Senin, 09 Desember 2019

Refleksi Jermal

Apakah yang sering terbayang di benak kita bila disebut kata "laut"? Barangkali, imajinasi akan mengarah pada rekreasi, bersantai di pantai, hingga meresapi ombak yang menyapa permukaan pasir.
Sampai-sampai, muncul istilah seperti "vitamin sea", seolah-oleh memang berkunjung ke laut menjadi nutrisi. 

Kendati demikian, laut juga menyimpan sisi kelamnya. Diantaranya (mohon maaf) menjadi titik rawan tsunami, abrasi air laut, atau sekedar angin laut yang membadai. Maka, menjalani kehidupan dengan berkutat pada lingkungan laut seringkali bukanlah rutinitas yang mudah dijalani. Selain karena sisi kelamnya, laut adalah tempat persaingan hidup yang kadang menguras akal sehat: menjaga kesegaran ikan-ikan untuk menyambung nafas, menantang ganasnya angin laut, atau sekedar suara ombak yang kadang tak ramah di telinga. 

Diantara serpihan-serpihan kejadian yang potensial terjadi di laut, acapkali muncul kisah manusia yang dibalut tragedi, kegetiran, atau kenangan yang muncul ke permukaan. Saya pernah menyaksikan bagaimana ketegangan seseorang yang dikejar hiu di sepanjang pantai, atau berlomba-lomba menyelamatkan diri dari terkaman ombak pelumat. Diantara sebagian risiko-risiko yang terkandung dalam latar kehidupan laut, saya terkenang satu film menengangkan yang agak unik: Jermal.
Image result for jermal
Jermal, salah satu tempat penangkaran

Film ini mengetengahkan kehidupan yang terjadi di Jermal. Sekedar berbagi pengetahuan, Jermal adalah sebuah tempat untuk menjaring ikan yang dibuat dari kayu-kayu dan berada di tengah laut. Di wilayah ini, seringkali juga terdapat anak-anak dibawah umur yang dipekerjakan untuk menjaring ikan atau buruh nelayang dengan gaji dibawah rata-rata. 

Kisah layar perak yang disutradarai oleh Ravi Bharwani, Rayya Makarim dan Utawa Tresno ini , selain banyak menguraikan tentang kehidupan orang yang hidup dan sehari-harinya bergantung pada lingkungan sekitar Jermal, tayangan sekitar satu setengah jam lebih ini menyorot pada hubungan antara ayah dan anak yang sudah lama terpisah. Ketika sang anak bertemu, ayah yang sedikit lupa ingatan tak segera mengakrabi anak tercintanya. 

Film ini saya sempatkan untuk ditonton, berhubung pernah mengikuti lokakarya peran yang dibimbing oleh Almarhum Uwak Didi Petet. Riri Riza, yang waktu itu turut menjadi pemateri di lokakarya Salman yang saya ikuti, kerap mengklaim bahwa Jermal adalah film uwak Didi Petet yang paling gelap. Pada sebagian besar tayangan, mungkin penonton akan melihat pemandangan dan pendalaman masalah kejiwaan yang intens saat disuguhkan latar laut minim cahaya matahari. Jadi lupakan dulu slogan vitamin sea saat menonton ini. 

Jaya (Iqbal Manurung) yang ibunya baru saja meninggal pergi menuju jermal, sesuai pesan terakhir ibunya,  untuk bertatap muka sang ayah, Johar (Didi Petet) yang sudah 12 tahun tidak pernah pulang karena sedang bersembunyi atas tindakan kriminal yang dulu pernah dia lakukan. 

Tapi sesampainya disana Jaya malah mendapati hal-hal yang tidak menyenangkan. Sang ayah merasa tidak mau mengakuinya dan hubungan mereka sangatlah canggung bahkan cenderung kearah permusuhan. Selain itu Jaya juga mendapat perlakuan yang tidak pantas alis di-bully oleh anak-anak yang tinggal di jermal. Tapi lama kelamaan Jaya mulai bisa beradaptasi dan berusaha mengetahui masa lalu apa yang disembunyikan sang ayah. Johar sendiri mulai mencoba menerima keberadaan Jaya walaupun itu tidak mudah baginya dan Jaya.


Image result for jermal
Jaya dan Johar, tidak saling akrab di awal, namun saling mencoba bertahan hidup
Jaya memutuskan untuk mengambil nasib ke tangannya sendiri. Dia berharap akan diterima dan belajar keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk bertahan hidup di jermal. Tidak begitu jelas mengapa Jaya (Iqbal S. Manurung) mau mengikuti Bandi (Yayu A.W. Unru), seorang tukang masak disebuah Jermal. Yang pasti Bandi tahu asal-usul Jaya sebagai anak dari Johar (Didi Petet), pengawas jermal dimana Bandi bekerja. Johar ini sudah 12 tahun tidak pernah turun ke darat karena masa lalunya yang kelam. Dan diakibatkan dari masa lalunya itu menyebabkan ia menafikan kehadiran Jaya.

