Senin, 10 Februari 2020

Kumpulan Puisi Muhammad Asqalanie (English by Briantono Raharjo)

The Man's Rain

By: Muhammad Asqalanie Eneste

(English: Briantono MR) 


The rain in your brave heart
has gone wet,...
while the ground reveal its clay,
with shy, blooming the flower,
on the rear garden.

Ribs unite on a cross,
when apple trees fallen,..
perhaps due to the raging gale
within the orgasm of the hail

Once the chest becoming the tree
thou shall begging,...
"shall I grow ripping the sky high?"
right when the rain falls gently,..

but
when the climbers,
bury his own leg,
he shouts a vow,..
hoping there will be rain
no more

"...no more man's rain"


di Febryan 2015

______________________________________________________________________



Obsessive Compulsive Disorder

: Asa Maxwell Thornton Farr Butterfield
(Oleh: Muhammad Asqalanie Eneste)




di planet yang genit ini, aku mematut kaca di kelapa hingga
ke kepalan pekat di lebuh dadaku; tak ada cahaya sempurna,
sedang aku si samar-samar kehilangan cara, bertikaian apa
yang tak terurai definisi.

"aih, terkutuklah ketampanan langit bumi, sejak Yusuf tak lagi
menyebar wangi kasturi" katamu ketemu seorang tamu yang mirip
wajah lelaki dalam kisah Luth.

"maka satu-satunya galaksi di galak diri, adalah tinggi kesaksian
seorang munafik seperti abu jahal" jawaban yang janggal kujagal,
seperti tak mengenal kata penggal.

"bersenggamalah bayang-bayang diri yang hancur setelah
benturan naluri, tak ada big bang setelah dan sebelum eva, tak ada"
kau begitu percaya.

aku begitu percaya.

seperti gelap lorong gereja bagi perempuan bernama Wilma,
selamanya aku si lumpuh yang cerpelai dan takkan mengaku mempelai
tanpa belalai.

"di matamu watu kehilangan keras nawaitu, Asyiah tak membela Fir
yang tenggelam diapungkan waktu, dalam kitab pembelajaran kaum pembaca"
kataku yang entah mengulang katamu.

membereskan kelamin di dalam kelam, berdoa sewangi dan sebulat mempelam,
kelambu adalah jaring laba-laba di liur kaca yang gampang pecah; menjadi
kebenaran OCD

2016

__________________________________________________________________________________________







Muhammad Asqalanie Eneste 

 Suka belajar ini dan itu. Suka dengan hal-hal unik. Mengajar Kelas Puisi Online (KPO) bersama WR Academy. Ingin keliling dunia dengan prestasi. Pendiri Community Pena Terbang. IG: @muhammadasqalanie

Obsessive Compulsive Disorder-Muhammad Asqalanie Eneste

Obsessive Compulsive Disorder
: Asa Maxwell Thornton Farr Butterfield
(Oleh: Muhammad Asqalanie Eneste)

di planet yang genit ini, aku mematut kaca di kelapa hingga
ke kepalan pekat di lebuh dadaku; tak ada cahaya sempurna,
sedang aku si samar-samar kehilangan cara, bertikaian apa
yang tak terurai definisi.

"aih, terkutuklah ketampanan langit bumi, sejak Yusuf tak lagi
menyebar wangi kasturi" katamu ketemu seorang tamu yang mirip
wajah lelaki dalam kisah Luth.

"maka satu-satunya galaksi di galak diri, adalah tinggi kesaksian
seorang munafik seperti abu jahal" jawaban yang janggal kujagal,
seperti tak mengenal kata penggal.

"bersenggamalah bayang-bayang diri yang hancur setelah
benturan naluri, tak ada big bang setelah dan sebelum eva, tak ada"
kau begitu percaya.

aku begitu percaya.

seperti gelap lorong gereja bagi perempuan bernama Wilma,
selamanya aku si lumpuh yang cerpelai dan takkan mengaku mempelai
tanpa belalai.

"di matamu watu kehilangan keras nawaitu, Asyiah tak membela Fir
yang tenggelam diapungkan waktu, dalam kitab pembelajaran kaum pembaca"
kataku yang entah mengulang katamu.

membereskan kelamin di dalam kelam, berdoa sewangi dan sebulat mempelam,
kelambu adalah jaring laba-laba di liur kaca yang gampang pecah; menjadi
kebenaran OCD

2016

Minggu, 02 Februari 2020

Mengapa Tanggal 25 Itu Masih Kau Ingat?

Dear Enda,

Ini bukanlah tentang rasa yang harus diulang. Melainkan tentang apa yang masih tersembunyi, setelah tanggal 8 itu.

Aku masih ingat sore hari itu. Dimana kita yang tadinya hanya berjumpa lewat suara dan kata demi kata di media sosial, akhirnya bertatap muka dengan saling tertegun akan wajah masing-masing. Saat itu, aku masih jadi milik  seseorang, yang sudah mulai memudar rasa kagum terhadapnya bersama aliran waktu dan rupa-rupa selisih yang membuat risih. Aku yang tak selalu paham terhadap situasi, dengan tanpa rencana kujadikan engkau tempat bersandar. Kata demi kata. Percakapan demi percakapan. Hingga semua hal dari titik paling rahasia dari dasar hati mencapai gendang telingamu.

