu posisi pekerjaan,..tapi kecil kemungkinan untuk dapat jabatan yang wah dan jadi orang yang diperhitungkan dlaam perusahaan,...kira kira kurang dari 30 %,.....
Berbeda dengan kepercayaan seorang teman,....mereka bisa mengantarmu ke posisi yang layak,...bila kau sudah rebut hatinya,..dengan performa yang maksimal,.....dan sikap yang baik,....
kira-kira 75 % kepercayaan seorang rekan bisa membawa kita ke karir puncak. Akan tetapi,..tetap semua bergantung pada 'teman seperti apa yang mau kita rangkul dan bagaimana kita merangkulnya?"
Dan teman seperti apa yang kita rangkul dan percayai,..semua tergantung apa yang kita lihat sebagai yang terpenting dalam hidup. Kalau berteman dengan tukang minyak,..ya suatu saat akan kena panasnya,....
Maka,..seperti apa teman kita saat ini? Dengannya,..akan jadi apakah kita di masa depan?

Senin, 23 Maret 2020

Memilih Guru Agama

Bismillah.
Kalau diurai alasan mengapa saya sukarela mendukung 1610, 411, 212, 112,...dan segala macam kajian sunnah,...mungkin karena saya sejak remaja sudah bertemu dengan berbagai guru ngaji yang notabenenya adalah tetangga rumah saya , dan secara pribadi kuakui aku lebih rela baca ihya ulumuddin ketimbang buku grammar bahasa inggris. . Dari sanalah aku menempa ilmu dasar tentang kalam Allah serta beberapa kecil bagian pembinaan iman.
Maka bila aku ditanya tentang guru agama seperti apa yang ideal, utamanya menurutku yang masih dasar belajar agama adalah beliau beliau yang mengembalikan segala pemahaman pada Al Qur'an dan Sunnah, berikut dengan kecakapan ilmu Tauhid dan juga akhlak yang terpuji. Mungkin kamu kamu akan bertanya: "apakah kamu akan tinggalkan seorang ahli agama atau guru agama, apabila ia berpoligami, tanpa minta izin isterinya?" Jawaban saya adalah tidak akan meninggalkan petuah dan ceramah beliau-beliau!. Aku takkan memungkiri, kamu kamu bisa saja sakit hati, lantaran poligami memang sedikit banyak tinggalkan luka menganga dalam rumah tangga.
Itu hakmu dan cukup rasional, apalagi bila kamu kamu adalah seorang wanita,merasa bukan akhlak terpuji menyaksikan dan tahu ustad teladanmu berpoligami, dan itu adalah hak saya untuk tidak berhenti mendengarkan beliau beliau selagi masih ajarkan kita untuk kembali pada Al Qur'an dan Sunnah , sebagai SOP mutlak seorang muslim serta tunjukkan tuntunan akhlak mulia. Saya baru akan tinggalkan mereka, kalau mereka sudah berhenti mengEsakan Allah lalu menyalahkan ajaran tauhid dan sunnah, tak peduli mereka punya rumah tangga baik dan anak anak yang patut diteladani, bukankah dosa besar nomor wahid adalah menyekutukan-Nya? Untuk mereka-mereka yang sudah terlanjur tinggalkan tauhid dan berkata "semua agama sama", "kitab suci sudah 'exp#####"....aku hanya sekedar berhenti anggap mereka ulama , namun mereka tetap teman kita dalam kemanusiaan.
Aku akan mengulang kisah, bahwasanya zaman dahulu Nabi Musa a.s pun diperingatkan oleh malaikat ketika beliau alaihissalam mengutuk kebiadapan seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri; bahwasanya sang Ibu masih sangat berpeluang mendapat ampunan-Nya, ketimbang orang-orang yang berani dengan sengaja tinggalkan ibadah kepada-Nya. Soal engkau benci dengan poligami, aku turut prihatin, dan akupun tidak mengamininya, namun AKU JAUH LEBIH TIDAK SUKA KALAU AD HOMINEM DAN STANDAR GANDA JADI KEBIASAAN YANG MENGAKAR AKUT DALAM MASYARAKAT.
Sungguh aku lebih muak, dengan kebiasaan masyarakat kita yang sedikit-sedikit mengucilkan seorang guru agama lantaran ia poligami , tetapi masih mendukung orang yang gonta-ganti pacar , playboy, playgirl, sebagai sebuah kebanggaan. Apa masih kurang miris, menurutmu, bila kita temukan sebuah keluarga justru malah sukarela biarkan anak2nya pacaran bebas, sementara giliran mereka serius nikah pada umur yang sepadan dan berkecukupan kita tuntut mereka mahar yang tidak masuk akal dan cenderung kita persulit atas nama 'nama baik pada rekan dan tetangga'?
Maka, akupun sering pusing dengan kebiasaan kita menjauhi seseorang yang membuka peluang amal kita, lantaran alasan yang tidak relevan, ataupun kita malah membuka peluang fitnah pada mereka-mereka yang masih berhubungan erat dengan sosok yang kita lawan. Kita menjauhi guru agama, lantaran anaknya ketahuan mencolong, yang padahal beliau-beliau sendiri kewalahan menanganinya, ataupun kita jadikan keluarga ulama yang kita musuhi sebagai bahan rumor tidak sedap tatkala kau ketahui sang ulama dilamar partai yang acapkali sering bikin masalah. Jujur, aku takkan mengamini , mengiyakan penghakiman sempit terhadap para guru agama dan keluarganya, lantaran kesalahan mereka yang masih dibenarkan secara syar;i . Mengapa begitu asyik kita bakar ladang amal dengan fitnah?
Sungguh, kurasakan sekarang, ada beberapa orang yang menurut saya mungkin bukan guru yang betul-betul sempurna dalam kemanusiaan, namun mereka masih mampu menjadi teman dan guru kita dalam ke-Tauhid-an dan habluminnallah. Bukankah yang mendekam dalam neraka 1000 tahun masih lebih melegakan daripada mendekam abadi di dalamnya?