Waktu menempa Jaya semakin menjadi seperti anak-anak lain: seorang yang tangguh namun kasar, sedangkan Johar terpaksa bertahap menghadapi dan menerima masa lalunya. Akhirnya, baik Johar maupun Jaya belajar bahwa mereka terikat oleh masa lalu mereka, bersatu dengan ruang di mana mereka berada, serta terhubung oleh kebenaran yang tak terhindarkan.



Image result for jermal
Jermal, disuguhkan jadi materi Lokakarya setelah 5 tahun rilis
Latar Jermal yang berlatar pantai kembali membawa ingatan saya menuju liburan ke Lombok beberapa tahun silam. Kendati pantai yang mengelilingi pulau dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat itu jernih, tak terhitung beberapa kali  mata ini tersita untuk memandang toko-toko serta tempat penampungan ikan yang tersebar di sepanjang pantai. Sesekali syaraf dalam otak mengajak berpetualang liar: bagaimana jika sehari-hari saya menyambung nafas di sana? Barangkali saya sudah berkarir menjadi pengrajin dan setiap hari berkutat di laut. 

Tetapi itu adalah pemikiran ketika lulus sarjana S1, berbeda saat Riri Riza dan Didi Petet memutarkan slide show trailer film ini dalam lokakarya yang saya ikuti selang setahun kemudian. Lebih eksplisitnya, jermal-jermal yang menyusun jalan-jalan pantai itu adalah saksi bisu perbudakan anak-anak dibawah umur. Saya pun mulai berpikir ulang, bahwa bagi sebagian orang, laut ternyata tidak 'mengandung' vitamin.
Jikalau sepasang mata ini terus mengikuti pergerakan para tokoh dalam film ini, akan terasa bahwa trio sutradara Ravi, Rayya, dan Utawa cukup kritis dalam membungkus fenomena kerasnya para penduduk yang terbiasa dengan mata pencaharian yang terkait dengan jermal, dengan kemasan drama ayah-anak. Jadi, jikalau bisa didefinisikan, maka film ini adalah drama pencarian jati diri dengan latar laut. 

Sepintas, lantaran Jaya memiliki usia menjelang remaja, kemungkinan penonton akan membandingkan film ini dengan Laskar Pelangi. Tetapi realita hidup tak selamanya linear, begitupun perjalanan hidup setiap manusia. Meski sama-sama mengetengahkan kehidupan manusia yang dimarginalisasi, akhir dari Jermal menyisakan tafsir kehidupan yang masih menjadi misteri, sekalipun antara Jaya dan Johar sudah mau saling menerima di bagian klimaks film. Maka, saya tak ragu menggolongkan film ini sebagai drama-thriller. 

Kendati tak secerah Laskar Pelangi, rasa bosan tak akan terasa ketika meresapi tayangan sekian puluh menit ini, lantaran bahasa yang dipaparkan terurai sederhana, baik secara visual maupun verbal. Film ini menitik beratkan pada adegan-adegan yang sifatnya visual, sehingga penonton akan lebih banyak mengunyah adegan dalam bentuk gestur ketimbang dialog. 

Sama seperti halnya Ziarah yang mengisi tahun 2017, para pemeran Jerman bukanlah para aktor profesional diluar Didi Petet. Aslinya, mereka adalah anak-anak yang direkrut dari berbagai lokasi dan tempat di sekitar Medan. Mencengangkannya, tanpa referensi akting, para aktor remaja ini bisa tampil dengan alami, hingga bisa mengimbangi pembawaan Didi Petet di film ini. Sebaliknya, justru mendiang Uwak Didi Petet yang mencoba berusaha membawakan dialek khusus penduduk pantai, untuk berbaur dengan para pemain 'alamiah' ini. 

Berangkat dari film Jermal, barangkali latar alam lain juga menyimpan kengeriannya. Tetapi bukan hanya karena kejadian alam, melainkan kerumitan manusia turut ikut menjadi kegamangan di dalamnya. Mengakhiri sesi ini, saya ingin mengutip kalimat dari sebuah fanpage instagram:

Mencintai alam jangan hanya soal keindahannya. Memahami alam berarti juga memahami kekejaman yang tersembunyi di baliknya. Suatu hal yang sulit untuk mencintai alam tanpa mengenali kekejaman yang ada di baliknya

Minggu, 08 Desember 2019

5 band Indonesia paling ideal paling ideal menurut seorang Briantono

Hampir dua puluh tahun berlalu, sejak pertama kali saya kenal rasanya bermain musik. Dari mulai memenuhi kewajiban orang tua untuk les piano, beralih selera ke gitar, lalu akhirnya mendalami drum set dan gitar bas lima senar ada banyak pengaruh yang terserap ke gendang telinga lalu turun ke syaraf  Sebagaimana dalam belajar matematika, kita memahami logika berpikir dengan meniru seorang guru diluar waktu untuk memahami buku teks, dalam bermain musik ada pula artis yang kita tiru sedikit atau banyak dalam menyusun bakat permainan kita.