Setiap kali aku kesal dengan kekasihku saat itu, engkau kerap menjadi pengungsian. Lalu kita pesan tempat duduk favorit di setiap rumah makan setiap kali butuh waktu untuk membuka ruang wacana lebih dalam. Akhirnya, dia pun mengintai namamu, setelah ponsel coklat tua-ku ditelusurinya pada suatu sore, lalu pesan darimu tertangkap sepasang matanya. Puncak dari segala emosi tak terhindarkan, lalu tanpa ragu kuputuskan ikatanku dengannya. Sebenarnya, saat itu dirimu belum punya posisi mentereng dalam hatiku. Aku hanya enggan untuk terus bertahan dalam hubungan yang sudah mulai dinahkodai oleh rasa curiga dan posesif. Di titik ia tega meracau pikiranku dengan tuduhan yang tidak mendasar disaat harus menghadapi ujian akhir semester, akhirnya kuputuskan -meski itu sebuah kebodohan-  untuk melenyapkan rasa dengannya. 

Aku yang merindukan kebebasan, tak serta merta meminta dirimu untuk melihat diriku untuk jadi sesuatu yang berharga. Karena akupun butuh waktu untuk berpikir ulang dan menata kemana arah mata ini akan melihat hari esok. Maka, selain dirimu, akupun mencoba menelesuri ruang pikiran dan perasaan teman-teman lawan jenisku yang lain. Setelah bergulat dengan bermacam-macam watak, kumantapkan hati bahwa ratusan hari berpikir ulang lalu memutuskan engkau sebagai pilihan berikutnya adalah pilihan tepat. Maka, tanggal 25 di suatu bulan di tahun 2011 , kita pun menjadi sepasang kekasih. Saat itu, aku kembali dikuasai rasa yang sempat menghilang selama puluhan hari, ditelan oleh berbagai agenda dan rencana-rencana lain.

Tiga puluh hari pertama, rasanya kita benar-benar menikmati waktu bersama. Berdua hingga tengah malam pun rasanya bukan hal yang tabu, selama tidak dikuasai hasrat yang meruntuhkan. Tetapi, sedikit demi sedikit, kita merasakan suatu gesekan kecil, tak terlihat mata, tetapi terasa di hati masing-masing. Beberapa kali kau tidak nyaman, saat aku masih sibuk menghadirkan pengalamanku yang lama saat mata kita bertemu. Mungkin, ada banyak hal berbeda antara kita yang baru disadari, karena kita saling membuka lembar baru dalam situasi yang tak serupa.

Suatu hari, engkau berkata tentang sebuah rahasia. Aku penasaran, lalu kudesak dirimu untuk angkat bicara. Sial, mengapa seringkali seorang manusia sulit melupakan masa lalunya saat menilai seseorang yang berbeda? Di suatu malam, akhirnya kau ungkap kata, lalu tertuanglah sebuah kalimat yang menjadi rahasiamu sejak lama. Aku mencoba terima, meski jantungku berdetak bagai menghadapi marathon. Kukuatkan hati, bahwa pikiran dan hati seyogyanya harus bisa lebih terbuka akan segala kemungkinan. Bukankah di tanggal 25 itu sudah kumantapkan hati untuk memberanikan diri kembali?

Suatu masa, setelah ratusan hari kita bersama, kuulang kembali siklus perasaan seperti kekasih yang dulu. Aku jalan dengan yang lain saat masih bersama denganmu. Aku tak lagi merasakan tekanan dari rasa posesif, meskipun adrenalinku masih menyimpan rasa takut akan kejutan yang akan terjadi di hari-hari mendatang. Tapi, teringat tiga patah kata rahasiamu yang terungkap saat sore yang sepi itu, entah kenapa selalu kembali terpikir untuk mencari petualangan baru. Bodohnya diriku. Maka, di suatu siang, kuutarakan bahwa aku mengulang perbuatan yang sama seperti saat awal bertemu. Tak lama, bagaikan api kompor yang disulut minyak, dengan senyum tanpa niat berlebih, aku salah memilih lelucon malam itu. Malam dimana semestinya aku memberikan perhatian dan apresiasi lebih atas kesabaranmu, dan menyadari bahwa diri sendiri pun menyimpan aib yang masih ditutupi Tuhan; hingga terlihat di mata masing-masing kita terlihat sempurna dengan sedikit cela, justru malah menjadi akhir dari kisah yang kita jalani selama ratusan hari. Tepat tanggal 8 jam 9 malam, kamu dan kisah kita berubah wujud menjadi nostalgia.