Sabtu, 07 Maret 2020

Makna Kecerdasan-Disadur dari Komunitas Komppak

Berikut saya lampirkan hasil kajian dari KOMPPAK: 

Semoga dengan membaca ini tidak ada lagi perkataan...."anak dokter kok tdk pinter", "anak dosen kok tdk pinter", anak karyawan bank kok tidak pinter"...dll*_


*MAKNA KECERDASAN?...*

Di papan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa di tepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. 
Lalu saya bercerita, ada 4 anak yg mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. 

Anak pertama: Dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat 
bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh lengkap dengan persamaan matematika dan fisika. 

Lalu saya sebagai psikolog tanya kepada siswa-siswa saya: "Apakah anak ini cerdas?"
... dijawab serentak sekelas. " iya !!... Dia anak yang cerdas" 

Lalu saya lanjutkan cerita ... 

*Anak kedua :* Dengan gesit anak ke dua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan ke pedagang dan dia bersorak ... "Yesss ... laku Rp 5.000!"

Kembali saya bertanya ke anak-anak di kelas ... "Apakah anak ini cerdas?". 
Anak-anak menjawab "Iyaa , dia anak yg cerdas". 

Lalu saya lanjutkan cerita...

Anak ketiga : Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menanyakan: "pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh, mau saya kembalikan kepada yang punya pohon."

Saya bertanya kepada anak-anak ... apakah anak ini cerdas?
Anak-anak dengan mantap 
menjawab:" iya ... dia anak yang cerdas!"
 
Sayapun melanjutkan cerita terakhir 

Anak terakhir: Dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia 
melihat ada seorang kakek yg tengah kepanasan dan berteduh dipinggir 
jalan. _

"Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya".
Lalu saya bertanya ... apakah anak ini, anak yg cerdas? Anak-anak  menjawab, 
"iya ... dia anak yang  cerdas".

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita di atas menunjukkan anak yg cerdas. Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki *"Kecerdas-unikan-nya".* 
Dan mereka ingin dihargai *"Kecerdas-unikan-nya"* tersebut.......

*Namun yang sering terjadi, di dunia kita, dunia para orang tua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi,* yakni ? 

"Kecerdasan Anak Pertama, Kecerdasan Akademik"*, Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan UN. 

Sedang ... 
*"Kecerdasan Finansial"* (anak no 2), *"Kecerdasan Karakter"* (anak no 3) dan *"Kecerdasan Sosial"* (anak no 4). 
Belum ada ruang yg diberikan Negara untuk mengakui kecerdasan mereka.

Anak Anda termasuk nomor berapa?
,
Saya jadi ingat, dulu sering kami jadikan olok-olokan saat SMA, antara anak IPA dan anak IPS, siapa yg sebenarnya cerdas? Bagaimana kira-kira perasaan buat anak IPS? Terkadang terasa diperlakukan jadi siswa yang terpinggirkan.... Duh menyedihkan...😥

Anak Anda semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan "Keunikan dan Kecerdasan-nya" masing-masing. Hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri Anda sendiri. 

Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing,  dan siapkan mereka dengan *4 kecerdasan (Akademik, Finansial, Karakter, dan Sosial)_  sebagai pedoman dimana mereka akan mengarungi lautan hidup kelak. 
*#Tiap manusia lahir dengan kecerdasan dan keunikan masing-masing#* 🌟🌟🌟

Share by *KOMPPAK*
*Komunitas Pecinta Pendidikan, Anak, dan Keluarga*

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...