Saya adalah seorang penyuka musik keras, tapi juga perlu kejelasan atas melodi dan lirik. Sesekali saya pun butuh musik yang lembut dan menyentuh, tapi bukan yang mendayu-dayu larut dalam mengemis cinta dan curhat berlebihan tentang kehilangan arah. Maka, selera musik yang selama ini memuaskan hati seorang Brian bisa dirumuskan sebagai berikut:

a. Musiknya cadas, melodinya jelas terdengar, menjurus pada pemakaian nada-nada simfoni klasik.
b. Lirik sedikit tersirat, menggambarkan pemandangan alam, tidak klise,
c. Perlu solo gitar, solo drum, solo bass, yang intinya menonjolkan kemampuan musik para personelnya.
d. Soundnya rapat, sesuai konteks, jernih, tidak timbul-tenggelam.
e. Silakan nyanyi full teriak, tapi sesekali diiringi pengucapan lirik dan pitch control yang jelas.

Berdasarkan beberapa kriteria di atas, alam bawah sadar saya seakan sudah melekat dengan sosok-sosok band berikut. Semua bermula dari telinga, penasaran akan video clip, lalu turun ke hati. Berikut 5 band terbaik dari Indonesia:


5. Utopia

Satu-satunya band diantara lima daftar ini yang punya vokalis wanita, Pia. Band ini memang tak terlalu punya banyak stok lagu seperti cokelat ataupun pernah terlibat dalam pembuatan reka ulang lagu kebangsaan. Tetapi, band utopia ini cukup eksperimental, mencoba menyeimbangkan antara akustik dan full-band. Beberapa kali, mbak Pia selaku front-woman dari band beraliran pop rock progresif ini acapkali terlihat solid membunyikan gitar sambil menyanyi.

Setiap kali band ini dulu tayang di ANTV ataupun GlobalTV, biasanya saya pasti tonton sampai habis. Cukup beragam tema yang mereka bawakan, diluar cinta, sebagiannya tentang harapan, kebencian, balas dendam yang anggun, yang berlirik tersirat susah dicerna tapi puitis. Pada beberapa kesempatan, saya melihat antara Utopia dan Cokelat seperti "sepantar". Akan tetapi, entah kenapa saya melihat Pia dan tiga orang teman band-nya seperti punya skill yang hampir seimbang, manakala Kikan lebih fokus menyanyi dan membuat lirik sementara semua sesi instrumen cenderung diserahkan pada personil lain.

Image result for utopia band
Utopia, beranggotakan 4 orang personel, dengan Pia sebagai vokalis utama yang satu-satunya wanita. 

Mohon maaf, ini termasuk selera saya. Mungkin, bagi sebagian kalian, Utopia tidak terlalu energik seperti Cokelat. Tapi saya acungi jempol untuk keberagaman tema lagunya. Jikalau mereka konser kembali, saya siap menghabiskan suara untuk ikut bernyanyi "Antara Ada dan Tiada" dan "Mendekati Matahari."

4. Netral

Tadinya, saya ingin no.4 ini diisi barisan Kapten, Kotak, Jamrud, ataupun Samson. Kenyataannya, 3 orang pria yang semuanya nyentrik ini selalu membawa perubahan signifikan setiap tahunnya. Saat ini, mereka terhitung sebagai salah satu band yang produktif berkarya, dalam hitungan saya. Hampir setiap album Netral, ada lagu yang saya hafal.


Image result for netral
Netral, salah satu band yang selalu tumbuh dalam progresi musiknya. 
Pada awal kemunculannya, Netral memang nyaris serupa dengan band punk anak muda kebanyakan. Adalah Om Bagus, Om Coki, dan Om Eno, 3 ksatria punggawa band yang biasanya mengusung tempo cepat dalam permainan mereka. Di awal kehadiran mereka, saya menyangka band ini akan mengusung punk yang biasa saja, cenderung mirip seperti blink 182, sum 41, Weezer, atau New Found Glory. Tak pelak, saya pun lebih senang mendengar Superman Is Dead dengan lirik yang lebih berani dan musik yang garang.

Tetapi begitu album mereka yang berjudul "Putih" rilis, saya merasa bahwa punk pun bisa disajikan dengan rapi tersusun dengan lirik yang lebih positif dan puitis. "Terbang tenggelam" menjadi salah satu track yang sering saya mainkan drumnya. Kelar mendengar album putih, saya pun mulai menyimak 9th, hingga album ke-12nya. Kualitas album ke-12 Netral pun semakin jauh dari kesan band punk biasa, dimana Om Eno mulai bermain irama yang lebih progresif, sementara Om Coki semakin menunjukkan kepiawannya meramu melodi dan kocokan gitar yang tidak biasa. Tak lupa, Om Bagus pun semakin meninggalkan kesan lirik pasaran di album yang sudah mencapai angka belasan.

3. Kerispatih

Kerispatih bisa jadi adalah salah satu tujuan idaman bagi para musisi yang menempuh pendidikan formal. Terisi oleh para guru yang biasa memberikan kursus, band ini mengusung nomor-nomor progresi lagu romantis yang dikemas rapih. Beberapa kelebihan Kerispatih adalah bisa mengusung komposisi-komposisi yang rumit diterjemahkan menjadi pop romantis.