Sekarang, izinkan membuka beberapa hal yang kututup rapat darimu. Pertama-tama, sekali lagi aku minta maaf atas kebodohanku saat tanggal 8 itu. Mungkin memang tak ada alasan logis untuk sebuah ketakutan dan kebencian, termasuk tentang buluk kudukku yang merinding mendengar tiga patah kata rahasiamu. Rahasiaku yang pertama, tentang ketakutanku, kau tahu? Sebelum aku menyatakan perasaanmu dalam mobil di tanggal 25, sempat seorang kenalanku, seorang lawan jenis yang lebih tua mengakui dirinya melakukan hal asusila lalu kemudian dia bergelagat ingin menjadikanku korban berikutnya. Jadilah aku tak ingin terlalu serius dalam menjalani hubungan dengan siapapun, termasuk dirimu. Sayang, hanya karena ketakutan yang sepele, di malam kau buka rahasiamu, mentalku sudah kalah. Seperti halnya pesepakbola yang enggan menendang karena takut disepak dari arah tak terduga. Tidak, malah lebih buruk. Semestinya, aku berkonsultasi ke psikologi terlebih dahulu sebelum menambah jam petualangan lagi.

Rahasia selanjutnya, sekaligus yang terakhir, karena sisanya masih ingin kusimpan dengan sangat rapat, ingin kuakui bahwa akupun adalah makhluk ekonomi yang oportunis, Menjalani hubungan denganmu, yang terbentang jarak antara kota dan kabupaten, pelan-pelan menguras tabunganku. Di akhir tahun 2011, mesin penyimpan uang hanya menunjukkan lima digit. Suatu pengeluaran yang tak pernah terjadi seumur hidup menjadi makhluk konsumtif, hingga setiap minggu ibuku mulai risih setiap kuminta tambahan uang bensin. Semestinya, kalau hari-hari selama kita bersama kuberanikan diri untuk berjualan kue sus setiap pagi, semestinya memacu kendaraan melewati jalan tol bukan lagi hambatan berarti. Tetapi paradoksnya, mungkin kau bertanya mengapa lagi-lagi kubiarkan hatiku kembali mengembara menuju perhentian yang lain? Maka dengan seksama kujawab, semuanya bermuara pada biaya perjalanan. Selain itu, semua teman yang meminjam uangku hampir tak pernah mengembalikan tepat waktu, sebagaimana janji manis mereka dikala memohon bantuan. Hingga detik ini, aku tak sampai hati membu muka rahasia ini, karena kuingat dirimu yang tak pernah begitu jauh mempermasalahkan biaya. Mungkin gilanya diriku, aku tak ingin malu tampil di hadapanmu sebagai orang tak berpunya.

Waktu berlalu, apa kau ingat saat aku diam dengan lidah tak berkelu saat kau akhiri ikatan kita? Tanpa terasa, saat aku lanjutkan studi ke lain benua, kudengar kabarmu naik ke pelaminan. Dari awal, aku terdiam sambil mendoakan agar kau bahagia selalu. Karena sejak tanggal 8 hari itu, aku sudah terima atas akibat dari kebodohanku. Lalu kau bercerita di wajah media sosialmu, bahwa tanggal 25 sempat menjadi suatu kenangan bagimu. Padahal, sebelum aku datang, orang lain pun sempat torehkan luka di hatimu. Aku tak lagi memiliki rasa, tetapi mengapa kau pilih tanggal itu untuk diabadikan? Hingga hari ini, aku terus bertanya, apa yang membuatku berbeda di matamu? Padahal, mungkin saja aku ada dalam daftar sosok-sosok bodoh yang menambah luka dalam perjalanan hidupmu.

Tak terasa, hari ini masih sempat kupantau dirimu. Putramu sudah melewati masa balitanya, lalu kau menjadi seorang ibu yang terus menjaga seisi rumah dan keluarga. Di sisi lain hatiku, di ruang yang sangat kecil, ada sebuah harapan, mungkin lebih sepele dari kuman yang masuk lewat udara: bahwa putraku dan putramu bisa menjadi sahabat dekat, atau paling tidak menjadi junior dan senior yang saling menghargai. Sebagian rahasiaku telah kuungkap, aku berharap mendapatkan sedikit kelegaan tentang apa yang tak kuungkap pada tanggal 8 itu. Tentunya, dengan masih membawa tanya, -tanpa nostalgia, ataupun rasa yang menguak kembali- tentang tanggal 25 yang kau masih ingat.

Dengan hormat,

Salah seorang yang pernah menyia-nyiakan kesempatan karena rasa takut,

B,M.R

Tanggal 3  Bulan Rahasia Tahun 2020

Kamis, 30 Januari 2020

Manuver Pertama Ustadz Salim Mengabadikan Sejarah yang Terabaikan- Sebuah Resensi 'Sang Pangeran dan Janissary Terakhir"

"Pesantren berdiri berabad-abad, untuk membentengi bangsa Indonesia, membentengi umat Islam, dari pengaruh-pengaruh kekafiran dan dari pengaruh-pengaruh penjajah dan penjajahan, Maka, kalau ada kiai, tidak anti penjajahan, maka itu kiai palsu! Kalau santri tidak anti penjajahan, itu santri palsu. Kalau pesantren tidak anti penjajahan, itu pesantren palsu! Kita ini sedang dijajah, nak!" (Kiai Abdullah Hasan Sahal, akhir 2018). 