Image result for kerispatih
Kerispatih posisi terakhir, sebelum vakum ditinggal 
Beberapa sosok mencolok dari grup band ini antara lain adalah Badai sang keyboardis, Anton sang drummer, dan mantan vokalis mereka, Sammy. Begitu Sammy terjerat narkoba, band ini seperti kehilangan daya tarik. Tapi tidak bagi saya, Ketika mereka mendapat vokalis baru, Kerispatih tidak lantas turun 'derajat' seperti band pop kebanyakan yang ditinggal personal-personel kunci langsung dominan pada pembuatan lagu-lagu klise.

Image result for bassist kerispatih meninggal
Andika, telah lama berpulang. Betotan basnya cukup berpengaruh. 
Beberapa tahun belakangan, band ini nampaknya sedang tak terlalu sibuk di dapur rekaman. Kabar pahitnya, sang bassis sudah meninggal dunia karena serangan jantung. Kendati demikian, karya-karya Kerispatih adalah wujud komposisi harmoni kompleks  yang tersaji dalam perjalanan aransemen romantis. Siapa disini yang mau ikut karaoke "Bila Rasaku ini Rasamu?" :P

2. God Bless.

God Bless bukan hanya sekedar band senior tanah air. Lebih dari itu, band yang dipimpin Ahmad Albar dan Donny Fattah ini adalah "guru"dari banyak band tanah air. Tak terhitung berapa kali lagu-lagu mereka menjadi anthem yang dinyanyikan banyak artis. Awalnya, saya mau menaruh gigi sebagai no. 2. Namun, saya ingat bahwa Gigi yang menampilkan banyak variasi dari rock adalah murid 'ideologis' dari band raksasa ini.

Salah satu ciri khas band dengan penggemar yang sangat banyak ini adalah hasil gubahan keyboard Eyang Jockie Suryoprayogo, beserta gitaris pakar harmoni, Pakde Ian Antono. Sempat beberapa kali God Bless digawangi oleh Uwak Eet Sjahranie, tetap punya ciri khasnya sendiri. Hingga hari ini, lagu-lagu God Bless seakan mewakili masalah masyarakat yang masih sama dari tahun ke tahun.

Nomor andalan God Bless sempat saya bawakan untuk festival band. Alhasil, juara 2, alhamdulillah. Tembang yang kami bawakan saat itu adalah "Semut Hitam", bercerita tentang metafora antara manusia dan semut dalam bertahan hidup. Bisa disimpulkan, hampir setiap tembang yang dihasilkan oleh God Bless punya makna yang bertahan dalam kepala penggemarnya bertahun-tahun. Itulah mengapa band ini patut disebut sang Legenda.


1. Padi

Bukan termasuk band senior. Kuartet lima pria yang muncul di pertengahan 90 ini selalu punya formula unik dalam menciptakan lagu. Banyak tembang mereka sangat laku di pasaran, lantaran isi liriknya begitu mendalam. Sebut saja "bayangkanlah," "Mahadewi", "Semua Tak Sama", dan banyak tembang lainnya.

Begitu menginjak album ke-2, Padi telah menerapkan banyak formula musik yang eksperimental untuk ukuran sebuah band rock. Album mereka yang ke-5, sukses mengawinkan reggae, swing, dan colossal menjadi ruh dalam tembang yang dibawakan.  Sampai sekarang, saya masih fasih menyanyikan lagu sang penghibur atau "bayangkanlah" jikalau diminta bermain musik.

Apa yang membuat sebuah band menjadi besar, nyatakan bukanlah hanya persoalan kemampuan dan rekaman, tetapi juga tentang jiwa besar yang melatarinya. Band ini terdiri atas lima orang yang sama sejak awal berdiri hingga vakum terakhir, membuat mereka menjadi teladan banyak band dalam mengikuti sikap mentalnya. Drummer dan gitaris mereka sempat kecanduan obat, tak menyurutkan semangat kelimanya untuk bermain musik bersama.  Barangkali, padi adalah sebuah contoh bagaimana band bisa menjadi sebuah keluarga, diluar rutinitas bertukar nada.


Itulah hasil menggali selera saya, bagaimana dengan kalian?

Dengan hormat,

Briantono

Refleksi Ziarah

Ziarah ini bukanlah film yang diisi aktor populer. Akan tetapi, film ini adalah salah satu karya anak bangsa yang telah memenangkan beberapa festival film di dalam dan luar negeri. Tayangan sepanjang 90 menit kurang ini adalah sebuah sintesa dari 2 tema besar: mewujudkan kerinduan dan mengenang jasa para pahlawan. 

Film ini dibuka dengan sayup-sayup terdengar “sangkan paraning dumadi” yang dalam terjemahan bebasnya berarti "asal dan tujuan hidup", di mana kita berasal dan kembali. Dari judulnya saja sudah dapat kita terka, film ini tidak akan jauh-jauh dari hal yang berbau kematian. Sekilas memang benar, namun tidak diilustrasikan secara eksplisit, lebih tepatnya bagaimana memaknai perjalanan hidup dalam menanti maut sebagai ujungnya. 

Dikisahkan Mbak Sri (Ponco Sutiyem) yang sudah berusia renta menghabiskan waktu di sisa hidupnya. Sewaktu mudanya ia ditinggalkan suaminya berjuang untuk menghadapi penjajah Belanda pada Agresi Militer ke-2 pada tahun 1948. Suaminya berpesan akan berjuang, jika selamat ia akan kembali padanya, dan bila tidak mohon direlakan bisa jadi ia gugur dalam peperangan.

Sekian lama menunggu,  suaminya tersebut tidak pernah kembali dan tidak ada beritanya. Sesuai dengan pesannya, Mbah Sri menganggap suaminya sudah gugur. Maka dari itu, Mbah Sri pun cukup mengunjungi gundukan tanah dengan bambu runcing berbendera merah putih sebagai makam suaminya. Tujuannya adalah untuk berziarah mengenang suaminya tersebut.

Namun, suatu ketika ia bertemu dengan veteran yang masih hidup dan menceritakan di mana suaminya itu tertembak. Dari informasi yang serbatanggung itu akhirnya Mbah Sri menelusuri tempat yang dimaksud tersebut. Harapannya adalah bisa menemukan makam suaminya, dan kemudian akan dimakamkan di sebelah pusara suaminya ketika sudah meninggal kelak.

Selagi hidup, keinginan harus diperjuangkan. Tanpa kenal lelah Mbah Sri menelusuri beberapa daerah, menanyakan kepada tokoh yang masih hidup dan para pejuang untuk menemukan informasi yang utuh. Pencarian terus dilakukan, hal itu yang juga membuat repot cucu lelakinya Prapto (Rukman Rosadi) yang akhirnya mencari neneknya yang pergi tanpa pamit itu.      
Dengan gigihnya Mbah Sri terus mencari. Ia hanya berbekal nama suaminya Pawiro, foto pun tidak ada. Ada titik terang dengan informasi sesama pejuang bahwa ada nama Pawiro yang berada di sebuah daerah pelosok. Mbah Sri pun terus menelusuri tempat tersebut. Info yang didapat ada makam yang bernama Pawiro. Dengan pantang menyerah, Mbah Sri mengunjungi tempat yang dimaksud. Namun sial, ternyata setelah didatangi, makam tersebut sudah tergenangi waduk program pemerintah..
Mbah Sri mendapatkan kejelasan tentang suaminya dari seorang veteran. 
Akhirnya Mbah Sri hanya bisa pasrah. Ia pun cukup nyekar dengan bunga yang ditabur di waduk yang diyakini ada makam suaminya. Ia pun kembali ke rumah dengan dijemput cucunya. Dan “suasana” normal kembali.

Tidak dinyana suatu hari ada informasi bahwa ada makam yang bernama pejuang Pawiro. Dan akhirnya Mbah Sri pun melakukan perjalanan kembali untuk menemukan makam suaminya tersebut. Beberapa tempat sesuai info ditelusuri. Secercah harapan pun kembali hadir, dengan makam bernama Pawiro. Namum, setelah ditelusuri jejak masa lalunya tidak sama dengan suaminya tersebut, kesimpulannya pun didapat bahwa makam itu bukanlah yang dicari selama ini. 


Film ini akan lebih banyak bercerita tentang perjalanan Mbah Sri menyusuri lembah, gunung, perbukitan, dan berbagai bentang alam di pelosok-pelosok desa.
Dalam perjalanan panjangnya, ia akan bertemu dengan orang-orang yang yang tengah berdialog tentang tanahnya, orang-orang yang memperjuangkan tanahnya, dan orang-orang yang tersingkir dari tanahnya.
Perjuangan Mbah Sri pun tak pupus. Beberapa saksi yang ditemui meminta info lebih spesifik. Untuk lebih jelasnya, Mbah Sri memberi info yang lebih utuh, memberikan nama lengkap suaminya Pawiro Sahid.
Penelusuran terus dilakakukan. Dan ternyata tidaklah sia-sia, mbah Sri berhasil menemukan makam dengan nama Pawiro Sahid. Dan tidak diragukan lagi bahwa inilah makan yang dicari-cari selama ini sebelum nanti usianya usai. Penonton pun bernapas lega, namun ternyata cerita belum usai. Ada dua makam yang identik bersebelahan, hanya beda nama yang satu bertuliskan Ki Pawiro Sahid dan satu lagi Nyi Pawiro Sahid. Akhirnya kita menahan napas, apakah arti semua ini?

Bagi mbah Sri, perjalanannya mencari makam sang suami ini tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri sejarah cintanya, tapi juga menyusuri luka-luka sejarah bangsanya.

Perjalanan ini berujung pada sebuah temuan fakta yang menyakitkan.
Baginya rasa sakit itu berkah, karena dari situ ia bisa belajar tentang hakikat pasrah.
Dengan sikap pasrah itulah, ia berhasil mengais satu bentuk kemenangan, bahkan ketika ia terpuruk dalam kekalahan.

Suatu sikap yang membuatnya berhasil menemukan cinta dengan cara yang tak pernah ia duga.

Tidak dapat dipungkiri Film Ziarah sangat “Jawani”, hampir keseluruhan berbahasa Jawa. Penekanan cerita tak lepas dari filosofi Jawa yang dituangkan dengan simbol-simbol yang penuh makna. Perlu mengerutkan kening juga untuk menerjemahkan itu semua.