Siaran ceramah dari salah satu Kiai Sepuh pembina pesantren Gontor itu memang terdengar provokatif dan mungkin menanamkan amarah sebagian orang. Baik amarah terhadap beliau sang penceramah karena ceramahnya dianggap 'tidak menyenangkan', maupun amarah terhadap situasi yang dipompa oleh 'ghirah'  kesadaran tentang epidemi penjajahan dan penindasan yang masih menimpa sebagian bangsa yang ada di muka bumi, salah satunya bangsa kita, yang baru-baru ini merasakan ancaman di Natuna. Saya adalah orang yang mengemban amarah jenis kedua, dimana pidato sang kiai memantik rasa penasaran tentang premis 'santri palsu adalah yang anti penjajahan', yang berkembang menjadi sebuah pertanyaan besar tertanam dalam kepala.


Rupanya, Ustadz Salim A Fillah, salah seorang da'i yang saya kenal sebagai salah seorang pembina masjid Jogokariyan serta pengisi berbagai tausiyah diluar negeri, menyediakan jawaban atas pertanyaan besar tersebut melalui novel fiksi sejarah yang merupakan debut pertama beliau rahimahullah di bidang fiksi. Adalah 'Sang Pangeran dan Janissary Terakhir', karya beliau yang terangkum dalam halaman sebanyak satu koma dua rim ini, yang memaparkan logika-logika serta alur mengapa santri punya andil besar dalam menentukan perjuangan rakyat, yang dalam konteks buku novel ini adalah perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.  Secara lebih luas, novel ini turut menguraikan bukan hanya perjuangan Kesultanan Yogyakarta trah Hamengku Buwono melawan penjajah kolonial Belanda, melainkan juga tentang turut campurnya para bangsawan Turki dan China, kaum rakyat, patih, dan santri dalam salah satu peperangan dan konspirasi terbesar di pulau Jawa di awal abad 19. Sesuai dengan paragraf awal diatas, kaum santri di era kolonial, yang pemikirannya masih cukup lurus, turut banyak berperan dalam memecahkan pemufakatan jahat para pejabat Keraton yang berkhianat, membuat strategi kaum penjajah kocar-kacir, hingga yang paling rutin: mengobarkan semangat rakyat sipil dari berbagai profesi dengan semangat jihad fi-sabilillah.

Cover Depan Novel SPJT


Membaca novel ini memang cukup menguras energi pada beberapa halaman awal. Selain menantang diri untuk beradaptasi dengan diksi-diksi dan istilah Jawa dan Belanda yang banyak diulang dalam kisah ini, ada beberapa ketegangan dan pertumpahan darah yang cukup mengusik adrenalin. Dengan terus terang, maka label 'explicit content: reader advisory' rasanya tak meleset untuk disematkan pada novel ini. Sebagai tambahan, novel ini bergerak dalam pikiran dengan alur progresif, sehingga kadang muncul beberapa detil yang kadang sekilas terlihat remeh, tetapi mengandung peranan besar dalam interaksi tokoh di sepanjang naskah. Dengan kata lain, mungkin harus sesering mungkin menguatkan mata agar tidak ketinggalan detil-detil yang terjadi.

Bagi saya sendiri, mengunyah segala anasir, konflik, percakapan, perwatakan tiap tokoh, dan perawakan hingga ke hati memang tidak instan terjadi. Tetapi, setelah melewati beberapa ratus halaman awal, novel ini berbalik memberikan energi pada saya. Kembali mengingatkan saya akan inti-inti ajaran tauhid, kaidah-kaidah strategi perang kolonial, permufakatan jahat, perang pemikiran, keterkaitan antara etnis dengan senjata daerah masing-masing, hingga haru-biru peliknya cinta dan romansa antar beberapa tokoh yang bentuknya lebih rumit dari segitiga, bahkan segiempat. Barangkali, novel ini memberikan lebih dari yang digambarkan sub-judulnya: "Kisah, kasih, dan selisih dalam Perang Diponegoro." Dengan menyimak serangkaian konflik dan romansa ini, wawasan dan nurani saya seakan mendapatkan 'ghirah' baru dalam menggali pola-pola interakasi yang terjadi di era kolonial.

Novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir (SPJT) ini tak hanya bercerita tentang Pangeran Diponegoro. Alih-alih, justru kisah, lika-liku, dan asal-usul Nurkandam dan Basah Katib, dua bersaudara asal  Turki yang disebut-sebut sebagai salah satu penggerak 'Janissary', barisan tentara kesultanan Turki,  mendominasi novel fiksi sejarah ini. Demikian pula, untuk antagonis utamanya tak hanya berkutat pada para panglima Belanda semisal Van Den Bosch dan Van De Cock, melainkan juga  pengkhianat dalam istana, Patih Danurejo, serta 'anak angkat Kesultanan Yogyakarta' yakni Cao Wan Jie. Bisa disimpulkan, salah satu hikmah dari novel ini adalah suksesnya penjajahan ada karena pengkhiantan orang dalam serta strategi muslihat, sementara gagalnya penjajahan datang dari bersatunya tekad yang dibalut dengan keimanan yang ikhlas dan kompaknya segenap elemen masyarakat mengenali hingga mengendalikan gejala-gejala dan pengaruh-pengaruh penjajahan.