Film Ziarah ini para pemainnya pun bukanlah bintang yang selama ini kita kenal. Menonton film ini seperti melihat film dokumenter tentang perjalanan seseorang. Tampak nyata dan natural. 
Sepakat apa yang dikatakan kata BW Purwa Negara, sutradara sekaligus penulis naskah film ini, 
"Kalau sinema adalah hidangan, Ziarah bukan piza atau burger. Lebih tepat seperti singkong atau tempe. Kalau film adalah kendaraan, Ziarah bukan Ferrari tetapi sado. Ziarah dibuat dengan segala kesederhanaan, tetapi dengan harapan dapat memberi makna," ujarnya seusai pemutaran Ziarah pada Plaza Indonesia Film Festival beberapa waktu lalu. Kompas.com 
Cukup puas rasanya menonton film Ziarah ini, banyak pelajaran dan pesan moral yang dipetik. Tentang kesetiaan, janji yang tak pernah tertepati, perjuangan yang tanpa lelah, serta bagaimana memaknai hidup itu. Hidup kadang ada di persimpangan antara harapan dan ketidaksesuaian realitas. Berdamai dengan masa lalu apalagi yang pahit memerlukan perjuangan tersendiri untuk menyembuhkan “luka”. Tentunya bagaimana memaknai itu semua dengan bijak disertai kepasrahan kepada Tuhan.

Mungkin inilah mengapa kita dianjurkan berziarah. Kematian adalah sebuah keniscayaan, hanya menunggu waktu pada saatnya. Urip mung mampir ngombe seperti falsafah Jawa yang sering kita dengar. Mengisi perjalanan kehidupan itu yang lebih penting, yaitu setidaknya kita sebisa mungkin dapat memberikan manfaat kepada sesama dan lingkungan sehingga kita bisa bangga pada akhirnya kembali di mana kita berasal. 

Masyarakat Indonesia boleh berbangga dengan salah satu karya anak bangsa yang satu ini. Film Ziarah, film karya BW Purbanegara ini memang menarik perhatian penikmat film hingga memenangi beberapa penghargaan, salah satunya Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016, Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016, Nominasi Penulis Skenario di Festival Film Indonesia 2016, Nominasi Film Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2016 dan Kompetisi Film di Jogja Netpac Asian Film Festival 2016.

Selain itu dalam event ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 yang diselenggarakan di Hotel Pullman, Kuching, Serawak, Malaysia, Sabtu, 6 Mei lalu, 'Ziarah' sendiri berhasil mendapatkan penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award.

    Film Ziarah, mengetengahkan progresi alur cerita sebagai sajian utama. 
BW sendiri selaku sutradara mengaku bahwa ia terinspirasi untuk membuat film ini dari pengalamannya menjadi relawan ketika ia membantu para korbannya.
"Inspirasinya banyak saya dapat dari Tsunami Aceh dulu yang sangat membekas di hati saya. Saat Tsunami Aceh dulu saya bertemu dengan banyak orang yang bisa berdamai dengan itu. Sata juga banyak bertemu dengan orang tua yang bisa bercerita lancar tentang masa lalunya," ungkap BW.

Penghargaan Special Jury Award sendiri didapatkan oleh Mbah Ponco Sutiyem, yang dinilai luar biasa dalam memerankan mbah Sri dalam film 'Ziarah'.
Menanggapi hal ini, Ponco mengungkapkan rasa syukurnya. Ia pun menambahkan akan meminta persetujuan anak-cucunya jika ditawari main film lagi oleh BW.

"Saya merasa senang sekali (mendapatkan penghargaan), kalau ditawari lagi ya saya minta persetujuan anak sama cucu saya dulu," ucapnya sambil tersenyum.

Sebelum perjalanan menuju akhirat, sejatinya memang banyak kejutan yang menunggu di antara sisa-sisa hidup. Tatkala menyimak ziarah ini, saya kembali membayangkan beberapa kebiasaan kakek yang ditinggal pergi nenek. Setiap Jumat, beliau yang telah berkursi roda menyempatkan diri mengunjungi makam, kendati lokasinya terletak di daerah yang agak curam. 

Sungguh, kadang kerinduan itu mewujudkan kekuatan yang ajaib pada manusia. Karenanya, jarak tak terhingga pun bisa tercapai dalam hati yang bertaut. Ziarah bukan hanya sebuah budaya, namun manifestasi kerinduan manusia dalam memahat jalan diantara jalan yang membentang. 

Sabtu, 07 Desember 2019

Refleksi Atambua 39 Derajat Celcius

Ketika sebuah keluarga yang pada mulanya saling mencinta harus terpisah karena kedua orangtua harus memilih, dan pilihan mereka jatuh pada dua sisi yang berbeda, siapa menjadi korbannya?

'Atambua 39 Derajat Celcius' merupakan film terbaru kolaborasi dua sineas Riri Riza (penulis skenario, sutradara) dan Mira Lesmana (produser), yang sebelumnya pernah pula bersinergi dalam 'Eliana, Eliana' (2002), 'Gie' (2005), 'Untuk Rena' (2005), '3 Hari untuk Selamanya' (2007) dan 'Laskar Pelangi' (2008)

Mengambil latar film di Atambua, Nusa Tenggara Timur, guratan kisah yang agak sulit dicerna ini terfokus pada jalan terjal pengungsi di perbatasan, setelah momentum 'pelepasan' Timor Timur (kini Timor Leste) pada 1999. Sebagian mereka yang  memilih untuk tetap membela Indonesia menetap di Atambua. Sayangnya, nasib mereka seringlali  terlunta-lunta tanpa jalan hidup  yang jelas.

Adalah Ronaldo (Petrus Beyleto), seorang bapak yang karena kecintaannya terhadap Merah Putih, memilih untuk meninggalkan istri, seorang anak perempuan dan satu lagi anak yang sedang dikandung istrinya.  Saat perpecahan di Timor Timur terjadi, istri Ronaldo memilih untuk tetap tinggal di Liquica, kampung halamannya di Timor Leste. Ronaldo bersikeras, Timor bagian dari Indonesia, dan harus kembali ke pangkuan Merah Putih. 

Dalam ‘pelarian’-nya ke Atambua itu, Ronaldo mengajak serta Joao, anak lelakinya. Menurutnya, anak lelaki selayaknya meniru sang bapak. Itulah salah satu manifestasi rasa cinta Ronaldo yang tergambar dalam tayangan berdurasi seratus menit ini. 

Namun, apa yang didapat Ronaldo di Atambua? Hidupnya tidak menentu. Demi menyambung nafas, ia melakoni peran sebagai sopir bis serabutan, yang tidak diperhitungkan dan kerap dikucilkan karena sering mabuk dan membuat takut penumpang. mabuk dan judi menjadi pelarian atas kemarahan dan depresi yang mengikutinya, akibat terpisah dari keluarga, lalu mendapati realita yang tak sesuai harapan, hingga kehilangan asa untuk berjuang dalam kehidupan. 

Hubungannya dengan Joao (Gudino Soares) pun tak terlalu dekat. Ronaldo selalu pulang larut malam, dalam keadaan mabuk, dan hanya mendapati Joao yang sedang tertidur. Namun kecintaan Joao terhadap ayahnya begitu nyata meski Ronaldo tak menyadari. Joao setia membersihkan muntahan bapaknya saban pagi. Tak hanya itu, Joao tetap mencari ketika Ronaldo tidak pulang dan ternyata menginap sebagai tahanan di penjara akibat pertengkaran ‘ideologis’ di sebuah klab biliar.

Joao, digambarkan sebagai sosok yang merindu kasih sayang. Tidak banyak ia merasakan kasih sayang sang Ibu meski sentuhan dan bau wangi dada Ibunya terekam alam bawah sadarnya. Rekaman suara ibu dalam sebuah kaset menjadi denyut hidupnya, yang selalu menarik-narik kesadarannya ke masa lalu, masa dalam buaian dan dekapan Ibu. 

Dalam hatinya, Joao memiliki kasih sayang, yang kemudian ingin ia curahkan pada Nikia (Putri Moruk), teman masa lalu yang saat itu menjadi tetangganya. Nikia pun punya kisah sendiri, dimana ia menghilang dari masa lalu Joao untuk pergi ke Kupang. 


        Joao dan Nikia, saling bertukar kebiasaan untuk memahami

Nikia datang ke Atambua untuk berduka atas wafatnya sang Kakek, Mateus. Meski memiliki latar belakang yang pahit dan getir, Nikia bukanlah orang yang mudah menyerah. Ketetapan hati seorang Nikia akan cukup mengundang decak kagum manakala seorang diri ia harus mengangkat batu-batuan untuk menutup makam dan membawa sendiri salib dari besi tempa, sebagai simbol penanda makam sang kakek.

Joao yang biasa menghabiskan waktu menjadi tukang ojek dan bermalasan bersama teman teman remajanya berganti kebiasaan dengan ritual mengikuti Nikia. Sesungguhnya ia tidak terlalu paham mengapa, kalau saya taksir kemungkinan karena perasaan menemukan teman senasib. 

Karena saking Nikia mulai membuka hati pada Joao, sampai suatu hari Joao menunjukkan perasaannya dengan cara yang memaksa. Nikia pergi meninggalkan Atambua. Sementara, Ronaldo berkelahi di sebuah tempat bilyar, hingga ia kemudian ditahan di kantor Polisi. Joao menebus ayahnya keluar dari tahanan, kemudian pergi untuk mencari Nikia. Ronaldo pulang menemukan rumah yang kosong dan menemukan kumpulan surat dalam bentuk kaset kaset rekaman dari Istrinya.[

Pada film yg musiknya digarap dengan menggugah oleh Basri B. Sila ini, relasi antartokoh tercipta dalam tempo yang lambat namun teratur. Alur terasa lambat di awal dan kurang bergairah di area yang genting tersebut, yang ditandai lewat angka 39 derajat Celsius. Menurut sang sutradara, angka itu merupakan suhu tubuh genting manusia saat demam.