Tokoh-tokoh lain yang turut menjadi kunci dalam rangkaian epos ini, antara lain adalah Nuryasmin-istri Basah Katib, Orhan dan Murad-pengawal setia Basah Katib dan Nurkandam, Siti Fatmasari-putri kedua Danurejo, Kyai Mojo, Gentayu- kudanya Pangeran Diponegoro, hingga Prager-serdadu Belanda yang menaruh hati pada Cao Wan Jie. Dengan adanya tokoh-tokoh ini, interaksi dalam novel SPJT seakan membentuk sebuah ekosistem yang membuat alur cerita lebih kaya. Sedikit bocoran, kata kunci "gudeg" dan "surat Basah Katib" adalah beberapa unsur yang membuat perjalanan epos Perang Diponegoro terisi oleh konflik yang rumit tapi berwarna dan menguak banyak logika yang belum banyak orang sadari.

Seusai membaca ini, saya merasa bahwa kemungkinan besar para pembaca yang mendaras hingga menghayati isi novel ini akan paham beberapa hal: mengapa Pangeran Diponegoro kerap dihujat sebagai fanatik dan radikal oleh kaum penjajah, bagaimana Turki turut mempengaruhi kebudayaan di Jawa, siklus-siklus pengkhiantan dan permufakatan jahat para pejabat pribumi era kolonial, bagaimana 'alam' turut paham siapa yang benar dan salah dalam suatu perang, hingga mengapa keterlibatan para Janissary akhirnya tak tertulis dalam sejarah kebanyakan. Kejutan kecil, memang ada peran binatang buas dalam keberjalanan perang akbar yang terjadi antara 1825-1830 tersebut. Semua akan terjawab dalam rangkaian epos SPJT ini.

Setelah sepuluh hari  membaca SPJT, saya merasa lebih tertarik untuk menguliti strategi perang dan konflik era kolonial bukan hanya yang terjadi di Jawa, tetapi di seluruh pelosok Indonesia. Selain itu, beberapa perwatakan lokasi, tempat, hingga senjata yang ditampilkan turut memicu kembali ghirah saya untuk memahami sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan kebudayaan Islam terhadap 'benda-benda mati', yang kadang kurang menjadi perhatian utama dalam banyak kajian agama. Selain itu, narasi-narasi yang tersaji cukup memantik imanjinasi dan mimpi kembali timbul dari mulai kepala hingga dada, berharap mampu untuk seakurat dan semenarik mungkin menyusun narasi dan naskah untuk pahlawan nasional lainnya-berhubung hingga saat ini hobi menulis masih sangat digandrungi-.

Sebelum mengakhiri resensi, saya hampir lupa bahwa ulasan ini bukan hanya tentang novel SPJT , melainkan juga menjadi wadah untuk menyampaikan kesan dan pesan terhadap Ustad Salim A Fillah.

Yang saya hormati, Pak Ustadz Salim, terus terang saya tidak percaya bahwa ini adalah hasil eksperimen pertama ustadz untuk fiksi. Karena hadirnya buku ini seakan tidak menyisakan 'sisa-sisa proses eksperimen' ataupun 'trial-error' yang berkonsekuensi 'plot-hole'. Kendati dirangkai dalam bentuk campuran antara novel tipe konvensional dan flashback progressive yang cukup sulit dibaca secara cepat,  Ustadz sudah sangat rapi dalam mengemas situasi berikut elemen-elemen semiologi terkait beserta penguraian watak dari para tokoh-tokoh yang terlibat di dalam naskah ini. Barangkali, karya Ustadz yang satu ini akan menjadi salah satu referensi utama dalam menyajikan narasi sejarah yang begitu hidup dan interaktif.

Akhir kata, berikut saya lampirkan keterangan data-data dari buku:


Cover Belakan

Judul                        : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir -

                                   Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro

Penulis                     : Ustadz Salim.A. Fillah

Tebal                        : 632 halaman tanpa lembar index   

Penerbit                   : Pro-U-Media

Tahun Terbit           : 2019

Penyunting             :Irin Hidayat

Pemeriksa Aksara  :M. Shiddiq, P

Layouter                : Romadhon Hanafi dan Arya Muslim


ISBN-978-623-7490-06-7






Tabik,

Salah satu jamaah masjid kantor yang fakir ilmu,

Briantono Muhammad Raharjo

30 Januari 2020.

#semuabacasangpangeran

#sangpangerandanjanissaryterakhir





Rabu, 22 Januari 2020

3 Level Kedisiplinan

Semangat pageeee...
Assalamualaikum wr wb;
Salam sejahtera;
Minggu yang lalu ada kawan yang bertanya kepada saya tentang DISIPLIN. Katanya dia masih sulit mendisiplinkan diri sendiri. Ada tips pak?Saya pikir boleh juga nih kita bicara tentang disiplin. Tidak bermaksud menggurui tapi mari kita coba bicarakan akar penyebab kenapa kita dan orang-orang sekeliling kita gak disiplin atau sulit berdisiplin.
Banyak contoh ketidakdisiplinan. Paling mudah dan terlihat nyata ya yang terjadi di jalan raya. Tiap hari saya ke kantor naik motor. Dalam 45 menit perjalanan dari rumah sampai kantor memang sungguh memprihatinkan. Tidak terhitung banyaknya kelakuan tidak disiplin yang diperagakan saudara-saudara kita di jalan.Menyeberang jalan tidak di tempatnya, mobil-mobil saling serobot tidak di jalurnya sehingga memperparah kemacetan ibukota, dan lain-lain, dan lain-lain. Dan yang paling parah dari itu semua, juara bidang ketidakdisiplinan, kita tahu yaitu para pemotor. InsyaAllah saya pemotor yang tidak masuk kategori itu. Mudah-mudahan pada percaya ya? Kalau gak percaya boleh sekali-sekali saya boncengin ke kantor. Dijamin akan menyaksikan kedisiplinan saya hanya saja tidak termasuk disiplin dalam hal kecepatan. Hehehe tapi itu hoax kok...
Bagi pemotor ibukota kayaknya lebih tepat kita sebut gak ada aturan lalu lintas yang berlaku buat motor, karena hampir tidak ada aturan yang terlewat, semuaaaa dilanggar... Melawan arus, nerobos lampu merah, gak pake helm, motornya gak lengkap, masuk jalur cepat, dan lain-lain, dan lain-lain yang kalau kita sebutkan di sini dua halaman juga nggak cukup.
Yang paling prihatin adalah saudara-saudara kita dalam melanggar peraturan itu (kata lainnya TIDAK DISIPLIN), mereka sepertinya tidak punya rasa bersalah ceroboh dan dilakukan secara BERJAMAAH  ikut-ikutan pula, bersama puluhan orang yang lain. Berarti ada penyebab yang kronis dalam hal ketidakdisiplinan ini dan tentunya tidak boleh dibiarkan makin meluas. Bukan tidak mungkin akan mempengaruhi sektor-sektor lain.
Lalu apa urusannya dengan saya ya? Dengan menulis ini apa saya bisa memperbaiki keadaan itu? "Kalau gak bisa ya jangan bawel", gitu mungkin ya komentar para pemerhati blog?
Bener sih, saya dan tiap masing-masing orang sudah pasti gak bisa memperbaikinya secara langsung, tapi bolehlah kita bertukar pikiran mencari akar masalahnya dan memperbaiki paling tidak untuk diri kita sendiri dan lingkungan yang dalam kontrol kita, misal lingkungan pekerjaan. Harapannya fenomena ketidakdisiplinan itu tidak menular ke lingkungan kita baik di keluarga maupun di pekerjaan kita.
Apa sih arti disiplin? Disiplin berarti melaksanakan secara sungguh-sungguh dan konsisten values atau nilai-nilai yang kita yakini atau yang menjadi kewajiban bagi kita. Nilai-nilai itu bisa yang ada di diri kita sendiri seperti agama, keyakinan-keyakinan, rules yang kita tetapkan sendiri karena kita yakini itu baik, dan lain-lain. Juga nilai-nilai dalam keluarga, dalam masyarakat, agama dan negara. Salah satunya adalah peraturan-peraturan lalu lintas yang kita jadikan contoh di atas merupakan salah satu nilai yang harus kita taati.
Menurut saya ada 3 tingkatan orang berdisiplin.

Disiplin Level-1, karena Takut Hukuman
Kita berdisiplin, melakukan perintah, menjauhi larangan, mentaati peraturan, hanya karena takut dengan HUKUMAN atau konsekuensinya. Level ini kalau di bangku kuliah setara dengan nilai C. Lumayan daripada gak lulus dapat D atau E yaitu nilai bagi para pelanggar peraturan baik masuk kategori ringan atau berat.
Ciri Disiplin Level-1 seperti apa? Mudah saja, karena takut dengan hukuman, maka kalau tidak ada atau tidak dilihat pihak-pihak yang bisa menghukum, maka kita cenderung melakukan ketidakdisiplinan atau pelanggaran.
Kita nyerobot lampu merah, melawan arus dan lain-lain karena yakin gak ada polisi yang sedang bertugas di situ atau memang selama ini setahu kita tidak pernah ada polisi di situ atau ada polisi tapi beliau-beliau tidak pernah melakukan penindakan. mungkin kasihan sama kita karena tampang kita sudah memelas dari sononya. Atau polisi dan orang-orang sudah frustrasi dengan para pelanggar, karena kalau ditegur malah galakan para pelanggarnya. Penegurnya malah dipelototin dan di-marah-marahin. Pusing yak...
Friendly speaking, penegakan hukum dengan penerapan hukuman yang konsisten sebenarnya sangat membantu untuk menegakkan disiplin pada awal-awal era penerapannya. Setelah semua orang aware harusnya dengan sendirinya akan menjadi budaya.
Walaupun demikian, sebagai leaders, kita harus hati-hati menerapkan disiplin dengan model "pemaksaan" seperti ini karena tidak selalu efektif.
Di lingkungan pekerjaan, penerapan disiplin dengan hukuman yang tegas biasanya diberlakukan untuk pekerjaan yang memiliki resiko tinggi, misal resiko keselamatan kerja seperti pekerjaan di plants, outdoor dan lain-lain. untuk pekerjaan kantoran lebih banyak dituntut kesadaran pribadi untuk berdisiplin.