Selain kisah keluarga dengan latar belakang politik, film ini menguraikan skema kehidupan sosial yang menarik seperti muda-mudi yang berdansa, kegiatan menenun, hingga sakralnya ritual keagamaan. Penampakan alam eksotik juga dihadirkan dengan natural lewat matahari senja yang jingga, sorot cahaya yang menerobos ranting dan celah langit-langit, dan penampakan ratusan kelelawar di pembukaan film. 

Namun, ada juga beberapa gambar yang tidak jelas maknanya. Misalnya, saat di Kupang, kamera menyorot kantung plastik yang terbang tertiup angin, namun gambar itu tidak membawa ke adegan apapun, tak jelas esensinya. Tapi disinilah memang suspensi sebuah tayangan sedang membumbui mata para penonton. 

Kisah referendum dan perpecahan Timor Timur  2 dekade silam menjadi benang merah film yang keseluruhannya dibawakan dalam bahasa Tetum ini. Pada akhirnya film ini membawa pesan pamungkas akan makna kekeluargaan dan Tanah Air. 

Saat sedang membela sesuatu, apakah sesuatu itu sepadan dengan kehilangan dan kegetiran yang harus diterima? Apakah yang kita bela itu, kembali membela dan ikut memperjuangkan nasib kita? Barangkali itulah pergulatan batin yang memenuhi rongga dada Joao, Nikia, dan Ronaldo di sepanjang film ini. 

Selain konflik yang dialami oleh Ronaldo, yang diperankan dengan sangat baik oleh Petrus Beyleto, konflik lain seakan tenggelam.  Hanya ada sedikit percakapan dengan tetangga mengenai minimnya mata pencaharian di Atambua. Harap maklum juga, jika pada beberapa dialog para tokoh seperti sedang berdeklamasi. 

Dalam film yang telah diputar di Tokyo Internasional Film Festival ini, para pemeran memang pelakon lokal yang memiliki gaya khas sendiri dalam berakting.  Film ini disuguhkan dengan lakon yang seimbang dan natural dari Gudino Soares, Petrus Beyleto dan Putri Moruk. 

Riri Riza pernah mengatakan, para pemeran utama merupakan inspirasi dalam filmnya itu. Beberapa kali, ia mengklaim bahwa anak-anak Timor Leste itu adalah saksi mata yang nyata akan pemisahan tanah air mereka dengan tanah air Indonesia. 

  Film Atambua 39 Derajat Celcius, cukup natural membawakan skema pasca pecahnya Timor Leste dari Indonesia.

"Mereka dulu digendong melewati perbatasan Indonsia menuju Timor Leste, tepat beberapa puluh tahun silam. Perjuangan mereka menjadi inspirasi untuk saya "  (Riri Riza, sutradara Atambua 39 Derajat Celcius)



Gagasan awal tayangan yang berdurasi 90 menit itu terpicu ketika Mira dan Riri tengah menyelesaikan sebuah film dokumenter di kota Atambua, Timor, Nusa Tenggara Timur. Keduanya terkesan dengan keindahan tempat, keramahan penduduk sekaligus prihatin dengan kepedihan yang masih terasa akibat perpecahan politik saat Timor Timur (kini Timor Leste) berpisah dari Indonesia dua puluh tahun silam. 

Sambil menyelam minum air, latar dan situasi NTT membuat keduanya tertantang untuk membuat sebuah film layar lebar yang bercerita tentang kehidupan masyarakat di Atambua. Harapan Mira Lesmana melalui film Atambua 39 derajat Celcius ini, akan menarik lebih banyak simpati dan perhatian untuk wilayah Indonesia bagian timur itu.

Menurut Mira selaku produser, kemiskinan yang tinggi, kurangnya tingkat pendidikan dan trauma yang tersisa setelah perpecahan politik merupakan salah satu permasalahan di kawasan Indonesia bagian timur yang membutuhkan perhatian.

Sekali lagi, Riri berusaha menghadirkan kejujuran dalam filmnya. Kejujuran akan sebuah budaya nasionalisme dan cinta. Sebagian isi film memang berisi romansa cinta, yang terurai dalam banyak bahasa  Cinta kepada lawan jenis, cinta kepada orang tua dan cinta kepada Ibu Pertiwi. Semua terjalin indah sejak awal. Dan kejutan kecil akan kita temukan di akhir film. Kejutan yang akhirnya membuat kita merenung kembali, tentang makna sebuah kemerdekaan dan cinta tanah air.

Bagi saya sendiri, menyaksikan film ini di HOOQ, membuat kembali teringat akan pesan nasionalisme yang pernah digaungkan Henry Manampiring, salah satu aktivis medsos yang punya banyak karya dengan bumbu muatan psikologis ringan: 

Kita boleh saja mencintai tanah air. Hanya saja, bentuknya tak kaku hanya satu arah. Mencintai tanah air selayaknya mewadahi dua arah: kita mencintainya dengan layak, dan tanah air itu membalas cinta kita dengan selayaknya. 

BERAWAL DARI PERAN AYAH, BERTUMPU DARI SIKAP AYAH

 Assalamu alaikum, saudara-saudari.  19 Juli 2024 merupakan hari Jumat isitimewa kala saya memperdengarkan suatu tema mencengangkan Ceramah ...