Disiplin Level-2, Diri Sendiri
Level kedua ini nilainya B, di atas dari level sebelumnya. Paling tidak, karena di level ini seorang individu tidak perlu "ditakut-takuti" dengan hukuman. Pendek kata orang berdisiplin karena kesadaran dan kemauannya sendiri, baik patuh terhadap aturan atau values-nya sendiri maupun values masyarakat atau negara yang jadi kewajibannya.
Contoh paling kecil dan sederhana tentang patuh kepada diri sendiri misalnya program diet untuk upaya hidup lebih sehat. Perlu kedisiplinan untuk melakukannya dengan baik tapi merupakan urusannya dengan diri sendiri dan bersifat pribadi.
Contoh yang lain, ketaatan kita dalam melakukan ibadah ritual dalam agama kita. Gak ada paksaan kan? Tapi kita melakukannya dengan konsisten.
Untuk urusan ibadah dalam muamalah lain lagi. Lain kesempatan akan dibicarakan. 
Kita sebagai leaders, di keluarga maupun di kantor, punya kewajiban menanamkan dan memperkuat disiplin pribadi ini di lingkungan yang menjadi tanggung jawab kita. Tidak boleh capek untuk saling mengingatkan.

Disiplin Level-3, tumbuh dari Respect dan Berpikir Lebih Jauh
Level ini InsyaAllah rasanya jauh lebih punya impulse daripada dua level sebelumnya. Di Level-3 orang tidak melanggar aturan atau tidak melakukan tindakan-tindakan indisipliner karena adanya RESPECT atau rasa hormat kepada orang lain, lingkungan, aturan dan bahkan ajaran agama dan keyakinannya.
Nilainya setara A, lulus dengan sangat bagus karena selain self dicipline juga sangat dikuatkan dengan respect yang merupakan interaksi dengan orang lain.
Contohnya mungkin lebih mudah masih tentang lalu lintas tadi. Orang lain ramai-ramai nyerobot lampu merah kita tetap berhenti dengan tenangnya di belakang garis menunggu lampu hijau. Jadi manusia aneh? Ya biarin aja. That's what we called cool. 
Kenapa bisa begitu? Itu semua karena kita meyakini bahwa kalau kita nyerobot bisa berbahaya bagi kita dan orang lain dan dengan melakukan itu sadar atau tidak, ada hak orang lain yang kita cederai. Di samping itu pada level ini dipastikan sudah tertanam values dalam diri kita bahwa peraturan itu dibuat demi kemaslahatan umat dan kebaikan bersama.
Di tempat kerja contohnya kita tidak pernah terlambat menghadiri undangan rapat apalagi kalau peran kita sangat diharapkan dalam rapat itu. Bisa begitu? Apa karena ada kenclengan denda 100 ribu bagi yang terlambat hadir rapat seperti yang dulu berlaku di CFU WIB dan NITS? Tidak karena itu. Pendorongnya adalah keyakinan bahwa pada setiap menit rapat tertunda karena menunggu kita, terdapat kerugian para peserta rapat yang sudah hadir tepat waktu.
Apa berdosa kalau kita telat? Saya yakin kita berdosa karena telah berbuat tidak adil atau dholim dalam urusan muamalah.
Contoh lain yang baik misalnya kawan-kawan tidak pernah terlambat datang ke kantor walaupun kita tahu sudah tidak ada lagi sistem absensi menggunakan jam ceklokan seperti jaman saya dulu atau pada era berikutnya agak lebih canggih dikit menggunakan sistem absensi pemindai sidik jari. Boss-boss kita sudah percaya kepada kita makanya beliau-beliau menghapuskan sistem absensi. Buat kantor lumayan gak perlu capek pembelian sistem absensi, buat kita lebih enak karena pada jam pulang gak perlu antri di ceklokan absensi.
Lebih dari itu, kita patut berterima kasih karena sudah dianggap dewasa dan thrusted, sudah disiplin dengan kesadaran sendiri karena respect kepada kantor dan kepada kawan-kawan lain yang membutuhkan hasil kerja kita.
Case para pelanggar aturan di jalan yang tidak merasa bersalah dan ngeyel kalau ditegur, adalah salah satu akibat tidak adanya RESPECT dan lemahnya interaksi lingkungan dan keluarga dalam konteks disiplin. Kita nggak begitu kan?
Maka bila ada di antara kita, saudara atau anggota yang berperilaku begitu, wajib bagi kita untuk amar ma'ruf nahi munkar, menyeru kebaikan, melawan kemungkaran. dengan tangan, dengan mulut atau selemah-lemahnya iman, dengan hati. Paling tidak, kita sendiri harus disiplin dulu, mencapai Level Dua. Begitu lah kira-kira.
Kita harus sadari bahwa setiap langkah kita bisa merupakan teladan bagi orang lain, apalagi bagi keluarga dan posisi kita dituakan dalam keluarga itu.
Mungkin orang tidak menyadari dengan memboncengkan anaknya naik motor ke kantor kemudian dia melawan arus, melabrak lampu merah, grusah-grusuh, itu merupakan bagian dari ajaran-ajaran kita tentang disiplin kepada generasi penerus. Perilaku kita itu akan meresap ke alam bawah sadar anak-anak dan mereka merekam tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan yang legal, wajar, boleh dilakukan. Ngeri bukan?
Oleh karena itu pendidikan tentang respect kepada orang lain, respect kepada aturan, janji, komitmen dan lain-lain sangat penting ditanamkan kepada keluarga kepada anak buah dan lingkungan. Setiap masing-masing dari kita, disadari atau tidak, adalah role model. Tingkah laku kita diperhatikan lingkungan dan mempengaruhi tingkah laku orang lain.
Respect atau rasa hormat, saling menghargai adalah penghulu dari disiplin dan sikap-sikap positif lainnya. Hayo saling menghargai....
Wallohu'alam bishshawab
Wassalamu’alaikum wr wb

Agar Ide Selalu Mengalir dalam Kepala

Agar ide di kepala selalu mengalir:
1. Pertajam panca indera anda. Apa yang dilihat, dirasa, diendus, didengar, dikunyah adalah ide dengan taburan bahasa.
2. Amati segala di sekeiling, kalau ada yang unik di catet. 5w 1h
3. Mentok nyut2an silakan, tapi jangan nyerah. Idea is everywhere, even when you see empty sky.
4. Coba sesuatu yang baruyang penting baik,, belum pernah dilakonin. Entah dimarahin atau didamprat, you got something new in the end. . Jalan dan jalan, perbanyak piknik
5. Catat apapun, rangkai kemudian. Semoga ketemu asosiasi bentuk wc leher angsa dengan baso beranak.
6. Mau bahasa kaya gimanapun, omongin dan tuliskan ide tersebut. Mumpung mimpi masih gratis. Kalau beli obat tidur bayar
7. Tingkatkan perlahan, sedikit demi sedikit, edit ketika udah beres idenya.
8. Pede aja, kalau dapat sesuatu ya hargai diri sendiri sebagai pencapaian.
MANTAP KAN?

Minggu, 19 Januari 2020

Qiyas Menyeimbangkan Kehidupan

Jadilah pendamai, namun jangan jadi permisif, karena pohon rindang pun butuh akar untuk berdiri, agar tidak goyah dihempas angin, maka manusia pun butuh pijakan, agar mampu bedakan teman baik dan buruk.
Jadilah lemah lembut, namun janganlah kau merendahkan diri. Kail yang menarik ikan meski lentur, tetaplah tidak mudah bengkok. Maka jadilah orang lemah lembut yang lentur tapi teguh memegang prinsip.
Jadilah kau orang yang teguh tapi jangan sampai menindas. Pedang dan tombak yang tajam punya gagang agar mereka bisa dipegang, maka janganlah keteguhan soal nilai menjadikanmu jadi tertutup dan memandang rendah yang lainnya, tetaplah jadi yang bisa diandalkan dan terpercaya.
Boleh saja waspada, tapi jangan sampai penuh prasangka. Masakan sup matang dengan panas kompor yang tepat, tapi meleleh bila dipanaskan terlalu lama. Jangan buat dirimu susah dengan terlalu banyak menebar curiga.
Boleh saja punya harapan, tapi jangan terhenti jadi khayalan, yang kelak hilang lalu lalang jadi fatamorgana . Mencapai langit pun kamu butuh pesawat, jadi segera bangun pesawatmu biar harapanmu lekas dipeluk
Maka kamu sesekali berhak untuk percaya diri, tapi jangan sombong. Sekuat-kuatnya batu karang, rubuhlah ia karena dihantam ombak yang halus. Sombong hanya jadikan dirimu kerdil karena tidak semua kepercayaan dirimu hasil daya upaya mu sendiri.
Dan itu adalah hakmu untuk jadi pencair suasana bagi sekitarmu, tapi jangan membuat mereka terlena, ataupun lupa mereka berbeda batas kesabaran denganmu. Seimut-imut kelinci, kaki mereka kuat untuk meloloskan diri dari elang. Maka janganlah kau terlena ketika kau mampu jadi penghibur, sehingga tiba-tiba kamu terperangkap dalam leluconmu yang tidak selalu menyenangkan bagi yang lain.
Kamupun berhak untuk kecewa, tapi jangan menabur dendam. Kembang api memang indah , tapi hanya bila kau lempar ke langit, bukan ke segala arah. Maka simpanlah kecewamu , salurkan padaNya, lalu pada orang yang kau percayai, biar kecewamu tak jadi arus dendam membinasakan .
Maka kamu berhak untuk menjadi bijaksana, tapi sesekali luangkan waktumu untuk bercanda. Bahkan bambu yang mengalirkan air mengikuti alirannya, agar ia tak tenggelam karena beratnya. Maka janganlah kau batasi dirimu lantaran kau rasa dirimu berilmu,sejenak buka sekat pikiranmu dan jadilah sosok luwes yang bersahaja.
(Source: Rendy Saputra " Simposium Kepemimpinan 8 Januari, the idealist)

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...